Rabu, 05 September 2018

Bantuan air bersih untuk warga Grobogan yang dilanda kekeringan

Bopo Trubus (memegang selang) memimpin langsung
bakti sosial
Sejumlah warga beberapa desa di kecamatan Geyer dan kecamatan Toroh terlihat sumringah siang itu, Selasa Pahing (4/9). Wajah berseri-seri tampak diraut mereka yang dalam beberapa hari terakhir mengalami kekeringan. Kali ini mereka mendapatkan bantuan air bersih sebanyak 5 tangki mobil ditempat yang berbeda-beda.

Bantuan air bersih ini merupakan bentuk empati dari Perguruan Trijaya Daerah Purwodadi yang mengetahui adanya kekurangan air bersih di wilayah kabupaten Grobogan bagian selatan, tepatnya di kecamatan Geyer dan Toroh.

Ketua Daerah Purwodadi, PAC. Ang. KRT. Trubus Eko S, S.TP menjelaskan bahwa kegiatan ini bermaksud untuk membantu warga yang mengalami kekeringan. Bakti sosial ini juga didasari rasa solidaritas sesama warga Grobogan. "Hidup Adalah Pengabdian" merupakan slogan yang terdapat dalam lambang Perguruan Trijaya ini juga selalu menginspirasi bahwa keberadaan Perguruan Trijaya hendaknya bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tambah Bopo Trubus, panggilan akrab ketua Daerah Purwodadi ini.

Bantuan air tersebar di 5 titik berbeda, diantaranya di dusun Geyer sendiri, dusun Ngasem desa Monggot, dusun Bantarangin dan dusun Kalisongo yang terletak di desa Geyer kecamatan Geyer. Kemudian untuk 1 titik lagi di dusun Ngemplak desa Sindurejo, kecamatan Toroh.

Selasa, 04 September 2018

Caosan Minggu Kliwon, bukti rasa cinta kepada Orang Tua

Bertempat di rumah PAC. Sri Maryono, Kradenan, Grobogan, Sabtu Wage (1/9) digelar upacara ritual Coasan Minggu Kliwon. Caosan atau selamatan yang merupakan agenda rutin di Perguruan Trijaya kali ini dilaksanakan oleh Daerah Purwodadi.

Caosan ini merupakan kali ke 3(tiga) setelah Daerah Jakarta dan Daerah Semarang. Sebelumnya Caosan Minggu Kliwon dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal, kemudian pada sekitar pertengahan tahun ini, tempat pelaksanaan diganti yaitu di seluruh daerah yang ada di Perguruan Trijaya secara bergantian.

"Keikutsertaan para Putera dalam Caosan Minggu Kliwon ini sebagai bukti rasa katresnan (cinta kasih) kita kepada sang Orang Tua" jelas Romo Guru KRA Suryaningrat II saat memberikan pembinaan di pembukaan Caosan.

Minggu Kliwon sendiri merupakan wiyosan (hari lahir) Pembina Perguruan Trijaya yang pertama yaitu Romo Guru KPA EK Giripati Suryaningrat.

Selasa, 10 Juli 2018

PAC, Tulang Punggung Perguruan

Minggu Wage, 8 Juli 2018, Sebanyak 11 Putera (sebutan murid dalam Perguruan Trijaya), telah melaksanakan Caosan sukuran PAC yang dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal.

Ke 11 Putera (Pt) tersebut antara lain Pt. Niko, Pt. Topik, Pt. Sartono, Pt. Ratmi, Pt. Ratih, Pt. Nia, Pt. Lestari, Pt. Yuliani, Pt. Sapar, Pt. Dedi, dan Pt. Risang.

Sudah menjadi kewajiban di Perguruan Trijaya bahwa Setiap Putera yang telah mencapai Arkat Tamat (11), maka dalam kurun waktu 70 hari terhitung sejak Arkat Tamat tersebut, diwajibkan untuk melaksanakan sukuran dalam bentuk Caosan dan mereka berhak menyandang gelar PAC (Putera Arkat Chatam).

Gelar PAC ini merupakan tingkat keilmuan yang menandakan bahwa mereka telah selesai melampaui tingkatan arkat, yaitu dari PAK (Putera Arkat Kasar), PAH (Putera Arkat Halus), PAB (Putera Arkat Batin), hingga PAT (Putera Arkat Tamat). Dalam memakai PSL (Pakaian Seragam Latihan) pun mereka tidak memakai Sabuk Biru lagi, melainkan sudah berhak memakai Sabuk Biru Kuning (warna dasar biru, ditengahnya ada warna kuning).

Dalam tingkat keilmuan yang baru ini, merekapun terikat dengan menjalankan tugas dan kewajiban baru, yang sebelumnya tidak ada dalam tingkat arkat. Selain menjadi tulang punggung Perguruan,  PAC juga diharuskan melaksanakan beberapa kewajiban, diantaranya adalah kunjungan wajib ke Padepokan.

"Untuk saat ini terdapat 3 padepokan yang wajib dikunjungi oleh PAC, yaitu Padepokan Argasonya (Kota Tegal), Padepokan Wulan Tumanggal (Kab. Tegal) dan Padepokan Nusa Indah (Bekasi)", jelas Romo Guru KRA Suryanigrat II, Pembina Perguruan Trijaya saat sesi pembekalan PAC selepas penutupan Caosan, Minggu pagi (8/7).

Ditambahkan Romo Guru, PAC boleh melaksanakan kunjungan wajib di salah satu Padepokan tersebut, tetapi untuk prioritas utama adalah Padepokan Argasonya, yang merupakan Padepokan awal berdirinya Perguruan Trijaya. Beliau juga menambahkan bahwa setiap kunjungan wajib tersebut, diharuskan bisa bertemu dengan Romo Guru.

"Dengan ditunjang kemajuan teknologi komunikasi saat ini, setiap Putera yang akan melaksanakan kunjungan wajib harus mengetahui dimana Romo Guru berada". tambah Romo Guru.

Sabtu, 02 Juni 2018

Sang Merah Putih untuk Parangtritis

Tim Paskibra Keimanan saat menurunkan bendera
merah putih yang telah rusak dan usang
Jumat Pahing (1/6), Sekelompok pemuda dari Perguruan Trijaya mendatangi Posko SAR yang ada di Pantai Parangtritis. Mereka sambil membawa sebuah bendera marah putih untuk diberikan kepada Posko SAR Kabupaten Bantul DIY.

Bendera tersebut sebelumnya dipakai oleh keluarga besar Perguruan Trijaya pada Upacara Bendera dalam rangka peringatan Hari Pancasila di Parangtritis, pagi itu. Setelah usai upacara, satu dari Pengurus KEIMANAN (Kelompok Inteltual Muda Anak Alam Nusantara) Perguruan Trijaya, Pt. Risang mengusulkan untuk memberikan bendera merah putih yang dipakai dalam upacara bendera itu, kepada Posko SAR yang terlihat dari lapangan tempat lokasi upacara.

Bendera itu sudah usang bahkan dibagian pinggir terlihat rusak dan warnanyapun sudah pudar, kita berikan bendera kita agar bermanfaat untuk mereka dan masyarakat sekitar sini, jelas Risang.

Upacara peringatan Hari Pancasila ini merupakan sebuah rangkaian kegiatan besar yaitu Nderek Lampah Satuhu Risang Guru, yaitu perjalanan spiritual yang telah dilaksanakan sejak tanggal 25 Mei 2018. Parantritis adalah tujuan terkahir sebelum finish di Padepokan Wulan Tumanggal. Sebelumnya Nderek Lampah ini telah mengunjungi beberapa lokasi diantaranya, Cemara Kandang (Tawangmangu), Bromo, Bali (Singaraja, Kintamani, Denpasar, Tanah Lot), dan Balekambang (Malang).