Minggu, 23 Agustus 2020

Sujudan Ageng warnai peringatan 75 Tahun Indonesia Merdeka

Dalam rangka peringatan 75 tahun Indinesia Merdeka, Perguruan Trijaya mengadakan Sujudan Ageng. Sujudan ini menjadi ritual khusus sebagai doa bersama atas pandemi yang menimpa bangsa ini dan masyarakat dunia pada umumnya.

Sujudan Ageng ini dilaksanakan di Sanggar Pamujan, Padepokan Wulan Tumanggal, pada malam Selasa Legi tanggal 17 Agustus 2020.

Prosesi ritual ini dimulai dengan kirab pusaka dan ubo rampe yang dimulai dari Sasana Gatotkaca Lokaji Parangtumaritis, kemudian berjalan menuju sanggar pamujan yang berjarak sekitar 500 meter.

Sujudan Ageng mulai masuk acara inti jam 00 dan dipimpin langsung Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KP Suryaningrat II yang diikuti sekitar 200 Putera (anggota) dan simpatisan.

Usai sujudan, dilanjutkan dengan makan malam dengan menu ubo rampe sujudan yang dicampur dalam takir, yaitu wadah yang terbuat dari daun pisang. Takir ini dibagi rata untuk semua peserta sujudan.     

 

Olimpiade Gunung ramaikan HUT Kemerdekaan Indonesia ke 75

Dalam rangka memperingati HUT ke 75 Kemerdekaan Indonesia, Perguruan Trijaya kembali mengadakan serangkaian kegiatan salah satunya lomba permainan tradisional yang dikemas dalam sebuah event yang bernama Olimpiade Gunung.

Karena masih dalam masa pandemi Covid-19, Olimpiade Gunung ini dilaksanakan secara outdoor di sebuah lapangan yang bernama Lokaji Parangtumaritis, masih didalam area Padepokan Wulan Tumanggal, Bojong, Kabupaten Tegal.

Beberapa cabang yang dilombakan antaralain Grobak Sodor, Bentengan, Congklak/Dakon, Egrang Bambu, dan Egrang Batok.

"Ini sebuah kerinduan kami akan permainan tradisional, disini sangat terlihat originalitas para peserta, baik dari emosi, semangat, canda tawa, kerjasama dan olahraga", jelas ketua panitia PAC. Doni KP, AAN.

 

 
 





Minggu, 26 Juli 2020

Kunjungan Ketua FKUB Jateng di Penghayat Perguruan Trijaya

Kamis Kliwon (23/7), Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, KH. Drs. Taslim Syahlan, M.Si, melakukan kunjungan ke Padepokan Wulan Tumanggal, Desa Dukuhtengah, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal milik Perguruan Trijaya, yang merupakan salah satu organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berpusat di Tegal.

Kunjungan yang bertajuk Silaturahim Kebangsaan tersebut merupakan kunjungan ke 3 (tiga) dalam satu hari itu, setelah sebelumnya  rombongan Ketua FKUB ini mengunjungi KH. Mustamsikin di Kaliwungu Kendal dan FKUB Kabupaten Kendal, kemudian di Slawi rombongan berkunjung di kantor Kemenag Kabupaten Tegal bersama FKUB Kabupaten Tegal.

Kedatangan Ketua FKUB Jawa Tengah dan rombongan ini diterima langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru Kanjeng Pangeran Suryaningrat II. Selain Ketua FKUB, ikut serta dalam rombongan yaitu Setyawan Budy selaku Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Maulana Saefullah A. Faruq selaku mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia Cabang Semarang, Anton Baskoro dari Humanity First (HF) Indonesia, Nuhab Mujtaba dari GUSDURian Peduli, Iqbal Alma GA selaku Koordinator GUSDURian UNNES dan Bambang Permadi yang juga merupakan Putera Perguruan Trijaya.

Kedatangan rombongan ini bertepatan dengan ritual Supit (Sujudan Kecepit) yang dilaksanakan setiap malam Jumat Legi di Perguruan Trijaya. Dalam acara pengantar Supit, Romo Guru menyampaikan selamat datang dan ucapan terimakasih atas kunjungan ketua FKUB Jawa Tengah dan para tokoh lintas agama yang datang langsung dari Semarang.

Dalam acara tersebut, Romo Guru juga memberikan kesempatan kepada KH. Taslim Syahlan untuk memberikan sambutan kepada para Putera dan Simpatisan Perguruan Trijaya yang hadir malam itu untuk mengikuti sujudan malam Jumat Legi tersebut.

Ada 2 (dua) hal penting yang disampaikan Ketua FKUB Jateng tersebut. Diantaranya adalah pesan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, agar pelaksanaan ibadah bersama ditempat ibadah baik agama maupun kepercayaan untuk selalu memperhatikan protokol kesehatan.

Dan yang kedua, Penghayat Kepercayaan kedepan akan dilibatkan dalam acara-acara FKUB atau kegiatan-kegiatan lintas agama lainnya. "Mengacu pada aturan, memang Penghayat Kepercayaan belum bisa masuk menjadi pengurus dalam FKUB, tetapi dalam hal berkegiatan, mereka harus kita rangkul, bersama-sama di semua acara atau kegiatan lintas agama dan kepercayaan" tegas KH. Taslim Syahlan.

"Seperti akhir Mei kemarin, saat pandemi Covid19 stok darah di PMI menipis, kami serentak melaksanakan aksi kemanusiaan berupa Donor Darah Lintas Agama dan Kepercayaan, dan kami ajak penghayat untuk ikut terlibat, dan saat itu 3 (tiga) organisasi perwakilan penghayat ikut bergabung yaitu Perguruan Trijaya, Sapta Darma dan Puanhayati", lanjut dosen Unwahas ini yang biasa dipanggil dengan Mbah Sunan Ngaliyan.

Dengan pernyataan tersebut, menegaskan bahwa peran penghayat kepercayaan menjadi unsur penting dalam melengkapi kebersamaan dengan pemeluk agama lainnya, bersama-sama membina kerukunan, menciptakan suasana damai dan toleran agar nilai persatuan dalam berbangsa serta bernegara selalu tercipta, untuk Indonesia yang lebih maju dan untuk keutuhan NKRI.

Setelah mengikuti sujudan di sanggar pamujan selama 1 jam mulai jam 2 pagi, rombongan melanjutkan obrolan santai sambil ngopi di Pondok Kopi Sasaling yang ada di Padepokan Wulan Tumanggal hingga fajar tiba.

Setelah beberapa waktu istirahat, Jumat siang rombongan bertolak pulang ke Semarang dan sebelumnya berfoto bersama Romo Guru dan Pengurus Pusat Perguruan Trijaya di depan Suryaningratan, Padepokan Wulan Tumanggal. (BP) 
 

Minggu, 12 Juli 2020

Perguruan Trijaya Gelar Wisuda Abdi Dalem dan Sentono Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat

Untuk ke 2 (dua) kalinya Padepokan Wulan Tumanggal menjadi lokasi wisuda abdi dalem dan sentono dalem Keraton Surakarta Hadiningrat di wilayah Kabupaten Tegal, Wewengkon Wulan Tumanggal.

Minggu Wage (12/7), sebanyak 69 orang keluarga besar Perguruan Trijaya mendapatkan kekancingan / anugerah wisuda abdi dalem dan sentono dalem Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dari 69, sebanyak 41 orang yang mendapatkan anugerah baru, mulai dari RT (Raden Tumenggung) dan KRT (Kanjeng Raden Tumenggung). Sedangkan 27 orang mendapatkan kenaikkan pangkat, dari KRT menjadi KRAT (untuk laki-laki) dan dari KMT menjadi  . Satu sentono dalem dinobatkan khusus kepada Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA Panji Suryaningrat II dengan gelar Kanjeng Pangeran.

Kekancingan Sentono Dalem untuk Romo Guru diberikan langsung Kanjeng Gusti Ratu (istri permaisuri SISKS Pakoe Boewono XIII) yang datang di Padepokan Wulan Tumanggal pada hari Sabtu (11/7) bersama KP Widodo dan rombongan.


Sabtu, 27 Juni 2020

3 Tokoh Lintas Agama Semarang kunjungi Padepokan Wulan Tumanggal

3 (tiga) tokoh lintas agama kota Semarang, pada hari Kamis Kliwon (18/6) kemarin berkunjung di Padepokan Wulan Tumanggal, Desa Duikuhtengah, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

Ketiga tokoh tersebut diantaranya KH. Abdul Qodir (Pengasuh Ponpes Roudhotus Sholihin Demak), Dammateja Wahyudi (Ketua Budha Teravadha Semarang) dan Setyawan Budy (Koordinator Pelita Semarang).

Rombongan berangkat dari Semarang hari itu juga, Kamis pukul 14.00 yang didampingi oleh Bambang Permadi, anggota Pelita dari unsur penghayat kepercayaan yang juga merupakan putera/anggota dari organisasi kepercayan Perguruan Trijaya.

Kedatangan rombongan disambut oleh Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya PW. Ang. K Teja Sulaksana dan salah satu Pengurus Pusat, PW. Ang. Joko Sugianto. Selanjutnya mereka bertiga dijamu makan malam dengan menu utama sate kambing, kuliner tradisional khas di Perguruan Trijaya yang diyakini mampu mengobati berbagai penyakit.

Selanjutnya rombongan tokoh agama ini diterima oleh Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA Panji Suryaningrat II dalam sebuah ramah tamah kecil di Ruang Anggrek, Suryaningratan.

Setelah itu mereka bergabung dengan para putera/anggota Perguruan Trijaya di sebuah sasana yaitu Pamiwahan Putera untuk melaksanakan Pengantar Supit.

Kedatangan para tokoh agama ini bersamaan dengan ritual rutin Perguruan Trijaya yang dilaksanakan setiap malam Jumat Legi, yaitu Supit. Supit adalah singkatan dari Sujudan Kecepit. Suatu ritus doa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilaksanakan diantara 2 (dua) malam sujudan wajib yaitu malam Kamis Kliwon dan Sabtu Pahing, tepatnya dimalam Jumat Legi tersebut.

Dalam sambutannya, Romo Guru menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tokoh agama dari komunitas Pelita ini untuk ikut doa bersama dalam acara Supit yang diadakan setiap selapan sekali ini.

"Kehadiran beliau bertiga melengkapi sujudan kita sebagai unsur diluar anggota Perguruan Trijaya pada permohonan kita dimalam Supit ini", lanjut Romo Guru.

Setyawan Budy selaku koordinator Pelita menyampaikan bahwa ini merupakan kunjungan luar kota  pertama kali oleh Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) sejak pandemi Covid-19 diberlakukan.

"Kami merasa senang bisa berkesempatan mengikuti prosesi Supit ini, sebagai salah satu ritus rutin di organisasi penghayat kepercayaan Perguruan Trijaya", jelas Wawan panggilan akrab koordinator Pelita ini.

Setelah mengikuti sarasehan kecil dengan beberapa pengurus Perguruan Trijaya, tepat pukul 02.00 ketiga tokoh ini mengikuti  sujudan/doa bersama di sebuah lokasi berdoa yang dinamakan dengan Sanggar Pamujan yang berjarak sekitar 300 meter menuju keatas dari Sasana Pamiwahan Putera.


Sujudan yang dilaksanakan sekitar 30 menit dengan suasana sepi dan dingin membuat perut terasa lapar, setelah selesai sujudan rombongan turun ke sebuah Pondok Kopi Sasaling masih di area Padepokan Wulan Tumanggal untuk menikmati Mie rebus dan kopi panas. Obrolan pun berlangsung hingga terbitnya matahari.

Setelah beristirahat sekitar 2 jam, tepatnya pukul 9 pagi rombongan diminta untuk makan pagi dan dilanjutkan dengan jalan-jalan berkeliling Padepokan Wulan Tumanggal yang mempunyai luas sekitar 3 hektar ini, sambil menikmati udara segar pagi hari Gunung Slamet.

Mereka mengunjungi beberapa sasana/tempat seperti Sasana Nunggalati (tempat sujudan/beribadah), Baita Dutaning Bangsa (replika perahu), Tugu Jiwa Nusantara, Tugu Batu, dan Sanggar Pamujan.

Selain itu, mereka juga mengunjungi pesarean (makam) Pendiri sekaligus Pembina pertama Perguruan Trijaya, Romo Guru KPA EK Giripati Suryaningrat yang dikebumikan di area pemakaman khusus penghayat Perguruan Trijaya dengan nama Astanalaya Kasidanjati.
 
"Kami merasa gembira bisa menikmati suasana padepokan yang asri, sejuk dan damai ini, yang secara geografis sengat strategis berada ditempat dingin yaitu di kaki Gunung Slamet." jelas Dammateja Wahyudi, atau biasa dipanggil dengan Romo Wahyudi.


"Semoga dengan kunjungan kami yang tak direncakan jauh hari ini, bisa menjadikan awal, situasi ini menjadi lebih baik, serta pandemi ini bisa segera sirna dari muka bumi", tukas KH. Abdul Qodir. (BP)





 






Rabu, 10 Juni 2020

Perguruan Trijaya berbagi APD untuk masyarakat Dukuhtengah

Sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona diwilayah Kabupaten Tegal, khususnya disekitar Padepokan Wulan Tumanggal, Perguruan Trijaya tergerak untuk ikut serta dalam upaya tersebut dengan memberikan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) kepada Satuan Gugus Tugas Desa Dukuhtengah, Kecamatan Bojong, Kab. Tegal.

Penyerahan APD tersebut dilakukan di Balai Desa Dukuhtengah, Minggu (7/6) oleh Setyoning Ayu Anindita, selaku Bendahara Keimanan (Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara) dan didampingi anggota Keimanan lainnya, Fian, Krisna dan Radit sebagai perwakilan AAN (Anak Alam Nusantara) yang merupakan cikal bakal Keimanan. Keimanan sendiri merupakan wadah para pemuda di Perguruan Trijaya.

APD tersebut terdiri atas 5 pasang sepatu boot, 5 coverall, 5 face shield, 55 masker kain, 1 box sarung tangan, 2 goggles (kacamata) dan 2 botol skin antiseptic. Sumbangan tersebut diterima langsung oleh Kepala Desa Dukuhtengah, Waristo didampingi pamong desa.

Aksi ini adalah tindak lanjut dari diskusi bersama antara Keimanan dan Pemuda Desa Dukuhtengah yang digelar pada 1 Juni 2020 saat peringatan Hari Pancasila 2020 di Padepokan Wulan Tumanggal. Diskusi ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Dukuhtengah dan Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya, PW. Ang. KRT. K . Teja Sulaksana.

"Diharapkan dengan APD ini bisa membantu perangkat desa khususnya gugus tugas dalam menjalankan tugasnya untuk mencegah masuknya Covid19 di wilayah desa Dukuhtengah" ujar Anin, panggilan akrab Bendahara Keimanan tersebut. (BP).