Minggu, 13 November 2016

TAKJUB, SEBUAH PERAHU DI KAKI GUNUNG SLAMET

Sebuah perahu cantik bertengger di sebuah pesarean, yang berada di kaki Gunung Slamet. Tepatnya di sebuah astanalaya yang bernama Kasidanjati. Astanalaya ini merupakan persinggahan terakhir RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat, pendiri sekaligus pembina pertama Perguruan Trijaya.

Perahu tersebut merupakan sebuah replika dari perahu yang bernama Baita Dutaning Bangsa. Sedangkan perahu aslinya berada di depan Sasana Nunggalati (nama sanggar pasujudan) di area Padepokan Wulan Tumanggal. Baita tersebut sengaja dibuat sebagai unsur pokok pada konsep dekorasi panggung astanalaya pada kegiatan "Peringatan 3 tahun RGKPA kondur ing ngarsa Gusti Ingkang Maha Agung".

"Perahu ini dibuat dengan bahan dasar 100 persen dari bambu dan kami kerjakan selama 5 hari, menjelang peringatan 3 tahun RGKPA" jelas Wisnu, desainer Baita dan juga konseptor acara.

Acara ini berlangsung meriah bercampur sakral. Hampir setiap malam di Padepokan Wulan Tumanggal turun hujan, namun malam itu, malam Minggu Pahing (13/11) cuaca langit sangat cerah. Astanalaya Kasidanjati pun yang disulap menjadi sebuah panggung spektakuler yang mempesona tanpa adanya genangan air.

Sebelum acara dimulai, para Putera dan tamu undangan dipersilakan untuk makan malam di Sasana Kembul Bojana (SKB) dan Pamiwahan Putera. Menu makan malam ini merupakan beberapa kuliner kareman (kesukaan) RGKPA. Setelah makan malam para tamu undangan diarahkan untuk naik menuju lokasi acara, yaitu di Astanalaya Kasidan Jati yang berjarak sekitar 300 meter.

Perjalanan menuju Kasidanjati, terdapat sebuah lorong bambu dengan panjang 30 meter. Suasana temaram  oleh pencahayaan sentir (lampu minyak tanah dalam bahasa jawa) menambah pesona tersendiri di area yang digunakan sebagai galeri foto RGKPA itu.
 
Acara dimulai pukul 8 malam yang diawali dengan doa bersama, dan tari Gatotkaca, dilanjutkan sambutan Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya  KRT. PW. Ang. K. Teja Sulaksana. Kemudian dilanjutkan dengan penayangan kaleidoskop sekilas perjalanan RGKPA dan dilanjutkan sambutan Pembina Perguruan Trijaya RG. KRA Suryaningrat II (Romo Panji).

Selepas sambutan Pembina Perguruan Trijaya, suara merdu Nini Kartika mengantarkan para hadirin pada kemegahan sang Baita. Mengingatkan betapa anggunnya perahu nusantara berayun-ayun di tengah samudera. Makna sebuah perahu yang menjadi sarana pemersatu bangsa dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat se-nusantara, tersirat dalam bait lagu berjudul Perahu Laju tersebut.

Setelah itu baru dilanjutkan dengan beberapa atraksi budaya. Diantaranya pembacaan puisi oleh adik Anti AAN, menyanyikan lagu Mars AAN (Anak Alam Nusantara), penampilan Tari Perantara 3 generasi, dan Tari Kalang 3 generasi. Semua karya seni budaya tersebut merupakan hasil cipta RGKPA.

Setelah penampilan beberapa karya RGKPA, dilanjutkan dengan atraksi seni budaya lainnya yang melengkapi sajian malam persembahan untuk RGKPA. Ada pertunjukkan seni pencak silat dari Ciparay, tari kreasi dari Lokra Bandung pimpinan kang Gatot Gunawan dan tari tradisi jawa oleh Eny Haryanti dari Dinbudpar Jawa Tengah.

Tari garapan dengan judul Sampurnaning Loko Boko, Manunggal Kang Maha Kuasa itu dibawakan apik oleh seorang penari senior yang telah lama tidak membawakan sebuah tari tradisi. Hal ini dikarenakan aktivitas beliau yang padat dalam mengemban tugas sebagai pejabat struktural di Pemprov Jateng di bidang kebudayaan. Mungkin hanya di Kasidanjati ini bisa menyaksikan beliau menari dengan penuh totalitas dan profesionalisme yang tinggi. "Hanya ini yang bisa saya persembahkan untuk beliau, RGKPA" tutur Eny Haryanti.

Acara selesai pukul  23.30, beberapa tamu undangan pun segera berpamitan pulang. Namun beberapa masih berada di lokasi untuk mengikuti acara tambahan yaitu doa penghormatan dan persembahan untuk RGKPA. Tepat pukul 12 malam, ritual ini pun dimulai. Bertempat di pesarean RGKPA ritual ini dipimpin langsung oleh Romo Panji, diikuti semua Putera, simpatisan dan tamu undangan yang masih bertahan.

Mulai saat inilah rintik hujan mulai turun. membungkus sebuah persembahan untuk RGKPA. Berkah Gusti Ingkang Maha Agung.












 


















Minggu, 02 Oktober 2016

SETIA, PATUH DAN RELA, MAKNA HARI RAYA SURA DI TAHUN KENCANA

Hari Raya Sura (HRS), merupakan moment penting untuk masyarakat jawa pada umumnya, dan secara khusus bagi keluarga besar Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal. Hari Raya Sura menjadi upacara adat dan tradisi dimana memiliki makna spiritual yang tinggi dalam setiap pribadi dan jiwa manusia jawa.

Di tahun kencana Perguruan Trijaya, HRS kali ini mempunyai makna tersendiri dibandingkan dengan HRS sebelumnya. Slogan SEPALA (Setia, Patuh dan Rela) menjadi penekanan khusus dalam upaya meningkatkan karakter mental spiritual bagi para putera dan simpatisan Perguruan Trijaya.

"Semua yang dilakukan dengan rela, lila leganing manah, tidak ada sesuatu yang menjadi soal, artinya semua soal dapat diselesaikan dengan baik dan selamat", jelas Romo Guru KRA Suryaningrat II, pembina Perguruan Trijaya dalam acara pengantar Caosan Hari Raya Sura.

Peringatan dan Perayaan Hari Raya Sura 1950 Jawa ini dilaksanakan selama tiga hari. Dimulai sejak hari Jumat Pon (29/9) hingga Minggu Kliwon (2/10). Hari pertama diisi dengan mandi curug dan sujudan, yang menjadi rangkaian awal sebagai syarat para putera (murid perguruan) maupun simpatisan untuk mengikuti ritual HRS ini.

Pada hari yang sama diilakukan juga penyerahan tumpeng HRS kepada Pemda Kabupaten Tegal. Tumpeng ini diserahkan oleh perwakilan panitia HRS Perguruan Trijaya PAC.Ang. Suparmin kepada Wakil Bupati Tegal, Dra. Umi Azizah yang disaksikan Asisten Administrasi Pemerintahan Drs. Hasan Munawar, MM beserta seluruh staf di kantor Pemkab Tegal.

Malam harinya, digelar hiburan masyarakat berupa panggung orkes musik melayu. Lokasi panggung hiburan berada di parkir timur Padepokan Wulan Tumanggal. Keesokan harinya, Sabtu Wage (1/10) masih diisi dengan mandi curug untuk hari yang ke 2 dan dilanjutkan dengan acara sate pengobatan. 

Sate pengobatan ini juga sekaligus sebagai makan siang. kemudian dilanjutkan dengan persiapan Grebeg Sura. Ada beberapa sayuran dan hasil bumi lainnya yang dikemas dalam sebuah gunungan untuk digrebeg. Juga ada rajakaya yang berupa 2 ekor sapi dan beberapa hewan unggas lainnya.

Grebeg Sura 1950 Jawa ini diberangkatkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, yang diwakili oleh Kasi Nilai Budaya Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd. dan disaksikan oleh Pembina serta Pengurus Pusat Perguruan Trijaya. Dalam beberapa menit setelah dilepas, iringan grebeg ini pun disambut dengan hujan yang berlangsung tak kurang dari 5 menit. Turunnya hujan ini tak menyurutkan semangat peserta grebeg, baik dari balita, anak-anak, hingga usia lanjut. Mereka tetap terus melangkah sambil menikmati kabut dan sejuknya udara di lereng gunung Slamet itu.

Usai digrebeg, gunungan hasil bumi dan rajakaya pun diperebutkan oleh semua peserta. Rebut gunungan pun berlangsung seru namun tetap aman tanpa ada yang cidera sedikitpun. Setelah itu dilanjutkan dengan pertunjukan tari kalang yang diperagakan oleh para AAN (Anak Alam Nusantara). Setelah menampilkan tari kalang mereka pun di ampal oleh para putera.

Kemudian para AAN diminta untuk mundur, dilanjutkan dengan mengampal Romo Guru. Setelah itu berlanjut dengan ampal-ampalan oleh para putera. Ampal-ampalan ini merupakan salah satu bentuk olah kanuragan di Perguruan Trijaya dimana telah menjadi tradisi untuk dipertunjukkan dipenghujung Grebeg Sura.

Malam hari, setelah pengantar caosan oleh Pembina Perguruan Trijaya, dilaksanakan rangkaian acara berikutnya yaitu rebut tumpeng. Ada sebanyak 9 tumpeng di 4 lokasi di Padepokan Wulan Tumanggal yang diperebutkan oleh ratusan ibu - ibu dan remaja perempuan. Hasil rebut tumpeng itu langsung bisa dinikmati sebagai makan malam bersama keluarga masing-masing di ruang terbuka, sambil menikmati pesta kembang api.
Setelah makan malam, dilanjut dengan sarasehan sampai dengan pukul 23.00. Setelah itu dilanjutkan dengan sujudan dan persiapan siraman. Tepat pukul 01.00 Minggu Kliwon, ritual siraman pun dimulai. Siraman didahulukan untuk ibu-ibu dan anak perempuan, baru kemudian dilanjutkan dengan antrian bapak-bapak dan anak laki-laki. Setelah selesai semua, secara berurutan dilanjutkan dengan air pengobatan dan air kendaraan.

Acara dilanjut dengan arkatan. Sebanyak 22 CP (Calon Putera) yang akan di arkat oleh Romo Guru, Pembina Perguruan Trijaya. Sebelum arkatan dimulai, Romo Guru memanggil semua orang tua CP untuk diberi pembekalan dan pesan-pesan khusus, karena semua CP rata-rata masih berusia anak-anak. CP terkecil berusia 7 tahun, yaitu Pt. Bangkit dari Mranggen (Daerah Semarang).

Setelah proses arkatan selesai, dilakukan uji/test kemampuan. Testing kemampuan ini dengan cara di-ampal oleh para seniornya. Meskipun telah memiliki kemampuan usai di-arkat, mereka pun masih anak-anak dan wajar jika perasaan takut masih terlihat diantara mereka. Namun perasaan takut itu pun tak berlangsung lama. Mereka terlihat makin percaya diri setelah beberapa menit melalui proses testing tersebut. Nyali mereka pun makin terbentuk. Dengan semangat tinggi melatih kepekaan untuk merasakan semua gerakan disetiap jurus yang mereka kuasai, sehingga kemampuan dalam olah kanuraganpun bisa mereka capai.