Senin, 08 Februari 2016

APEL PUTERA TEGAL, WARNAI ULANG TAHUN EMAS PERGURUAN TRIJAYA

MENGHARUKAN DAN MEMBANGGAKAN,16 ANAK ALAM NUSANTARA TUNJUKKAN KEMAMPUANNYA

Gesit, tangkas dan penuh kekuatan. Begitu yang tampak dari 16 penari Kalang cilik yang tampil semalam. Gerak tari yang sarat dengan nilai - nilai spiritual dan nasionalisme ini merupakan gabungan tiga elemen pokok yaitu olah raga, olah rasa dan olah jiwa. Dikemas dalam sebuah rangkaian gerak indah yang seirama dan selaras dengan iringan kendang pencak. Arah gerakan dan pandangan mereka pun menyempurnakan tarian spritual ini.

Tari Kalang yang biasanya ditampilkan oleh orang dewasa kali ini diperagakan oleh anak - anak usia SD-SMP yang tergabung dalam AAN (Anak Alam Nusantara) Perguruan Trijaya. Anti, anak usia 7 tahun pasangan Pt. Tarlas dan Pt. Yuliani yang berasal dari Jakarta ini merupakan penari kalang terkecil. Tak sedikit beberapa penonton pun tampak berkaca-kaca matannya, menangis terharu. Apalagi orang tua mereka yang menyaksikan tampilan anaknya menarikan Tari kalang ini. Kebanyakan mereka banyak disibukkan dengan persiapan kegiatan dan tidak menyangka anak-anak mereka berlatih tari kalang ini untuk ditampilkan diatas sebuah panggung spektakuler serta mampu menampilkannya dengan kelengkapan unsur, baik gerakan, hentakan, dan penjiwaan yang mampu munculkan kekuatan dalam sebuah Tari Kalang.

"Untuk bisa Tari Kalang kami belajar bertahun - tahun, bahkan untuk melengkapi semua unsur didalamnya sehingga mampu memunculkan kekuatan dan kemampuan spiritualnya pun tidaklah mudah" ungkap Pt. Wisnu, biasa dipanggil Nunu yang merupakan Penari sekaligus Pelatih Tari Kalang untuk para AAN tersebut. Mereka belajar pertama kali pada saat Pelatihan AAN yang diadakan akhir Desember Tahun lalu, dan dipoles terakhir beberapa jam sebelum mereka tampil, dan hasilnya semua Putera dan penonton yang mampu mengampal pasti mengetahuinya, sungguh meraka membanggakan, tambahnya.   

Tari Kalang khas Perguruan Trijaya yang merupakan karya RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat (Pendiri dan Pembina Pertama Perguruan Trijaya) ini dipertunjukkan pada malam resepsi Ulang Tahun Emas Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal, yang diadakan semalam (7/2) di Padepokan Wulan Tumanggal.

Acara ini dihadiri oleh Dra.Atik Surniati,Si,MSc dari Badan Kesbangpolinmas Jawa Tengah, dimana membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah yang berhalangan hadir, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd, Kasrem 071 Wijayakusuma Letkol Inf Jefson Marisano, S.SIP, Kepala Kesbangpolinmas Kabupaten Tegal Agus Sunarjo, BA, Kasdim 0712/Tegal Mayor Inf Yuli Setiyono S.Pd, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Dra. Suspriyanti, MM, Camat Bojong, dan Kepala Desa Dukuhtengah.


Kemeriahan panggung pentas seni budaya di Gedung Serba Guna "SAMORA" Padepokan Wulan Tumanggal ini terasa lengkap dengan beberapa tampilan seni budaya. Diantaranya Tari Gatotkaca, Tari Endel yang merupakan tarian khas asal Kabupeten Tegal, Tari Jaipong dari Sanggar Tari Mayang Binangkit Tasikmalaya, dan Tari Beskalan dibawakan oleh Dwi Nurul, Karina Maharani, serta Tari Bapang oleh Fima Yuda Prawira, Dimas Bagus yang mana mereka berempat adalah mahasiswa  STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya.



 





Senin, 18 Januari 2016

PANTAI PANGANDARAN, AWAL ULANG TAHUN EMAS PERGURUAN TRIJAYA

Pantai Pangandaran menjadi awal kegiatan peringatan Ulang Tahun Emas Perguruan Trijaya. Kegiatan yang secara resmi dimulai tanggal 2 Februari 2016, tepat 50 tahun Perguruan Trijaya. Sampai akhir tahun 2016, semua kegiatan Perguruan akan yang telah diagendakan akan dilaksanakan secara meriah dan besar sesuai semangat kejayaan di tahun emas Perguruan Trijaya. Hal tersebut disampaikan Romo Guru KRA Suryaningrat II pada saat melantik 108 panitia Peringatan Ulang Tahun Emas Perguruan Trijaya di Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, Sabtu Kliwon 16 Januari 2016.

Ada yang beda pada panitia yang sekarang, sebelumnya jas khusus panitia kegiatan Perguruan Trijaya bernuansa hitam namun kali ini berwarna abu-abu dan lengan panjang. Pelantikan yang dilaksanakan sore jam 16.00 itu terasa sakral dan diiringi cuaca yang sangat mendukung, yaitu tanpa hujan tetapi teduh oleh awan tipis dan angin yang bertiup lembut.

Dalam acara pelantikan panitia tersebut, secara serentak semua panitia mengucapkan janji antara lain sebagai berikut.
  1. Mempersiapkan raga rasa dan jiwa kami untuk melaksanakan tugas yang dibebankan di pundak kami. 
  2. Menyusun rencana dan program kegiatan kepanitiaan
  3. Melaksanakan semua persiapan secara matang
  4. Mengadakan koordinasi dalam persiapan maupun pelaksanaan
  5. Melaksanakan kegiatan HUT ke 50 Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal pada waktunya tanpa mengenal lelah dan pantang menyerah.
Butir-butir janji tersebut dituangkan dalam sebuah lembar Janji Panitia yang dipagang oleh setiap masing-masing panitia. Malam hari, tepatnya malam minggu legi setelah pembinaan oleh Pembina Perguruan Trijaya, lembar Janji Panitia tersebut kemudian ditandatangani semua panitia didepan Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryanigrat II secara bergantian satu per satu.

Kemeriahan tahun emas Perguruan Trijaya dilaksanakan selama satu tahun penuh ini meliputi beberapa kegiatan baik yang bersifat rutin maupun insidental. Hampir setiap bulannya kegiatan rutin perguruan akan dilaksanakan secara besar dan beberapa akan diadakan di luar padepokan. Agenda kegiatan tersebut antara lain meliputi :

  1. 2 Februari, Caosan HUT ke 50 Perguruan Trijaya,di Padepokan Argasonya, Kota Tegal, dan masing-masing Daerah.
  2. 6 Februari, Resepsi HUT ke 50 Perguruan Trijaya,
  3. 11 Maret, Peringatan Perintah Sebelas Maret,
  4. 21 April, Peringatan Hari Kartini 2016, 
  5. 6 Mei, Peringatan Ambal Warsa RG. KRA. Suryaningat II,
  6. 1 Juni, Peringatan Hari Pancasila,
  7. 6 Juli, Sungkeman, di Padepokan Wulan Tumanggal.
  8. 17 Agustus, Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 51
  9. 9 September, Peringatan HUT Padepokan Wulan Tumanggal ke 32
  10. 2 Oktober, Peringatan dan Perayaan Hari Raya Sura 1950 J / 2016 M
  11. 28 Oktober, Peringatan Hari Pemuda 2016 
  12. 10 November, Peringatan 3Th Kondurnya RGKPA (RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat)
  13. 15 Desember, Peringatan Ambal Warsa RGKPA 
  14. 31 Desember, Menyambut Tahun Baru 2017 M 
Selain kepada panitia kegiatan yang dilantik secara resmi, Pembina Perguruan Trijaya juga menghimbau kepada semua Putera dan simpatisan untuk berperan aktif dan saling membantu agar semua kegiatan yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar. Kelancaran dan kesuksesan semua kegiatan secara langsung maupun tidak langsung, akan dirasakan manfaatnya oleh seluruh Putera, masyarakat, serta bangsa dan negara. GUSTI tansah paring kasembadan.























Rabu, 30 Desember 2015

MEMBENTUK GENERASI EMAS YANG BER-JIWA NUSANTARA

Perkembangan dunia yang makin pesat yang diimbangi sistem teknologi informasi yang kian canggih, sangat berdampak pada perkembangan anak-anak, khususnya anak - anak di usia emas. Efek dari itu semua banyak merubah karakter perkembangan sosial generasi penerus bangsa ini. Kondisi budaya dan sosial masyarakat bangsa kita semakin lama semakin memperihatinkan. Pola hidup hedoisme, individualisme, kekerasan, kemrosotan moral dan etika yang banyak dicontohkan oleh para elit politik, pejabat penyelenggara negara, baik di pusat maupun di daerah.

Untuk itu, dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mempunyai karakter kebangsaan dan ber jiwa nusantara, Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal menyelenggarakan sebuah pendidikan karakter untuk anak - anak dari usia dini sampai usia 15 tahun. Sebuah kegiatan yang bertajuk "Pelatihan Anak Alam Nusantara" ini diikuti sebanyak 82 anak. Selain diikuti anak - anak dari para Putera Trijaya, kegiatan ini juga diikuti oleh anak para simpatisan dan masyarakat lingkungan sekitar Padepokan.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 6 hari ini yaitu mulai tanggal 26 - 31 Desember 2015. Acara pembukaan dilaksanakan di Pamiwahan Putera Sasana Padepokan Wulan Tumanggal. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dra. Suspriyanti, MM. Dalam sambutannya beliau mengucapkan apresiasi kepada Perguruan Trijaya yang mau dan mampu melaksanakan pendidikan/pelatihan Anak Alam Nusantara (AAN) ini untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mempunyai karakter kebangsaan dan berjiwa nusantara.



Minggu, 22 November 2015

BATIN MENANGIS SAAT MELIHAT LAYONNYA DIRUKTI TIDAK SESUAI KEYAKINAN

Sangat disayangkan jika seseorang yang sudah memilih menjadi Putera Penghayat Murni (PPM) dan sudah dikukuhkan oleh RGKPA, yang dalam semasa hidupnya telah menjalani kehidupan supiritualnya sebagai Penghayat Murni tetapi pada saat berpulang menghadap sang pencipta tidak dirukti secara PPM. Sungguh  bersedihnya beliau yang sudah kondur melihat layonnya tidak dirukti sesuai keyakinan yang dijalani selama hidup sampai akhir hidupnya. Demikian disampaikan RG. KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam acara Caosan Peringatan 40 hari PW. Ang. Sugiyono.

Dalam tata cara Pengrukti Layon yaitu tata cara pemakaman jenasah, bagi seorang penghayat murni sebagai penganut kepercayaan murni ajaran leluhur mempunyai tata cara sendiri. Tata cara pemakaman  berbeda dengan pemeluk agama lain, diantaranya yang utama adalah dalam pemakaian busana untuk layon yaitu berbusana adat jawa. Untuk laki-laki berbusana beskap lengkap dan perempuan mengenakan kebaya.  

Peringatan 40 hari Pt. Sugiyono ini dilaksanakan pada malam Minggu Kliwon 22 November 2015 bertepatan dengan wiyosan RGKPA. dihadiri sekitar 70 Putera dan simpatisan Perguruan Trijaya, serta seluruh keluarga besar Pt. Sugiyono dimana bertempat tinggal di kota Yogyakarta.

Minggu, 15 November 2015

SASANA KASIDAN JATI PUN MENJADI SEBUAH PANGGUNG SENI BUDAYA NAN SPEKTAKULER

Sasana Kasidan Jati, yang merupakan area pemakaman di Padepokan Wulan Tumanggal, disulap menjadi sebuah panggung seni budaya yang spektakuler. Perpaduan cahaya obor, senthir, dan modern lighting menciptakan berbagai warna indah melengkapi temaramnya kesegaran alam kaki lereng gunung Slamet. 

Sebuah alunan musik keroncong mengiringi detik detik menjelang acara malam itu dimulai. Tepat pukul 8.45 malam Minggu Pon (15/11) acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan Mars AAN (Anak Alam Nusantara) dan dilanjutkan dengan doa. Rangkaian acara yang dibalut dalam berbagai tampilan seni budaya ini dipertunjukkan dalam acara Peringatan 2 tahun RG. KPA. EK. Giripati Suryaningrat (RGKPA) Kondur Wonten Ngarsa Gusti Ingkang Maha Agung.
 

Satu persatu beberapa puisi karya Beliau dikumandangkan, memecah sunyi dan menyentuh kalbu. Puisi puisi tersebut diantaranya berjudul Persembahan buat Semua Putera Tegal, Aku ingin bersamamu, dan Balada Nusantara, yang masing - masing dibawakan oleh Pt. Anin, teh Eli (Bandung) dan Pt. Tutik (Pemalang).

Lagu lagu pilihan pun menjadi simbol persembahan untuk beliau RGKPA, diantaranya lagu karya dari Ebiet G. Ade Dia Lelaki Ilham dari Surga yang dibawakan Pt. Wisnu. Lagu karya Titiek Puspa berjudul Bing yang dinyanyikan secara apik dan penuh rasa oleh Nini Kartika hingga tak kuasa membendung tangis.

Persembahan melalui lagu ini diakhiri dengan menyanyikan bersama lagu karya Ebiet G. Ade berjudul Ayah yang dibawakan oleh Mintaraga dan seluruh Ketua Daerah Perguruan Trijaya.

Dalam sambutan selamat datang yang disampaikan oleh Pt. Adi Setianto yang mewakili keluarga RGKPA, menjelaskan bahwa acara ini merupakan rangkaian kegiatan yang diawali dengan acara doa dan sujudan yang dilaksanakan pada malam selasa pon 10 November 2015, tepat 2 (dua) tahun kondurnya beliau. Doa dalam bentuk tahlilan dilaksanakan di 2 (dua) lokasi yaitu di Padepokan Argsonya Kota Tegal dan Padepokan Wulan Tumanggal Kabupaten Tegal yang diikuti oleh masyarakat sekitar di kedua padepokan tersebut. Sujudan Agung dilaksanakan mulai pukul 23.00 di pesarean RGKPA, Sasana Kasidan Jati Padepokan Wulan Tumanggal. 

Setelah sambutan selamat datang dilanjutkan dengan sebuah tampilan karya besar beliau dalam seni gerak dan tari bermakna spiritual dan nasionalisme tinggi yaitu tari kalang diperagakan oleh 6 Putera Trijaya yaitu Pt. Wisnu, Pt. Gilang, Pt. Aji, Pt. Widha, Pt. Sartono dan Pt. Mujiati. Di akhir pementasan tari kalang, Pt. Radit diampal oleh beberapa penari kalang tersebut. 

Setelah sambutan Kepala Desa Dukuhtengah, dilanjutkan beberapa tampilan seni budaya dari bumi Parahyangan. Seniman Erlan Suwardana, pembina Lingkung Seni Karangkamulyan, Ciparay, Kab. Bandung yang sering datang dan berkolaborasi dengan Perguruan Trijaya Putra Tegal di berbagai acara. Kang Erlan yang mencintai perkusi terutama kendang berulangkali tampil di berbagai pentas dalam dan luar negeri seperti Amerika Serikat, Jerman,  Nepal dan RRC. Alumnus Sekolah  Tinggi Seni Bandung (STSI) Bandung kali ini datang bersama istrinya, teh Eli dan kang Gatot Gunawan, Rosyanti (juru tembang Cianjuran), Jafar Sidik, Iman Ucil, Yatsu dan Yogi  yang sama-sama alumus STSI.  

Kang Gatot Gunawan yang terakhir tampil membawakan tari Kusno yang menggambarkan perjalanan hidup Bung Karno dan istrinya, Ibu Inggit Garnasih dalam acara Ulang Padepokan Wulan Tumanggal ke 31. Kang Gatot adalah pria beberapa tahun terakhir ini  tekun mengenang dan mengkampanyaken arti penting penghormatan kepada pahlawan terutama Bung Karno dan Ibu Inggit.


Keluarga dari Parahyangan ini sengaja datang untuk mengenang dan mengajak semua yang hadir untuk meneladani dan meneruskan jejak perjuangan tokoh penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Romo Guru KPA. EK. Giripati Suryaningrat. Diawali dengan lagu Sampurasun sebagai bentuk salam dari Parahyangan untuk semua hadirin. Lagu Sampurasun ini ditandai dengan pemukulan alat musik dogdog oleh RG. KRA. Suryaningrat II.

Dilanjutkan dengan tampilan Tari Sat Satsate, Tari ini merupakan hasil bacaan dan pengamatan Kang Gatot mengenai ajaran Trijaya. Tentu saja ini hanya pengamatan awal, namun yang pasti Kang Gatot menemukan sesuatu di balik ajaran Trijaya yakni ajaran ketat dari seorang pendiri Perguruan Trijaya agar para Puteranya lebih giat untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa dan lebih semangat menggali dan menjalankan ajaran Leluhur Nusantara.

Tafsir awal itu digambarkan dalam bentuk gerak tubuh kreasinya bersama dua putera Trijaya, Pt. Wisnu dan Pt. Gilang. Lewat karyanya ini, Kang Gatot berharap agar semua Putera Trijaya setia pada ajaran gurunya hingga tuntas. Hingga sat satsate. Hingga hasilnya bisa dirasakan oleh diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Keluarga besar Parahyangan juga menampilkan lagu Leunginteun yang berarti kehilangan. Lagu ini menggambarkan betapa negara ini sudah kehilangan banyak hal seperti hilangnya ketentraman,  rusaknya alam dan memudarnya keyakinan pada ajaran leluhur.


Dilanjutkan pementasan sebuah tari tunggal karya Kang Gatot, Tari Percikan Permenungan. Lewat tari tunggal ini, Kang Gatot dengan rasanya mencoba memahami perjalanan hidup RGKPA. Proses kehidupan yang tidak mudah. Dalam pentas ini, Kang Gatot akan berganti kostum sebagai perlambang perubahan paling penting RGKPA dalam kehidupannya menjadi seorang tokoh Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa menjadi sosok pribadi yang gigih memperjuangkan ajaran Leluhur Nusantara, hingga nafas penghabisan. 

Usai menyaksikan tari Percikan Permenungan para hadirin disuguhkan sebuah tembang Tablo yang menggambarkan tentang seseorang yang ditinggal kekasih hatinya. Sehingga para hadirin semuanya dapat menafsirkan secara bebas makna di balik tembang Tablo ini dengan menggunakan bahasa rasa.

Dalam acara ini RG. KRA. Suryaningrat II (RGKRA) menerima tanda kepercayaan, keyakinan, kesetiaan dan dukungan dari seluruh Putera Tegal yang Sembada. Tanda  kepercayaan ini diberikan melalui Pengurus Pusat dan semua Ketua Daerah. Tanda kepercayaan yang diserahkan secara simbolis ini berupa sebuah foto berbingkai dimana RGKPA memberikan pusaka kyai Aji kepada RGKRA yang didampingi Nini Kartika pada saat puputan Romo Anom, sebagai penerus ajaran dan pembina Perguruan Trijaya berikutnya.

RGKRA menyampaikan ucapan terimakasih atas semua dukungan, kesetiaan, segala pengorbanan dan pengabdian para Putera atas perjalanan Peguruan Trijaya disaat sekarang dan untuk masa yang akan datang. Doa beliau untuk para Putera agar selalu mendapatkan perlindungan, kekuatan, keselamatan lahir batin dari Gusti ingkang Maha Agung.

Selain dihadiri semua Putera dan simpatisan, hadir pula sebagai undangan Kasdim 0712 Tegal Mayor Inf Yuli Setiyono S.Pd, Kapolsek Bojong, Kepala Desa Dukuhtengah, Tokoh Tegal masyarakat sekaligus sahabat RGKPA, Bp. Sunyoto dan dr. Bimo.

Malam itu menjadi malam yang penuh anugerah karena cuaca cerah penuh bintang bertaburan. Meskipun pada sore harinya turun gerimis tetapi berhenti saat menjelang senja. Memang saat ini sudah memasuki musim penghujan dan seperti hari hari sebelumnya di Padepokn Wulan Tumanggal sering turun hujan. Cuaca yang cerah tersebut sangat mendukung keseluruhan acara karena menggunakan panggung terbuka.


suasana doa tahlilan malam 10 Nopember 2015

Sujudan bersama, doa untuk RGKPA di malam 10 November 2015