Rabu, 08 April 2020

Sikapi Pandemi Virus Corona, Pembina Perguruan Trijaya instruksikan Laku Spiritual

Menyikapi pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda di negara kita, dan hampir terjadi diseluruh muka bumi ini, Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA Suryaningrat II mengistruksikan kepada Putera Trijaya untuk melaksanakan "Laku Spritual".

Instruksi/Dawuh Romo Guru tersebut disampaikan pada Minggu Pahing (22/3) di tempat kediaman beliau, Padepokan Nusa Indah, Bekasi. Sedangkan bentuk Laku Spiritual yang beliau maksud berupa Laku Neptu 40 dan 39. Laku ini dilaksanakan selama 3 hari di neptu 40 dan 39 yang diisi dengan sujudan, makan singkong dan air putih.

Pelaksana Laku tersebut adalah para Putera yang punya weton (hari lahir) didalam rangkaian neptu 40 maupun 39, Pengurus Pusat, PPM, Pengurus Daerah dan Senior Perguruan Trijaya. Sedangkan seluruh Putera berkewajiban untuk membantu pelaksanaan laku dilingkunganya/daerah tempat pelaksanaan.

Laku tersebut dilakukan secara bersama di salah satu Padepokan (Argasonya, Wulan Tumanggal, Nusa Indah), Sekretariat Daerah, atau di rumah salah satu Putera yang ditunjuk dan disepakati bersama.

Arahan tersebut disampaikan Romo Guru dalam pembinaan Manharabah Rifaat di Padepokan Wulan Tumanggal, pada malam Minggu Wage tanggal 29 Maret 2020, yang juga merupakan malam terakhir Laku Neptu 40 tahap pertama. Laku tahap pertama dilaksanakan pada Jumat Pahing hingga Minggu Wage (27-29 Maret 2020).

Sedangkan Laku tahap ke 2 (dua) juga telah terlaksana pada Sabtu Kliwon hingga Senin Pahing (4-6 April 2020). untuk tahap berikutnya (3) yaitu Selasa Kliwon hingga Kamis Pahing (neptu 40) dan dilanjutkan tahap ke 4 yaitu Jumat Pon hingga Minggu Kliwon yang merupakan Neptu 39. Begitu seterusnya pada rangkaian hari di neptu 40 dan 39.

Selama laku tersebut, Romo Guru juga menghimbau untuk selalu melaksanakan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah diantaranya memakai masker, sering cuci tangan dengan sabun, penyemprotan hand sanitizer/disinfektan dan meningkatkan komunikasi diantara para Putera tentang kesehatan masing-masing dengan membentuk gugus tugas Covid-19.

Ini merupakan usaha yang mungkin sangat kecil untuk bangsa dan negara, namun dengan melaksanakan laku spiritual ini, diharapkan pagebluk yang menimpa bangsa ini segera sirna dan memberikan keselamatan untuk kehidupan di muka bumi.

Jumat, 20 Maret 2020

KISEMAR ditengah Pandemi Coronavirus

KISEMAR (Kegiatan Sebelas Maret) yang menjadi salah satu agenda rutin tahunan di Perguruan Trijaya, kali ini digelar sangat sederhana di Pamiwahan Putera, Padepokan Wulan Tumanggal, Sabtu malam Minggu Kliwon, 14 - 15 Maret 2020.

Acara ini juga sebagai peringatan ulang tahun ke 13 KEIMANAN (Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara), dimana bersamaan dengan awal bangsa ini terjangkit pandemi COVID-19 (Corona Virus Deseas) yang sebelumnya melanda China, Korea, Italia dan beberapa negara lainnya.

Kegiatan ini diawalli oleh Rapat Kerja KEIMANAN pada Sabtu pagi (14/3) hingga sore hari, dilanjutkan dengan sukuran berupa potong tumpeng dimalam harinya.

Dalam sambutan Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryaningrat II menyampaikan pesan untuk selalu hati-hati dengan situasi saat ini dimana semakin meningkatnya korban COVID-19 ini. "Jaga kebersihan, selalu cuci tangan dengan sabun, bertingkah laku sesuai patrap, dan perbanyak sujudan" tegas Romo Guru.

Acara ini dihadiri Camat Bojong Iwan Kurniawan, yang baru 3 (tiga) bulan menjabat sebagai Camat Bojong. Beliau hadir beserta istri dan sempat mengisi acara dengan menyanyi bersama serta ikut berlatih menarikan Tari Perantara (Pergaulan Nusantara), sebuah tarian khas Perguruan Trijaya sebagai wujud keserasian dan keharmonisan dalam berpasangan maupun dalam persaudaraan .

Hadir pula dalam acara tersebut, Kepala Desa Dukuhtengah Waristo, Danramil Bojong Kapten Arh Asep Koswara dan salah satu tokoh masyarakat sekaligus pemerhati budaya di Kabupaten Tegal, Agus Wardana.

Rabu, 26 Februari 2020

Percantik Wulan Tumanggal dengan MANHARABAH RIFAAT

MANHARABAH RIFAAT, istilah didalam Perguruan Trijaya yang merupakan singkatan dari Mengamankan, Memelihara, Menambah, Melestarikan, dan Memanfaatkan. Rangkaian kata yang indah untuk kegiatan bersih Padepokan Wulan Tumanggal agar semakin cantik, yang dilaksanakan selapan sekali setiap hari Minggu Wage.

MANHARABAH RIFAAT Minggu Wage yang lalu (23/2) yang bertugas adalah Putera Daerah Semarang dengan jumlah peserta yang hadir 30 orang termasuk Putera dan keluarga ditambah beberapa Putera Padepokan, Putera Daerah Tegal, Purwodadi dan Jakarta.

Penanggung Jawab Kegiatan kali ini Putera Widya Angling Rubiyo dan Putera Kakandar Agus.
Pada malam Minggu Wage yang biasanya berupa Ambengan kali ini menjadi istemewa dangan adanya Tumpeng sebagai wujud rasa sukur Mbak Siti Sueti, istri dari Putera Kriyo Joyo Dipuro yang berulang tahun ke 36.

Disamping membersihkan Curug Wulan Tumanggal, Sanggar Pamujan, Astana Laya Kasidan Jati dan semua bagian Padepokan Wulan Tumaggal, kegiatan Minggu Wagean ini terfokus pada pembuatan taman di depan Palereman Puspa Dewi atau di samping Palereman Daerah Purwodadi.

Mudah mudahan pembuatan taman yang dimulai dari depan adalah awal pembangunan Padepokan Wulan Tumanggal yang lebih indah juga dapat berguna oleh masyarakat, bangsa dan Nusantara. Gusti Tansah Paring Kasembadan. (Agus S)

Jumat, 21 Februari 2020

Pererat persaudaraan, Perguruan Trijaya kunjungi Ponpes Roudhotus Sholihin Demak

Kamis Legi 20 Februari 2020, Perguruan Trijaya mengunjungi Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin yang berlokasi di Desa Loireng, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Rombongan yang berjumlah 13 orang tersebut terdiri atas Pengurus dan Putera Daerah Semarang serta didampingi Pengurus Pusat Perguruan Trijaya.

Kunjungan ini merupakan bentuk silaturahmi dimana akhir bulan lalu, tepatnya pada hari Kamis malam (30/1) rombongan Ponpes yang terdiri dari anak-anak dan para Guru SMP IT Roudhotus Sholihin melaksanakan kunjungan di Padepokan Wulan Tumanggal dalam rangka tour Studi Lintas Agama yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya.

"Kami berkunjung disini untuk mempererat tali persaudaraan, dimana sebagai Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, baru pertama kali padepokan kami dikunjungi satu rombongan bis besar dari Pondok Pesantren dan sekaligus mengikuti ritual rutin Supit malam Jumat Legi" tutur Trubus E.S selaku juru bicara sekaligus Pengurus Pusat Perguruan Trijaya .

Kehadiran rombongan dari Perguruan Trijaya ini disambut hangat oleh Pengasuh Ponpes KH. Abdul Qodir. "Terimakasih atas kerawuhan saudara-saudara kami dari Perguruan Trijaya, dan rawuhnya bapak ibu telah membawa berkah secara langsung yaitu menyingkirkan mendung tebal dan nyalanya listrik yang sebelumnya padam" terang Kyai Qodir yang selalu cair dan disambut gelak tawa bersama.

"Monggo kapan waktu bisa rawuh kembali, disini kami terbuka 24 jam dan tak lupa kami nitip salam hormat kepada Romo Guru sebagai Pembina Perguruan Trijaya yang telah menerima kami dengan sangat baik" lanjut Kyai Qodir.

Setelah ramah tamah dan makan siang di kediaman Kyai Qodir, acara pun bergeser ke Mushola. Disini digelar sarasehan singkat bersama para santri Ponpes. Sarasehan dibuka Kyai Qodir dan mempersilakan dari Perguruan Trijaya untuk memberikan kuliah kepada para santri tentang Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Penjelasan tentang Penghayat Kepercayaan dan Perguruan Trijaya dipaparkan secara jelas oleh Sutrimo Puspoyudo selaku Kabid PPM (Paguyuban Penghayat Murni) Pengurus Pusat Perguruan Trijaya. Para santri pun menyambut baik sarasehan ini dengan peran aktif mereka untuk bertanya saat sessi diskusi dibuka oleh Kyai Qodir.

Diakhir sarasehan sekaligus sebagai penghujung kunjungan ini, Perguruan Trijaya menyerahkan cinderamata berupa pigura foto kegiatan saat rombongan Ponpes berkunjung di Padepokan Wulan Tumanggal, yang diserahkan oleh Trubus ES kepada Kyai Qodir.

Selasa, 04 Februari 2020

02022020 Genap 54 Tahun Perguruan Trijaya

Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru saat menyerahkan
kenang-kenangan kepada Direktur Kepercayaan Terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat,
Dra. Christriyati Ariani, M.Hum.
Minggu Pon, (2/2/2020), Dengan mengambil tema Memelihara Budaya Memajukan Bangsa, Perguruan Trijaya menggelar acara resepsi Peringatan Ulang Tahun ke 54 Perguruan Trijaya. Acara ini dilaksanakan di SAMORA (Sasana Among Raga) Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal.

Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA. Suryaningrat II dalam sambutannya menyampaikan sejak berdirinya Perguruan Trijaya pada tanggal 2 Februari 1966, Perguruan Trijaya selalu memberikan nama atau tema disetiap tahunnnya.

"Bersamaan hari ini Minggu Pon, tepat 02022020, tepat Perguruan Trijaya berulang tahun ke 54, tahun ini kami namakan sebagai tahun PATRAP, yang berarti semua tindakan dan kelakuan kita harus sesuai patrap, empan papan atau sesuai dengan apa yang menjadi kepantasan/semestinya" jelas Romo Guru.

Hadir di acara ini, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dan Masyarakat Adat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dra. Christiyati Ariani, M.Hum, Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Imam Maskur, M.Si, Pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, beberapa pejabat tingkat Kabupaten dan Kota Tegal, Forkopimcam Bojong, serta Perangkat Desa Dukuhtengah.

Selasa, 17 Desember 2019

Kidungan Dalang Pring Tegal, menghiasi kesakralan Pengetan Romo Resi.

Ki Sri Widodo, Dalang Wayang Pring dari Kabupaten Tegal, menampilkan kepiawaiannya dalam kidungan macapat pada acara Pengetan Romo Resi KPA Suryaningrat (Pendiri Perguruan Trijaya), Sabtu malam Minggu Wage (14/12).

Acara ini digelar di Padepokan Wulan Tumanggal, tepatnya di Astanalaya (area pemakaman) Kasidanjati, dimana Romo Resi dikebumikan.

Peringatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan Perguruan Trijaya setiap tanggal 15 Desember, diambil dari tanggal kelahiran Romo Resi. Kegiatan ini sudah dilaksanakan selama 6 tahun, sejak beliau berpulang kehadirat Gusti Ingkang Maha Agung pada Minggu Pon, 10 Nopember 2013.

Selain kekidungan Macapat, acara ini juga diisi dengan Nyekar (tabur bunga), pemutaran video perjalanan Romo Resi, yang berisi kegiatan beliau selama menjadi Pembina Perguruan Trijaya yang telah didokumentasikan secara baik.

Selain itu, acara juga diisi dengan pemotongan tumpeng, menyanyikan lagu-lagu kesukaan beliau, Panembromo, dan makan bersama dengan beberapa menu kesukaan beliau.

"Kedepan, Pengetan Romo Resi bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih besar, misal bisa dalam bentuk festival apapun, dimana bisa menjadi pengingat Romo Resi", jelas Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryaningrat II.

Secara busana, semua peserta Pengetan ini dianjurkan menggunakan baju, seragam, beskap, kebaya yang pernah diarkat (disyarati) oleh Romo Resi. Acara ini ditutup dengan menyanyi bersama lagu Lir - ilir, tepat pukul 2 (dua) pagi di hari Minggu Wage, dan dilanjutkan wungon sampai matahari terbit. (BP)



Rabu, 27 November 2019

Perguruan Trijaya menjadi peserta Gelar Tradisi Ritual 2019

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, S.TP, M.Si (beskap hitam),
saat mengunjungi stand pameran Perguruan Trijaya
Untuk pertama kalinya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan event besar yang bertajuk "Gelar Tradisi Ritual" Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tahun 2019.

Kegiatan yang melibatkan beberapa organisasi Penghayat Kepercayaan ini digelar selama 5 hari, yang dibuka pada Senin malam (18/11) sampai dengan Jumat siang (22/11) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Kegiatan yang sarat dengan tradisi budaya spiritual ini, meliputi Gelar Tradisi Ritual, Pameran, dan Seminar Penghayat Kepercayaan.

Organisasi Penghayat Kepercayaan yang terlibat dalam kegiatan tahun ini meliputi Cahya Buwana, Sedulur Sikep, AK Perjalanan, Sapta Darma (Persada), Kapribaden, Tunggul Sabdo Jati, MLKI, Perguruan Trijaya, Puanhayati, Ngudi Utomo dan Kejawen Maneges.

Kegiatan ini juga diisi dengan penampilan karya seni oleh beberapa Sekolah di Kota Semarang, dan pagelaran Wayang Kulit. Di hari terkahir Jumat (22/11) sebelum penutupan digelar Seminar Penghayat yang menghadirkan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dra. Christriyati Ariani, M.Hum. Sebuah ritus dalam bentuk gerak tari dari Perguruan Trijaya, yaitu Tari Kalang, membuka acara ini dengan spektakuler.

sumber : www.7jiwanusantara.com