Selasa, 10 Juli 2018

PAC, Tulang Punggung Perguruan

Minggu Wage, 8 Juli 2018, Sebanyak 11 Putera (sebutan murid dalam Perguruan Trijaya), telah melaksanakan Caosan sukuran PAC yang dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal.

Ke 11 Putera (Pt) tersebut antara lain Pt. Niko, Pt. Topik, Pt. Sartono, Pt. Ratmi, Pt. Ratih, Pt. Nia, Pt. Lestari, Pt. Yuliani, Pt. Sapar, Pt. Dedi, dan Pt. Risang.

Sudah menjadi kewajiban di Perguruan Trijaya bahwa Setiap Putera yang telah mencapai Arkat Tamat (11), maka dalam kurun waktu 70 hari terhitung sejak Arkat Tamat tersebut, diwajibkan untuk melaksanakan sukuran dalam bentuk Caosan dan mereka berhak menyandang gelar PAC (Putera Arkat Chatam).

Gelar PAC ini merupakan tingkat keilmuan yang menandakan bahwa mereka telah selesai melampaui tingkatan arkat, yaitu dari PAK (Putera Arkat Kasar), PAH (Putera Arkat Halus), PAB (Putera Arkat Batin), hingga PAT (Putera Arkat Tamat). Dalam memakai PSL (Pakaian Seragam Latihan) pun mereka tidak memakai Sabuk Biru lagi, melainkan sudah berhak memakai Sabuk Biru Kuning (warna dasar biru, ditengahnya ada warna kuning).

Dalam tingkat keilmuan yang baru ini, merekapun terikat dengan menjalankan tugas dan kewajiban baru, yang sebelumnya tidak ada dalam tingkat arkat. Selain menjadi tulang punggung Perguruan,  PAC juga diharuskan melaksanakan beberapa kewajiban, diantaranya adalah kunjungan wajib ke Padepokan.

"Untuk saat ini terdapat 3 padepokan yang wajib dikunjungi oleh PAC, yaitu Padepokan Argasonya (Kota Tegal), Padepokan Wulan Tumanggal (Kab. Tegal) dan Padepokan Nusa Indah (Bekasi)", jelas Romo Guru KRA Suryanigrat II, Pembina Perguruan Trijaya saat sesi pembekalan PAC selepas penutupan Caosan, Minggu pagi (8/7).

Ditambahkan Romo Guru, PAC boleh melaksanakan kunjungan wajib di salah satu Padepokan tersebut, tetapi untuk prioritas utama adalah Padepokan Argasonya, yang merupakan Padepokan awal berdirinya Perguruan Trijaya. Beliau juga menambahkan bahwa setiap kunjungan wajib tersebut, diharuskan bisa bertemu dengan Romo Guru.

"Dengan ditunjang kemajuan teknologi komunikasi saat ini, setiap Putera yang akan melaksanakan kunjungan wajib harus mengetahui dimana Romo Guru berada". tambah Romo Guru.

Sabtu, 02 Juni 2018

Sang Merah Putih untuk Parangtritis

Tim Paskibra Keimanan saat menurunkan bendera
merah putih yang telah rusak dan usang
Jumat Pahing (1/6), Sekelompok pemuda dari Perguruan Trijaya mendatangi Posko SAR yang ada di Pantai Parangtritis. Mereka sambil membawa sebuah bendera marah putih untuk diberikan kepada Posko SAR Kabupaten Bantul DIY.

Bendera tersebut sebelumnya dipakai oleh keluarga besar Perguruan Trijaya pada Upacara Bendera dalam rangka peringatan Hari Pancasila di Parangtritis, pagi itu. Setelah usai upacara, satu dari Pengurus KEIMANAN (Kelompok Inteltual Muda Anak Alam Nusantara) Perguruan Trijaya, Pt. Risang mengusulkan untuk memberikan bendera merah putih yang dipakai dalam upacara bendera itu, kepada Posko SAR yang terlihat dari lapangan tempat lokasi upacara.

Bendera itu sudah usang bahkan dibagian pinggir terlihat rusak dan warnanyapun sudah pudar, kita berikan bendera kita agar bermanfaat untuk mereka dan masyarakat sekitar sini, jelas Risang.

Upacara peringatan Hari Pancasila ini merupakan sebuah rangkaian kegiatan besar yaitu Nderek Lampah Satuhu Risang Guru, yaitu perjalanan spiritual yang telah dilaksanakan sejak tanggal 25 Mei 2018. Parantritis adalah tujuan terkahir sebelum finish di Padepokan Wulan Tumanggal. Sebelumnya Nderek Lampah ini telah mengunjungi beberapa lokasi diantaranya, Cemara Kandang (Tawangmangu), Bromo, Bali (Singaraja, Kintamani, Denpasar, Tanah Lot), dan Balekambang (Malang).


Senin, 07 Mei 2018

Makna Seket (50) dalam filosofi Jawa

Romo Guru KRA Suryaningrat II bersama
Nini Kartika (isteri) dan ketiga puteranya
Dalam masyarakat jawa, angka 50 merupakan salah satu angka yang unik dan istimewa, khususnya penyebutannya dalam bahasa jawa. Jika diurutkan misal dari angka 30 disebut telungpuluh, angka 40 : patangpuluh, angka 50 harusnya limangpuluh, tetapi mengapa dinamakan seket ?

Seket mempunyai arti se-iket = mengikat. Seperti fungsi tali yang mengikat sebuah sapu yang terdiri dari banyak lidi. Meskipun Sapu lidi yang berfungsi untuk menyapu adalah ujung dari kumpulan lidi-lidi tersebut, namun tanpa ada tali yang mengikat maka tidak akan dapat berfungsi secara baik dan benar.

Hal tersebut dijelaskan oleh Pembina Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal, Romo Guru KRA Suryaningrat II dalam acara Pengetan Ambal Warsa kaping 50, Romo Guru KRA Suryaningrat II, di Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal, Minggu (6/5).

Lebih lanjut Romo Guru menjelaskan, pada saat manusia mencapai usia 50 (seket), kemampuan untuk bisa mengikat harus didasari dengan rasa persaudaraan. Dan persaudaraan yang sejati bisa diwujudkan dengan didasari rasa Katresnan (cinta kasih) yang Satuhu (sungguh-sungguh/dengan sepenuh hati). Maka dari itu kami (Perguruan Trijaya) menyebut tahun 2018 ini sebagai tahun PERKASA, yaitu PERsaudaraan, KAtresnan dan SAtuhu.

Peringatan Ambal Warsa ke 50 Pembina Perguruan Trijaya tersebut dihadiri beberapa tamu undangan dari instansi terkait, tokoh masyarakat, teman/kerabat Romo Guru, dan para Putera serta keluarga Perguruan Trijaya.

Diantara tamu yang hadir, Kainfolahtadam Kodam IV Diponegoro, Kol. Inf. Jefson Marisano, S.IP. Kasubbag Pendidikan Kebudaayaan dan Perpustakaan Biro Kesra Setda Prov. Jateng, Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd. dan Pengurus Komite Seni dan Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah Ki Aji (Akso Prabu Wisnu Aji) yang juga sesepuh di Peguyuban Manengku Semarang.

Radit (organ), saat berkolaborasi dengan
Sanggar chisai Cirebon
Acara ini dimeriahkan beberapa tampilan kesenian, diantaranya tari dayak dari sanggar Lunuk Ramba Palangkaraya, Goup band Sanggar Chisai Cirebon, dan Kang Erlan n team dari Bandung. Untuk alunan musik, selain diiringi mas Herjuno solo organ, musik etnik pun ditampilkan secara apik oleh Kumakami Arumba Ethnic Music dari Bandung.

Putera bungsu Romo Guru, Elang Rahdite Paksi (Radit) juga menyumbangkan kepiawainnya dalam memainkan organ, yang berkolaborasi dengan Sanggar Chisai Cirebon.

Diakhir acara, ada pemberian cinderamata dari tokoh masyarakat Tegal, Dr. Bimo dan Bp. Sunyoto kepada Romo Guru. Cinderamata tersebut berupa album foto yang berisi foto-foto Romo Guru yang dikumpulkan sendiri oleh beliau berdua.


Minggu, 22 April 2018

Dari Lomba Memasak, Paduan Suara hingga Keluwesan ramaikan Hari Kartini 2018

Nini Kartika saat mengambil sampel
nasi goreng dari tim Semarang
Daerah Semarang tampil sebagai pemenang dalam Lomba Memasak nasi goreng di Padepokan Wulan Tumanggal, Sabtu Legi (21/4).

Lomba memasak dalam rangka Peringatan Hari Kartini ini diadakan oleh Pemberdayaan Perempuan Kartini (PPK), sebuah sub organiasasi perempuan yang ada di Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal. Untuk juara 2 dan 3 masing-masing ditempati oleh Daerah Purwodadi dan Yogyakarta.

Dalam lomba memasak ini selain tampilan dan rasa, unsur penilaian yang tinggi terdapat pada kerjasama tim. Setiap tim yang terdiri dari 7 orang ini harus saling bekerja sama sesuai dengan tugas yang diatur oleh sang ketua tim.

"Lomba ini adalah lomba tim bukan perorangan, jadi untuk memasak dibutuhkan kebersamaan dan kekompakan, sempat terlihat tadi ada anggota tim yang tidak mau bekerjasama", jelas Nini Kartika setelah mengambil sampel ke masing-masing stand peserta.

"Untuk rasa, sebenarnya hampir sama enaknya, cuma untuk pemenang ada tambahan nilai karena beberapa faktor pendukung lainnya, yaitu kebersihan dan kesiapan, terlihat mereka siap dengan celemek dan sarung tangan plastik" tambahnya.

Selain lomba memasak, digelar juga lomba paduan suara. Lomba ini juga diikuti 8 tim yang mewakili 8 Daerah yang ada di Perguruan Trijaya. Dalam lomba ini setiap tim menyanyikan 1 lagu wajib "Ibu Kita Kartini" dan 1 lagu pilihan, bebas ditentukan oleh masing-masing tim. Daerah Pemalang terpilih menjadi juara 1 dalam lomba Paduan Suara ini, disusul Daerah Tegal dan juara ke 3 diraih Daerah Brebes.

Sedangkan khusus untuk lomba keluwesan, penilaiannya dilakukan sejak awal hingga akhir kegiatan. Terpilih PAC. Sri Kundareni sebagai yang pemenang dalam lomba ini. "Terlihat sejak pagi hingga malam, Putera Kundareni tampak cantik dan segar, meskipun dengan bersanggul, dia mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir tanpa terlihat kelelahan diwajahnya", ungkap Nini Kartika saat pengumuman hasil lomba.



Senin, 12 Maret 2018

KEIMANAN harus punya Otot Kawat, Balung Wesi dan Sikil Pacul

Seluruh anak muda yang tergabung dalam KEIMANAN harus menjadi generasi muda yang tangguh dan tahan banting serta tidak terlalu sensitif terhadap kegalauan, jadilah anak muda yang mempunyai otot kawat balung wesi dan sikil pacul.

Janganlah mudah mengeluh karena karena setiap orang punya masalah. Banyak orang-orang tersenyum dengan penderitaan hidupnya yang lebih berat, mereka tidak mudah untuk mengeluh. Derita dan masalah kalian belumlah seberapa, dibandingkan orang lain diluar sana. Hadapi dan jangan lari dari kenyataan karena ditempat kalian lari akan menemui masalah yang lebih berat. Percayalah sing ngecat lombok, sing nguyahi segara tidak akan memberikan sesuatu yang melebihi kemampuan kita.

Kalimat tersebut diatas disampaikan secara menggelora dan penuh semangat oleh Pjs. Bupati Tegal Drs. Sinoeng Nugroho Rachmadi, MM, pada Peringatan dan Perayaan KISEMAR 2018 serta Ulang Tahun ke 11 KEIMANAN (Kelompok Intelektual Muda anak Alam Nusantara) di Padepokan Wulan Tumanggal, Bojong, Sabtu (10/03).

Sinoeng yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Satpol PP Pemprov Jateng itu dilantik menjadi Pejabat sementara (Pjs) Bupati Tegal 14 Februari lalu oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (saat itu) untuk mengisi kekosongan jabatan bupati selama Entus Susmono mengikuti proses Pilkada.

Selaku Pemkab Tegal, Sinoeng juga menyampaikan rasa bangga dan apresisasi kepada Perguruan Trijaya, khususnya Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara. Kata nusantara itulah yang menggerakkan nasionalis yang hari ini terasa mewah, dan yang hari ini juga tidak semua orang mengerti, jelasnya.

Mumpung saya menjadi bupati meskipun pocokan, saya ingin agar dari kabupaten Tegal akan kita gaungkan gema yang menjadikan parameter kehidupan ke-Indonesia-an ber-Pancasila. Dari kabupaten Tegal akan kita buktikan. Wis ora usah kakean omong, semuanya hanya untuk Pancasila, NKRI dan Merah Putih, tambahnya.

Hubungannya dengan pilkada yang segera akan digelar dalam waktu dekat, Sinoeng juga menyampaikan rencana programnya yaitu Trikoda yang artinya Tri Komando Pilkada. Diantaranya adalah jagalah Netralitas, rawatlah Profesionalitas, dan tegakkan Integritas.

Diakhir sambutannya, Pjs Bupati Tegal berpesan kepada KEIMANAN untuk menjadi anak-anak negeri yang senantiasa tetap memiliki jatidiri, kepribadian ke-Indonesia-an dan itulah benteng terakhirnya Pancasila, NKRI dan Merah Putih.

Percayalah, dari TRIJAYA, dari KISEMAR, dan dari KEIMANAN akan lahir pemimpin-pemimpin nusantara, pungkasnya.

Sukuran ini merupakan satu dari rangkaian acara KISEMAR 2018. Malam itu juga digelar lomba Tari Perantara, dan penayangan video pengucapan Pancasila oleh AAN (Anak Alam Nusantara). Keesokan harinya, minggu (11/3) diadakan Upacara Bendera Peringatan Sebelas Maret dengan Romo Gruru KRA. Suryaningrat II sebagai Pembina Upacara.

Selasa, 06 Februari 2018

Bupati Tegal : Wulan Tumanggal akan saya jadikan sebagai Desa Wisata Spiritual

Bupati Tegal, Enthus Susmono saat memberi sambutan
pada peringatan ulang tahun ke 52 Perguruan Trijaya
Padepokan Wulan Tumanggal yang berada di desa Dukuhtengah kecamatan Bojong, kabupaten Tegal oleh Bupati Tegal Ethus Susmono akan dijadikan sebagai desa wisata spiritual.

Pernyataan itu disampaikannya saat memberi sambutan pada acara Peringatan Ulang Tahun ke 52 Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal, di Padepokan Wulan Tumanggal, Minggu Kliwon 4 Februari 2018.

"Saya sangat suka, dan saya sangat senang sekali dengan Wulan Tumanggal. Wulan Tumanggal adalah bedor panah Arjuna yang namanya Pasopati. Wulan Tumanggal juga mempunyai arti tanggal 1 (satu) yakni bulan sabit. Biasanya kalo wanita itu dipakai untuk alis. Arti dari garis lengkung bulan sabit Wulan Tumanggal adalah lambang keseksian yang luar biasa. Saya kepengen nanti Wulan Tumanggal ini saya usulkan untuk menjadi desa wisata spiritual", jelas Enthus.

Dengan gaya khasnya yang kocak dan menghibur dalam memberikan sambutan, bupati  yang juga seorang dalang tersohor itu menambahkan bahwa, Perguruan Trijaya merupakan salah satu pilar geo-spiritual di kabupaten Tegal. Oleh karena itu Bupati Tegal akan mangusulkan dalam Perbup bahwa Wulan Tumanggal sebagai desa wisata spiritual, dan menjadi pusat kebudayaan.

"Jika nanti malam akan ada Festival Bumijawa, kenapa tidak tahun depan ada Festival Wulan Tumanggal untuk menjadikan Wulan Tumanggal go internasional", tambah Enthus.

"Pak Camat (Bojong), tolong nanti saya diingatkan kalo tidak bisa di akhir tahun 2018 ini, berarti tahun 2019 kita targetkan di desa Dukuhtengah, Padepokan Wulan Tumanggal kita tetapkan sebagai Desa Wisata Spiritual Budaya", tambahnya.

Di penghujung sambutan, Bupati Tegal memberi penyemangat kebangsaan, "Indonesia adalah negara bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, maka tetaplah kita bersatu demi Indonesia. Apapun spiritualnya kita ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia".

Senin, 05 Februari 2018

Pancasila, Mantra Sakti Nusantara yang harus diucapkan minimal 1 kali setiap hari

Ikrar Kesetiaan kepada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI mewarnai acara resepsi peringatan ulang tahun ke 52 Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal di Padepokan Wulan Tumanggal, Minggu Kliwon, 4 Februari 2018.

Ikrar atau janji yang diucapkan oleh para Pengurus Perguruan Trijaya ini mewakili dari semua Putera dan seluruh keluarga besar Perguruan Trijaya. Prosesi pengucapan ikrar yang berjalan sakral tersebut disaksikan langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Panji Suryaningrat II.

Adapun empat (4) point dari ikrar tersebut antara lain :
1. Setia kepada Pancasila, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
2. Melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Membentuk Generasi Muda Anak Alam Nusantara berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila, serta
4. Menjadikan PANCASILA sebagai "MANTRA SAKTI NUSANTARA" yang wajib diucapkan minimal 1 kali dalam kehidupan kami sehari-hari.

Janji tersebut tertuang dalam sebuah lembar Piagam Kesetiaan dengan dibubui 23 tanda tangan Pengurus dan Pembina Perguruan Trijaya, dan nantinya setiap pengurus akan mendapatkan salinannya.

Dalam pembinaannya, Romo Guru KRA Panji Suryaningrat II menyampaikan bahwa Indonesia akan lebih baik jika setiap warganya paham betul mengenai Pancasila. Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal sangat menjunjung tinggi nilai nilai luhur Pancasila, oleh karena itu para Putera beserta keluarga wajib mengucapkan Pancasila setiap hari minimal 1 kali, karena Pancasila merupakan kalimat yang sakti. Dengan pengucapan setiap hari para Putera sekalian diharapkan dapat mengamalkan setiap sila dari Pancasila tersebut.

Lebih lanjut Romo Guru menambahkan, apapun yang terjadi di negeri ini, NKRI akan kita bela selamanya. Jangan ragu, kita akan tetap berjiwa nusantara, meskipun banyak gejolak terjadi di negeri ini. Jangan bilang Indonesia itu apa sih, berawal dari sikap pesimis tersebut akan menghambat negeri ini untuk maju, justru kita harus memiliki jiwa nusantara. Jangan hanya memberi kritik namun sama sekali tidak memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah, itulah sifat yang harus dihindari oleh para Putera.

Hadir dalam acara tersebut Bupati Tegal Enthus Sumono beserta istri, Kepala Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Retno Suprobowati, Fokopimcam Bojong, serta beberapa tokoh masyarakat baik dari Kabupaten Tegal dan Kota Tegal.

Tampak pula artis senior Indonesia, Trie Utami yang pada kesempatan tersebut ikut menyanyikan 2 buah lagu, yaitu lagu kebangsaan Indonesia Pusaka dan Bagimu Negeri.