Jumat, 30 Juni 2017

SUNGKEMAN, SATU DARI TRADISI RITUAL TAHUNAN DI PERGURUAN TRIJAYA

Segitiga dalam lingkaran, yang ada dalam lambang Perguruan Trijaya mempunyai makna Tuhan, Orang tua dan Guru. Hal ini memberi pejelasan bahwa ajaran di Trijaya mewajibkan setiap Putera untuk selalu hormat terhadap Tuhan, Orang tua dan Guru.

Penyebutannya pun tidak boleh dibalik karena hal itu merupakan sekala prioritas, jelas Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA Suryaningrat II dalam acara Sungkeman di Padepokan Wulan Tumanggal, malam Kamis Kliwon (29/06).

Sungkeman merupakan tradisi ritual permohonan maaf di Perguruan Trijaya yang dilaksanakan rutin setiap tahun. Sungkeman biasanya dilaksanakan setiap malam kedua Hari Raya Idul Fitri, namun kali ini, dilaksanakan pad malam ke 4(empat)  lebaran.

Sungkeman tahun ini terasa istimewa karena bersamaan dengan salah satu malam keilmuan yaitu malam Wajib Perguruan Trijaya, yang sekaligus juga merupakan rangkaian Supit. "Sebenarnya siapa yang ikut sungkeman kali ini, tepat di malam kamis kliwon, adalah anggota Perguruan Trijaya yang sebenarnya, yang menghargai Perguruan Trijaya secara utuh", jelas Romo Guru.

Secara keilmuan, Sungkeman merupakan ritual yang sangat tinggi nilainya. Kerelaan Putera dengan usaha yang besar, datang ke Padepokan untuk menundukan kepala, memohon maaf yang tidak ada wujud resminya kalau maaf itu diterima atau tidak. Kerelaan itulah yang mempunyai nilai tinggi sekali, tambah Romo Guru.

Minggu, 11 Juni 2017

BERPULANGNYA SANG IBU WULAN TUMANGGAL

KMT. Mulyaningsih Wulan Tumanggal
Seakan menanti malam yang tepat, bersamaan dengan ritual minggu pahing yang dilaksanakan secara rutin di masing-masing daerah, Ibu Wulan Tumanggal telah berpulang menghadap sang Pencipta, Gusti Ingkang Maha Agung. Tepatnya Sabtu Legi malam Minggu Pahing, (10/6) pukul 20.00 WIB.

Ibu Wulan Tumanggal mempunyai nama asli Sri Mulyaningsih. Setelah memperoleh gelar kehormatan dari Keraton Surakarta Hadiningrat, dengan SK No. PB XIII.B2.081.2013 tertanggal 20 Oktober 2013, beliau mendapat pangkat Bupati Sepuh dengan nama lengkap Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Mulyaningsih Wulan Tumanggal. Penyerahan Sertifikat Keraton tersebut dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal.

Untuk saat ini gelar tersebut juga dimiliki oleh Walikota Tegal yaitu KMT. Hj Siti Masitha Soeparno. Gelar tersebut diberikan oleh Keraton Surakarta Hadiningrat pada 1 Mei 2016, dalam rangka memperingati Hari Besar Raja Karaton Solo Jumenengan ISKS Paku Buwono XIII.

Jumat, 02 Juni 2017

PANCASILA, ANUGERAH TERINDAH YANG PERNAH KITA MILIKI

Pancasila adalah anugerah terbesar dan paling indah yang Tuhan berikan kepada kita semua, bangsa Indenesia. Tidak ada falsafah hidup berbangsa yang lebih indah selain Pancasila yang hanya dimiliki negara kita, dan tak satupun bangsa lain yang memilikinya.

Itulah pesan Romo Guru KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam acara malam sukuran Hari Pancasila tahun 2017 di Samora (Sasana Among Raga) Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal, Rabu malam (31/5). Setelah 17 tahun Perguruan Trijaya melaksanakan rutin peringatan Hari Pancasila, kali ini 1 Juni telah menjadi hari libur nasional berdasar ketetapan presiden tahun 2016 lalu, tambah Romo Guru.

Usai acara potong tumpeng dan makan malam, dilanjutkan dengan lomba peragaan busana adat nusantara. Lomba ini diikuti oleh anak-anak yang tergabung dalam kelompok Anak Alam Nusantara (AAN), dimana didominasi oleh anak-anak Sekolah Dasar. Keluguan meraka dalam unjuk kebolehan ala model profesional mengundang gelak tawa, sekaligus memberikan kebanggan kepada semua yang hadir karena rasa keberanian mereka dalam usaha menunjukkan kreasi busana adat nusantara yang beraneka ragam.

Sabtu, 20 Mei 2017

GUNUNGAN HASIL BUMI DARI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL LENGKAPI KIRAB HARI JADI KABUPATEN TEGAL

Melengkapi rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Tegal yang ke 416, dengan mengusung tema "Mbangun Berkah Gawe Bungah", Pemkab Tegal menggelar Kirab Pataka yang dilaksanakan pada kamis pon (18/5).

Kirab ini terasa lengkap dengan adanya gunungan hasil bumi dari Perguruan Trijaya dan dikawal oleh puluhan Putera Trijaya yang sebagian besar merupakan para cantrik di Padepokan Wulan Tumanggal, salah satu padepokan Perguruan Trijaya yang berada di kaki gunung Slamet tepatnya di desa Dukuhtengah, kecamatan Bojong. Rombongan dipimpin langsung Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya, PW. Ang. KRT. K Teja Sulaksana.

Kirab diberangkatkan langsung oleh Bupati Tegal Ki Enthus Susmono dengan mengambil start di rumdin bupati dan finish di gedung DPRD kabupaten Tegal.

Marching band Satpol PP menjadi barisan paling depan kirab tersebut. Dibelakangnya diisi oleh Paskibra, pembawa pataka, kereta Bupati, gamelan, Gunungan Hasil Bumi, ibu-ibu camat se kabupaten Tegal, barongsay, pegawai Pemkab berbusana adat jawa, para Camat se kabupaten Tegal, marching band, dan ditutup oleh unsur komponen masyarakat se kabupaten Tegal.

Di alun-alun kota Slawi, iring - iringan kirab disambut dengan Tari Endel massal. Tarian khas dari kabupaten Tegal ini ditampilkan meriah oleh ribuan siswi SD se Kabupaten Tegal.

Kirab ini merupakan tradisi turun temurun, dan akan dilaksanakan setiap tahun sebagai upaya melestarikan budaya asli nusantara, jelas Ki Enthus Susmono.

Kirab ditutup dengan penyerahan pataka dan dilanjutkan dengan rapat paripurna istimewa di gedung DPRD.

 









7 PUTERA IKUT SUKURAN DALAM ACARA AMBAL WARSA ROMO GURU

7 (tujuh) Putera aktif ikut serta sukuran ulang tahun kelahiran, dalam acara Sukuran Ambal Warsa Romo Guru KRA Suryaningrat II (Pembina Perguruan Trijaya), Sabtu Legi malam Minggu Pahing, (6/05/2017).

Ke 7 Putera tersebut diantaranya Pt. Priwidodo, AAN dari Purwodadi, Pt. Purwanto dari Pemalang, Pt. Deny L, AAN dari Jakarta, Pt. Sakroni dari Tegal, Pt. Endar RP, AAN dari Tegal, Pt. Widha MK, AAN dari Purwodadi, dan Pt. Bambang Permadi, AAN dari Semarang.

Acara potong tumpeng digelar di Pamiwahan Putera, dilanjutkan dengan makan malam dan hiburan yang lokasinya berada di halaman depan Dalem Suryaningratan. Di panggung terbuka itu dipertunjukkan 3 (tiga) tampilan tari, yaitu Tari Guci dari Bumijawa, Tari Endel khas Kabupaten Tegal dan Tari Jaipong dari Tasikmalaya.

Selain dihadiri para Putera, simpatisan dan keluarga, hadir dalam acara tersebut Camat Bojong Drs. Edy Siswoyo lengkap dengan jajaran Forkopimcam yaitu Kapolsek Bojong AKP Sugeng Subagyo, SH, Danramil Bojong Kapten Inf. Fathurohman. Hadir juga beberapa tamu undangan dari tokoh masyarakat Tegal diantaranya Dr. Bimo, Drs, Sunyoto, MM yang merupakan sahabat RGKPA.









Senin, 08 Mei 2017

PEREMPUAN PELESTARI BUDAYA SPIRITUAL

Hari Kartini, yang setiap tahunnya diperingati oleh Perguruan Trijaya kali ini terlihat lain, yaitu hadirnya ibu Bupati Tegal, Nurlela Enthus Susmono. Ini kali pertama Padepokan Wulan Tumanggal yang sejak pertma berdiri pada 9 Septeber 1984, dihadiri oleh isteri bupati Tegal.

Kehadiran Ibu Bupati Tegal betepatan pada malam sukuran hari Kartini, yaitu Kamis Kliwon malam Jumat Legi, (20/4). Malam itu bertepatan juga dengan malam Supit (Jumat Legi), salah satu malam ritual yang rutin dilaksanakan setiap bulannya.

Minggu, 12 Maret 2017

KISEMAR, CARA MERAWAT INDONESIA DAN BHAKTI KITA PADA IBU PERTIWI

Dengan Sinergitas antar sesama pihak, akan terbangun kerjasama yang dapat saling mengisi. Padepokan bukan hanya untuk kanuragan, atau sekedar dimintai restu, tapi sekaligus ngelingke dan mencerahkan, nduduhke endi sing olo endi sing becik, Kebenaran moralitas dan integritas yang bermuara pada kehidupan yang sesuai dengan tujuan kehidupan dan esensi berbangsa dan bernegara. Inilah bagian dari KISEMAR, cara kita merawat Indonesia dan bhakti kita pada Ibu Pertiwi.

Itulah bait terakhir dari sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pada Amanat Pembina Upacara dalam rangka Kegiatan Sebelas Maret (KISEMAR) 2017 yang dibacakan oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyono, MM, Sabtu Kliwon 11 Maret 2017.

Upacara Bendera tersebut digelar di Lokaji Nusantara, yaitu sebuah lapangan yang berada di Padepokan Wulan Tumanggal. Upacara ini merupakan agenda rutin yang diadakan Perguruan Trijaya sebagai peringatan akan salah satu hari yang bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia, dimana sebuah keteladanan ditunjukkan oleh seorang pemimpin bangsa yang dengan jiwa besarnya, secara legawa menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya kepada generasi yang lebih muda,

Terlihat beberapa tamu yang hadir pada upacara bendera tersebut antara lain Kepala Sub Bagian Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, Kepala Kesbangpol dan linmas Kabupaten Tegal, Drs. Agus Sunarjo, MM, Camat Bojong, Muktarom, S.IP, Kapolsek Bojong AKP. Sugeng Subagyo, SH, Danramil Bojong Kapt. Inf. Fathurrohman, dan Kepala Desa Dukuhtengah, Kustinah.

Usai upacara bendera, sebuah tari yang bernama Tari Kalang, secara serentak ditampilkan oleh beberapa putera. Tari Kalang ini adalah salah satu karya Romo Guru KPA. EK Giripati Suryaningrat, pendiri sekaligus pembina pertama Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal.

Yang dinantikan setiap tampilan tari kalang, adalah ampal-ampalan. Tari Kalang merupakan jenis tari beladiri. Setiap gerakannya merupakan pengembangan jurus dimana telah dipelajari dalam olah kanuragan para Putera Tegal, menjadi sebuah gerak tari yang indah, namun sarat dengan kekuatan. Oleh sebab itu menjadi sebuah rutinitas dan sekaligus pertunjukkan yang menarik, selesai tari kalang dilanjutkan dengan ampal-ampalan. 

Setelah tampilan Tari Kalang, dilanjutkan dengan pemasangan tempat sampah secara simbolis oleh pembina upacara. Tempat sampah yang berjumlah 10 set ini ( organik dan anorganik ) merupakan sumbangan dari Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara atau yang disingkat dengan KEIMANAN dimana tanggal 11 Maret 2017 tepat berulang tahun yang ke 10. Ke sepuluh tempat sampah tersebut dipasang secara merata di tempat-tempat yang setrategis dalam Padepokan Wulan Tumanggal.


LOMBA FOTO, SUKURAN, NYEKAR DAN KERJA BAKTI

Untuk memeriahkan KISEMAR 2017 ini, KEIMANAN yang merupakan panitia penyelenggara kegiatan menggelar lomba foto dengan tema menampilkan bagian yang terjelek di Padepokan Wulan Tumanggal. Ide lomba tersebut berdasarkan arahan dari Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Panji Suryanigrat II. Ada 2 kategori dalam lomba foto ini, yaitu kategori foto terbaik dengan menampilkan bagian terjelek di Padepokan Wulan Tumanggal. Dan yang kedua adalah kategori hasil foto dengan menampilkan posisi pengambilan foto (angle) terunik.

Pada malam harinya diadakan sukuran ulang tahun KEIMANAN yang ke 10. Sukuran yang berupa pemotongan tumpeng ini juga diikuti oleh Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya KRT. PW. Ang. K Teja Sulaksana yang berulang tahun ke 60, dan salah satu keluarga Perguruan Trijaya, Tatan Setiawan yang berulang tahun ke 44. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Nini Kartika dan oleh Romo Guru diberikan kepada Kepala Bidang (Kabid) KEIMANAN, PAC. Aryanto, AAN, S.Hut.



Sukuran kali ini dimeriahkan tampilan 3 (tiga) tarian daerah. Yaitu tari Gatotkaca yang dibawakan oleh mas Priambodo sebagai pembuka acara sukuran. Tari yang kedua adalah Topeng Endel yang merupakan tarian khas Kabupaten Tegal. Tari ini dibawakan secara apik oleh 2 (dua) pelajar putri dari SMK N 1 Bumijawa.

Berikutnya  adalah tari Geol Denok. Tari kreasi dari kota Semarang ini ditampilkan oleh Ikha Sulis Setyaningrum, mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tengah melakukan riset Tari Kalang Perguruan Trijaya. Ikha juga pernah menjadi salah satu finalis ajang bakat Indonesia Menari yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional tahun lalu, mewakili kota Semarang.

Hari Berikutnya, Minggu Legi 12 Maret 2017, Kegiatan dilanjutkan dengan nyekar dan kerja bakti. Nyekar di Astanalaya Kasidanjati, yang merupakan lokasi pesarean RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat ini diikuti oleh pengurus lengkap, sebagian anggota KEIMANAN, dan AAN, serta didampingi oleh Nini Kartika. Sujudan nyekar dipimpin oleh Kabid KEIMANAN.

Kerja bakti yang dimaksud adalah revitalisasi sekretariat KEIMANAN yang terletak di depan Padepokan Wulan Tumanggal, tepatnya di Jln. Garuda No. 7 Desa Dukuhtengah, Bojong, Kabupaten Tegal. Sekretariat ini sengaja dibersihkan dan ditata ulang untuk difungsikan kembali sebagai pusat informasi & komunikasi para anggota KEIMANAN dan AAN disetiap kegiatan yang diadakan di Padepokan Wulan Tumanggal.