Rabu, 27 November 2019

Perguruan Trijaya menjadi peserta Gelar Tradisi Ritual 2019

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, S.TP, M.Si (beskap hitam),
saat mengunjungi stand pameran Perguruan Trijaya
Untuk pertama kalinya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan event besar yang bertajuk "Gelar Tradisi Ritual" Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tahun 2019.

Kegiatan yang melibatkan beberapa organisasi Penghayat Kepercayaan ini digelar selama 5 hari, yang dibuka pada Senin malam (18/11) sampai dengan Jumat siang (22/11) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Kegiatan yang sarat dengan tradisi budaya spiritual ini, meliputi Gelar Tradisi Ritual, Pameran, dan Seminar Penghayat Kepercayaan.

Organisasi Penghayat Kepercayaan yang terlibat dalam kegiatan tahun ini meliputi Cahya Buwana, Sedulur Sikep, AK Perjalanan, Sapta Darma (Persada), Kapribaden, Tunggul Sabdo Jati, MLKI, Perguruan Trijaya, Puanhayati, Ngudi Utomo dan Kejawen Maneges.

Kegiatan ini juga diisi dengan penampilan karya seni oleh beberapa Sekolah di Kota Semarang, dan pagelaran Wayang Kulit. Di hari terkahir Jumat (22/11) sebelum penutupan digelar Seminar Penghayat yang menghadirkan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dra. Christriyati Ariani, M.Hum. 

Sebuah ritus dalam bentuk gerak tari dari Perguruan Trijaya, yaitu Tari Kalang, membuka acara ini dengan spektakuler.

sumber : www.7jiwanusantara.com

Sabtu, 16 November 2019

Pengetan Jumenengan 6 Tahun Romo Guru KRA Suryaningrat II


Jumenengan, sebuah prosesi adat dan tradisi yang bernilai sakral  dilaksanakan oleh Perguruan Trijaya di Padepokan Wulan Tumanggal, Minggu Wage lalu (10/11).

Pengetan (Peringatan) Jumenengan Romo Guru KRA Suryaningrat II sebagai pembina Perguruan Trijaya merupakan sebuah proses yang diawali dengan kondurnya Pembina pertama yaitu Romo Resi (RG KPA Giripati Suryaningrat) 6 tahun yang lalu, yaitu pada Minggu Pon, 10 November 2013, tepat bersamaan dengan hari Pahlawan.

Prosesi Jumenengan dilaksanakan di Astanalaya Kasidan Jati, di pesarean Romo Resi. Disini dilaksanakan Kirab ubo rampe dan Nyekar. Sebelum prosesi Nyekar, didahulu dengan tari Bedhaya Wulan Tumanggal yang diperagakan 9 penari perempuan.






Selasa, 10 September 2019

Gubernur Jawa Tengah ini naik motor kunjungi Padepokan Wulan Tumanggal,

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo datangi Padepokan Wulan Tumanggal dengan naik motor. Kunjungan orang nomor satu di Jawa Tengah ini, dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Padepokan Wulan Tumanggal yang ke 35.

Kunjungan ini adalah ke 2 (dua) kalinya sejak tahun 2013 lalu seminggu sebelum Pilkada pertama dia terpilih. Selama menjabat Gubernur, Ganjar menyampaikan maaf karena 2 kali dia gagal memenuhi undangan di acara yang diselenggarakan Perguruan Trijaya.

Rombongan bermotor Ganjar yang bertolak dari Purbalingga ini disambut langsung Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA Suryaningrat II dan Bupati Tegal Umi Azizah yang sudah datang di Padepokan Wulan Tumanggal. Sambutan Romo Guru kepada Gubernur Jateng ini dengan bentuk pemberian iket (ikat kepala) yang dipasang langsung oleh Romo Guru,sesaat setelah Ganjar turun dari motor, dengan diiringi tari Gambyong yang ditampilkan oleh 3 (tiga) remaja perempuan anggota Perguruan Trijaya.






Selasa, 03 September 2019

Hari Raya Sura 1935 J. Keluarga Rahayu penuh harmonis, kunci sukses masa depan

Keharmonisan, komunikasi, pengertian dan kebersamaan dalam rumah tangga akan memberi dampak yang sangat besar pada kesusksesan kehidupan kita pada masa masa yang akan datang. Hubungan suami dan isteri, ayah dan anak, ibu dan anak diharapkan terjaga dengan baik jika ingin hidup kita menjadi lebih baik, tanpa masalah yang berarti.

Hal diatas disampaikan Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA. Suryaningrat II dalam pembinaan Keluarga Rahayu dimana menjadi acara penutup dalam rangkaian kegiatan Hari Raya Sura 1935 J / 2019 M yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari mulai Jumat (29/8) hingga Minggu (1/9) di Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal.

Selasa, 20 Agustus 2019

Indonesia dibangun diatas Keberagaman sekaligus menjadi Kekuatan dalam Persatuan.

Bangsa kita Indonesia dibangun diatas keberagaman, sehingga menjadi sebuah kekuatan disaat semua komponen bangsa ini bisa bersatu. Keberagaman ini merupakan aset, kekayaan bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju dengan pembangunan SDM yang unggul.

Hal tesebut diatas disampaikan Romo Guru KRA. Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam amanat Pembina Upacara Peringatan HUT ke 74 Republik Indonesia di Padepokan Wulan Tumanggal Kabupaten Tegal, Sabtu Wage (17/8).

Romo Guru juga menegaskan kembali kepada para peserta upacara untuk menjalankan 7 (tujuh) nilai Jiwa Nusantara, diantaranya Bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berbudi Pekerti Luhur, Rela Berkorban, Saling Menghormati, Gotong Royong, Bangga Sebagai Bangsa Indonesia, dan Bersatu.

Upacara Bendera ini mengawali rangkaian kegiatan peringatan HUT RI ke 74, sebelum dilaksanakan berbagai lomba dan sukuran di malam Minggu Kliwon (18/8). Sebagai peserta upacara, selain diikuti keluarga besar Perguruan Trijaya, upacara ini juga diikuti perwakilan peserta didik SMP N 1 Bojong berikut guru pendamping.

Upacara Bendera yang dilaksanakan oleh Perguruan Trijaya ini merupakan kegiatan rutin tahunan termasuk beberapa hari besar nasional lainnya, seperti Kisemar 11 Maret, Hari Kartini 21 April, Hari Pancasila 1 Juni dan Hari Pemuda 28 Oktober.








Minggu, 02 Juni 2019

Meneguhkan kembali semangat Persatuan, di Hari Pancasila 2019


Sabtu Pahing (1/6), Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal, kembali menggelar upacara bendera dalam rangka peringatan Hari Pancasila 2019 di Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal. Peringatan Hari Pancasila ke 74 ini mengukuhkan kembali bahwa Perguruan Trijaya telah melaksanakan peringatan Hari Pancasila yang ke 19, tepatnya mulai tahun 2000 silam.

"Di tahun ke 16 kami (PerguruanTrijaya) melaksanakan peringatan Hari Pancasila, tepatnya tahun 2016 pemerintah baru menetapkan 1 Juni menjadi hari libur nasional dan kami apresiasi meskipun ada yang kurang pas karena menggunakan kata "lahir"pada Hari Lahir Pancasila", jelas Romo Guru KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam amanat pembina upacara.

"Karena lahir itu akan ada satu batas seperti orang berkehidupan, yaitu mati. "Dengan mengambil analog atau persamaan 21 April adalah sebuah peristiwa pribadi RA Kartini, pemerintah Republik Indonesia menetapkan sebagai Hari Kartini, bukan Hari Lahir Kartini. Untuk itu Trijaya tetap bersepakat 1 Juni adalah Hari Pancasila, hari dimana rumusan 5 (lima) dasar negara kita dibacakan oleh Ir. Soekarno dihadapan BPUPKI", tambah Romo Guru.

Pada kesempatan ini Romo Guru juga menyampaikan selamat berpuasa bagi peserta upacara yang menunaikan ibadah puasa dan sebentar lagi akan berakhir dan menyambut hari raya idul fitri.

Dalam kesempatan ini juga beliau menyampaikan puji sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa bangsa Indonesia telah selesai melaksanakan hajat terbesar didunia yaitu pesta demokrasi Pemilu. Untuk itu beliau menyerukan kembali akan pentingnya semangat untuk bangkit kembali, meneguhkan rasa persatuan Indonesia, dengan mewujudkan sebuah keharmonisan, sinergi antara sesama anak bangsa yang berbhinneka Tunggal Ika.

Meskipun diadakan dibulan Ramadhan, tidak menyurutkan semangat para Putera, simpatisan, tamu dan keluarga untuk mengikuti upacara bendera. Terlebih upacara kali ini juga diikuti oleh barisan Saka Bayangkara Kabupaten Tegal dan BANSER Bojong, Kabupaten Tegal.

Malam sebelumnya, diadakan sukuran berupa tumpengan sebagai tradisi di Perguruan Trijaya. Dalam acara tersebut terdapat 9 (sembilan) Putera dan keluarga yang ikut sukuran ulang tahun.