Minggu, 12 Maret 2017

KISEMAR, CARA MERAWAT INDONESIA DAN BHAKTI KITA PADA IBU PERTIWI

Dengan Sinergitas antar sesama pihak, akan terbangun kerjasama yang dapat saling mengisi. Padepokan bukan hanya untuk kanuragan, atau sekedar dimintai restu, tapi sekaligus ngelingke dan mencerahkan, nduduhke endi sing olo endi sing becik, Kebenaran moralitas dan integritas yang bermuara pada kehidupan yang sesuai dengan tujuan kehidupan dan esensi berbangsa dan bernegara. Inilah bagian dari KISEMAR, cara kita merawat Indonesia dan bhakti kita pada Ibu Pertiwi.

Itulah bait terakhir dari sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pada Amanat Pembina Upacara dalam rangka Kegiatan Sebelas Maret (KISEMAR) 2017 yang dibacakan oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyono, MM, Sabtu Kliwon 11 Maret 2017.

Upacara Bendera tersebut digelar di Lokaji Nusantara, yaitu sebuah lapangan yang berada di Padepokan Wulan Tumanggal. Upacara ini merupakan agenda rutin yang diadakan Perguruan Trijaya sebagai peringatan akan salah satu hari yang bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia, dimana sebuah keteladanan ditunjukkan oleh seorang pemimpin bangsa yang dengan jiwa besarnya, secara legawa menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya kepada generasi yang lebih muda,

Terlihat beberapa tamu yang hadir pada upacara bendera tersebut antara lain Kepala Sub Bagian Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, Kepala Kesbangpol dan linmas Kabupaten Tegal, Drs. Agus Sunarjo, MM, Camat Bojong, Muktarom, S.IP, Kapolsek Bojong AKP. Sugeng Subagyo, SH, Danramil Bojong Kapt. Inf. Fathurrohman, dan Kepala Desa Dukuhtengah, Kustinah.

Usai upacara bendera, sebuah tari yang bernama Tari Kalang, secara serentak ditampilkan oleh beberapa putera. Tari Kalang ini adalah salah satu karya Romo Guru KPA. EK Giripati Suryaningrat, pendiri sekaligus pembina pertama Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal.

Yang dinantikan setiap tampilan tari kalang, adalah ampal-ampalan. Tari Kalang merupakan jenis tari beladiri. Setiap gerakannya merupakan pengembangan jurus dimana telah dipelajari dalam olah kanuragan para Putera Tegal, menjadi sebuah gerak tari yang indah, namun sarat dengan kekuatan. Oleh sebab itu menjadi sebuah rutinitas dan sekaligus pertunjukkan yang menarik, selesai tari kalang dilanjutkan dengan ampal-ampalan. 

Setelah tampilan Tari Kalang, dilanjutkan dengan pemasangan tempat sampah secara simbolis oleh pembina upacara. Tempat sampah yang berjumlah 10 set ini ( organik dan anorganik ) merupakan sumbangan dari Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara atau yang disingkat dengan KEIMANAN dimana tanggal 11 Maret 2017 tepat berulang tahun yang ke 10. Ke sepuluh tempat sampah tersebut dipasang secara merata di tempat-tempat yang setrategis dalam Padepokan Wulan Tumanggal.


LOMBA FOTO, SUKURAN, NYEKAR DAN KERJA BAKTI

Untuk memeriahkan KISEMAR 2017 ini, KEIMANAN yang merupakan panitia penyelenggara kegiatan menggelar lomba foto dengan tema menampilkan bagian yang terjelek di Padepokan Wulan Tumanggal. Ide lomba tersebut berdasarkan arahan dari Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Panji Suryanigrat II. Ada 2 kategori dalam lomba foto ini, yaitu kategori foto terbaik dengan menampilkan bagian terjelek di Padepokan Wulan Tumanggal. Dan yang kedua adalah kategori hasil foto dengan menampilkan posisi pengambilan foto (angle) terunik.

Pada malam harinya diadakan sukuran ulang tahun KEIMANAN yang ke 10. Sukuran yang berupa pemotongan tumpeng ini juga diikuti oleh Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya KRT. PW. Ang. K Teja Sulaksana yang berulang tahun ke 60, dan salah satu keluarga Perguruan Trijaya, Tatan Setiawan yang berulang tahun ke 44. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Nini Kartika dan oleh Romo Guru diberikan kepada Kepala Bidang (Kabid) KEIMANAN, PAC. Aryanto, AAN, S.Hut.



Sukuran kali ini dimeriahkan tampilan 3 (tiga) tarian daerah. Yaitu tari Gatotkaca yang dibawakan oleh mas Priambodo sebagai pembuka acara sukuran. Tari yang kedua adalah Topeng Endel yang merupakan tarian khas Kabupaten Tegal. Tari ini dibawakan secara apik oleh 2 (dua) pelajar putri dari SMK N 1 Bumijawa.

Berikutnya  adalah tari Geol Denok. Tari kreasi dari kota Semarang ini ditampilkan oleh Ikha Sulis Setyaningrum, mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tengah melakukan riset Tari Kalang Perguruan Trijaya. Ikha juga pernah menjadi salah satu finalis ajang bakat Indonesia Menari yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional tahun lalu, mewakili kota Semarang.

Hari Berikutnya, Minggu Legi 12 Maret 2017, Kegiatan dilanjutkan dengan nyekar dan kerja bakti. Nyekar di Astanalaya Kasidanjati, yang merupakan lokasi pesarean RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat ini diikuti oleh pengurus lengkap, sebagian anggota KEIMANAN, dan AAN, serta didampingi oleh Nini Kartika. Sujudan nyekar dipimpin oleh Kabid KEIMANAN.

Kerja bakti yang dimaksud adalah revitalisasi sekretariat KEIMANAN yang terletak di depan Padepokan Wulan Tumanggal, tepatnya di Jln. Garuda No. 7 Desa Dukuhtengah, Bojong, Kabupaten Tegal. Sekretariat ini sengaja dibersihkan dan ditata ulang untuk difungsikan kembali sebagai pusat informasi & komunikasi para anggota KEIMANAN dan AAN disetiap kegiatan yang diadakan di Padepokan Wulan Tumanggal.


































Senin, 27 Februari 2017

DAERAH PURWODADI GELAR RESEPSI 51TH PERGURUAN TRIJAYA

Minggu Pahing, 26 Februari 2017 menjadi hari yang sangat penting dan bersejarah bagi keluarga besar Perguruan Trijaya Daerah Purwodadi. Di gedung serba guna UPTD Pendidikan di Kradenan, kecamatan paling timur kabupaten Grobogan ini, sontak ramai oleh sebuah acara yaitu Resepsi Ulang Tahun ke 51 Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal.

Kehadiran Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Panji Suryaningrat II di kota Kradenan ini memberikan angin segar tersendiri khususnya bagi 117 Putera dan keluarga yang memenuhi gedung itu.

Hadir sebagai tamu undangan diantaranya Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Kredenan, Suwardi, S.Pd, MM. M.Pd, Kabid Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Grobogan, Drs. Marwoto, Sekretaris Badan Kesbangpolinmas Grobogan, Bambang Siswo, S.Sos, Kabid Wawasan Kebangsaan, Titi Rahayu, S.H, dan jajaran Forkopimcam Kredenan.








Selasa, 27 Desember 2016

LOMBA TARI KALANG AAN, MERIAHKAN PAKSI KENCANA 2016

Sebanyak 16 AAN (Anak Alam Nusantara) ikut andil dalam lomba Tari Kalang AAN di Padepokan Wulan Tumanggal, Minggu Wage malam Senin Kliwon (25/12). Dari ke 16 peserta tersebut diambil 6 penampil terbaik dalam memperagakan sebuah tari bela diri karya besar RGKPA tersebut.

Selain mendapatkan trophy dan piagam, mereka juga memperoleh uang pembinaan. "Semua peserta yang tidak masuk menjadi juara juga mendapatkan uang pembinaan, karena kita tahu untuk tampil di atas panggung dibutuhkan keberanian yang tinggi bagi anak anak, dan kita apresiasi itu", jelas Romo Guru KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya yang lebih akrab disapa dengan Romo Panji.

Lomba Tari Kalang AAN ini digelar dalam kegiatan besar, yaitu Paksi Kencana 2016. Kegiatan ini merupakan rangkaian 3 hari resepsi keluarga Romo Panji yang punya hajat menyunatkan putera bungsu beliau yang bernama Elang Rahdite Paksi (11) atau yang biasa dipanggil Radit. Kegiatan ini berlangsung sejak Jumat Pahing (23/12) sampai dengan Senin Kliwon (26/12).

Di hari pertama, diisi dengan mandi curug dan dilanjutkan dengan Kirab Sisisangaan dan Kentongan. Pada kirab ini, dik Radit dikirab dengan manaiki sisingaan dan diikuti oleh 4 anak anak lain sebagai pendamping. Musik pengiringnya adalah kelompok Kentongan dari Cirebon.

Setelah kirab, pukul 5 sore dilanjutkan dengan prosesi siraman dan ruwatan. Prosesi ritual yang berada di Curug Wulan Tumanggal ini dipimpin langsung oleh Romo Panji. Selesai meruwat dik Radit, Romo Panji memberikan apresiasi kepada seluruh pendamping dan pengiring siraman dik Radit, yaitu melakukan puputan kepada siapapun yang ikut dalam prosesi siraman dan ruwatan tersebut. Suasana sakralpun seakan berlangsung lama saat satu persatu para peserta dipuput oleh Romo Panji hingga terbenamnya matahari.       

Selesai acara tersebut, dilanjutkan dengan Caosan. Seperti biasa, caosan ini berlangsung hingga pagi hari. Peserta caosan dibagi 4 kelompok yang secara bergantian melaksanakan sujudan di Sasana Nunggalati. Ditutup caosan jam 5 pagi, dimulailah proses sunatan dik Radit. Dr Bambang Agustyo dari Demak yang mendapat kesempatan untuk menyunat dik Radit. Dr Tyok (panggilan akrabnya) ini adalah dokter yang sama yang telah menyunat ke 2 kakak dik Radit, mas Risang dan mas Rey.