Jumat, 21 Agustus 2015

BENDERA KEIMANAN BERKIBAR DI PUNCAK SLAMET

Bendera KEIMANAN bersanding dengan Sang Merah Putih, berkibar bersama di puncak Gunung Slamet. Bendera ini dibawa 6 pemuda yang melakukan pendakian dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70. Sejumlah pendaki merupakan anggota KEIMANAN (Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Niusantara) Perguruan Trijaya Pusat Tegal diantaranya Pt. Andika, Pt. Aji, Pt. Hadi dan Pt. Leo serta 2 pemuda dusun Peneker desa Dukuhtengah bernama Akbar dan Umar.

Rombongan pendaki berangkat dari Padepokan Wulan Tumanggal pada hari kamis (20/8) pukul 8 pagi. Dilepas oleh Pakdhe Adi, Budhe Acih, Pt. Sudjono dan Pt. Rusadi rombongan pun menuju ke pos pendakian Bambangan, Purbalingga. Pukul 10 pagi rombongan sampai di Blambangan. Perjalanan ke puncak ditempuh dengan waktu tempuh 9 jam dengan hanya beristirahat 4 kali. Ada 9 Pos yang harus dilewati para pendaki ini. Dengan medan tergolong sulit akhirnya pukul 7 malam pendakian pun sampai pos terakhir, tepatnya 500 meter dari puncak. 

Sambil beristirahat sejenak para pendaki ini pun segera memasang tenda untuk berteduh dan berlindung dari kencangnya angin. Tidak ketinggalan pula membuat perapian untuk memasak dan penghangat dari dinginnya suhu dipuncak. Pendakian ini terasa berat karena dilakukan pada saat musim kemarau panjang sehingga dingin di atas gunung mencapai puncak-puncaknya. "Meskipun kami pakai jaket rangkap 3 anginnya masih tembus sampai ke badan", tutur Pt. Aji salah satu dari tim pendaki. Kencangnya angin pun hampir membuat Pt. Aji yang terbilang kurus ini hampir terseret angin. "Untung badan saya dipegang mas Dika", tambahnya.

Jumat Pahing (21/8) pukul 7 pagi, para pendaki pun berhasil mengibarkan Sang Merah Putih dan Bendera KEIMANAN. Rencana semula akan dikibarkan jam 7 pagi namun karena besarnya tiupan angin maka baru bisa dikibarkan mundur satu jam. Pukul 12.30 siang rombongan pun turun dari puncak dan sampai di pos Blambangan pukul 5 sore dan tiba di Padepokan Wulan Tumanggal pukul 8 malam.

Jalur Pendakian Bambangan Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet. Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Selepas dari jalan aspal perkampungan belok ke kanan, Pendaki akan menyeberangi sungai dengan cara melompat dari satu batu ke batu yang lain, bila sedang musim hujan aliran air deras akan menutupi batu-batuan ini. Selanjutnya akan melewati ladang penduduk selama 1 jam menuju pos Payung dengan keadaan medan yang terjal. Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara. Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat. Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput. Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Edelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari. Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan. Plawangan (lawang = pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan. Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi. Apabila kita ingin turun menuju jalur lain, misalnya Guci, pendaki harus melewati kompleks kawah untuk memilih jalur yang diinginkan. - See more at: http://www.catatanhariankeong.com/2013/03/jalur-pendakian-gunung-slamet.html#sthash.sQlaP2ba.dpuf

Sumber: http://www.catatanhariankeong.com/2013/03/jalur-pendakian-gunung-slamet.html
Muhammad ChPendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor penyulit lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat. 
Gunung Slamet adalah gunung paling tinggi yang ada di Jawa Tengah. Sedangkan di pulau Jawa, tinggi maksimal gunung ini hanya kalah dari Semeru di Jawa Timur. Dengan status ini, maka tak heran jika banyak pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Slamet dan berdiri di atas tanah tertinggi di Jawa Tengah.

Walau track pendakian Gunung Slamet ini terkenal sulit plus status gunungnya yang masih sangat aktif, namun para pendaki tetap menjadikan gunung ini sebagai salah satu tujuan pendakian favorite. Gunung Slamet sendiri berada di antara 5 kabupaten di Jawa Tengah yakni Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang.

Sebagaimana gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa. Retakan pada lempeng membuka jalur lava ke permukaan. Catatan letusan diketahui sejak abad ke-19. Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil. Aktivitas terakhir adalah pada bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar. Sebelumnya ia tercatat meletus pada tahun 1999.

Maret 2014 Gunung Slamet menunjukkan aktifitas dan statusnya menjadi Waspada. Berdasarkan data PVMBG, aktivitas vukanik Gunung Slamet masih fluktuatif. Setelah sempat terjadi gempa letusan hingga 171 kali pada Jumat 14 Maret 2014 dari pukul 00.00-12.00 WIB, pada durasi waktu yang sama, tercatat sebanyak 57 kali gempa letusan. Tercatat pula 51 kali embusan. Pemantauan visual, embusan asap putih tebal masih keluar dari kawah gunung ke arah timur hingga setinggi 1 km.

Gunung Slamet memiliki cerita legenda yang turun temurun. Nama slamet diambil dari bahasa Jawa yang artinya selamat. Nama ini diberikan karena dipercaya gunung ini tidak pernah meletus besar dan memberi rasa aman bagi warga sekitar. Menurut kepercayaan warga sekitar, bila Gunung Slamet sampai meletus besar maka Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua bagian. 

Jalur pendakian standar adalah dari Blambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden dan dari Desa Gambuhan, Desa Jurangmangu dan Desa Gunungsari di Kabupaten Pemalang. Selain itu adapula jalur yang baru saja diresmikan tahun 2013 lalu, yaitu jalur Dhipajaya yang terletak di Kabupaten Pemalang.

Jalur pendakian lainnya adalah melalui obyek wisata pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal. Meskipun terjal, rute ini menyajikan pemandangan yang paling baik. Kawasan Guci dapat ditempuh dari Slawi menuju daerah Tuwel melewati Lebaksiu.

Padepokan Wulan Tumanggal yang berada di kaki lereng Gunung Slamet, menjadi tempat yang sangat kondusif bagi para Putera Trijaya dalam malaksanakan kegiatan baik yang bersifat keilmuan, organisasi, kemasyarakatan maupun yang bersifat kenegaraan/kebangsaan. Selain digunakan sebagai kegiatan internal Perguruan Trijaya, Padepokan Wulan Tumanggal juga dibuka untuk umum sebagai lokasi kegiatan baik santai, resmi maupun yang bersifat spiritual.






Selasa, 18 Agustus 2015

TARI KALANG MERIAHKAN UPACARA PERINGATAN REPUBLIK INDONESIA KE 70

Senin Pon 17 Agustus 2015, semua warga desa dan Keluarga Besar Perguruan Trijaya berduyun-duyun menuju lapangan sepak bola di desa Dukuhtengah kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Lapangan ini sontak ramai karena untuk pertama kali Upacara Bendera yang diselenggarakan oleh KEIMANAN (Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara) Perguruan Trijaya Pusat Tegal. Upacara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 70. Upacara bendera biasa dilaksanakan Perguruan Trijaya di Sasana Padepokan Wulan Tumanggal untuk memperingati hari-hari besar nasional. Atas kerjasama dengan Kepala Desa Dukuhtengah, upacara kali ini difasilitasi pihak desa untuk digunakan sebagai lokasi upacara bendera.

Sabtu, 27 Juni 2015

SUPIT 26 JUNI 2015, PERSIAPAN AWAL ULANG TAHUN EMAS PERGURUAN TRIJAYA

SUPIT, sudah menjadi sujudan rutin setiap malam Jumat Legi di Padepokan Wulan Tumanggal. Ada yang istimewa dalam malam SUPIT ke 6 di tahun 2015 ini, yaitu tumpengan ulang tahun 4 Putera dan 1 simpatisan. Diantaranya yaitu PW. Ang. Endang Purwaningsih, PAB. Endah Kusumaningsih, PAB. Estu Risang Punarbowo, AAN, PAB. Rapto Lestaluhu, AAN, dan adik Adriel (cucunda budhe Nungki).

Tumpengan ini terasa meriah dengan dihibur organ tunggal mas Herjuna bersama rekannya mas Heru dari Kota Tegal. Potong tumpeng dilakukan oleh Nini Kartika kemudian diserahkan kepada PW. Ang, RMT. Endang Purwaningsih. Sate pengobatan dan gulai kambing menjadi menu spesial makan malam pada SUPIT kali ini. Sebelum makan malam dimulai beberapa Putera, simpatisan dan tamu undangan yang sedang menunaikan ibadah puasa bisa menikmati sajian takjil (aneka bubur dan buah-buahan) yang telah disediakan.

Sujudan dilaksanakan di sanggar pamujan, seperti biasa dibagi dalam 3 kelompok. Khusus kelompok terakhir yang terdiri atas pengurus pusat dan pengurus daerah naik untuk sujudan pada pukul 03.00, karena sebelumnya harus menyelesaikan rapat pembahasan rencana kegiatan Ulang Tahun Padepokan Wulan Tumanggal 9 September dan persiapan Ulang Tahun Emas Perguruan Trijaya.

Dalam pengantar SUPIT, Pembina Perguruan Trijaya RG. KRA Suryaningrat II memberikan himbauan yaitu selain berdoa untuk pribadi keluarga dan bangsa, para Putera dihimbau menyisipkan doa untuk keberhasilan peringatan Ulang Tahun Emas Perguruan Trijaya yang rencana akan dilaksanakan secara besar-besaran. Selanjutnya, doa ini diharapkan untuk disisipkan dalam setiap doa dan sujudan Putera. Himbauan ini untuk bisa disebarluaskan kepada semua Putera dimanapun berada.



 









Minggu, 07 Juni 2015

RENUNGAN SUCI PERINGATAN AMBAL WARSA BUNG KARNO KE 114

Jumat Kliwon malam Sabtu Legi (5/6), Sebuah acara Renungan Suci dalam rangka memperingati ambal warsa Bung Karno yang ke 114. Acara yang dipersiapkan dengan sederhana dalam ruangan yang sangat sempit karena telah berubah menjadi ruko disekelilingnya, saya tidak faham kenapa lingkungan penjara Banceuy yang sangat bersejarah bagi bangsa kini tersisa hanya sepetak ruangan kecil diantara deretan ruko/ pertokoan, 

Malam semakin temaram ketika aku memasuki ruang acara, yang pertama aku lihat patung sosok Bung Karno duduk memegang buku dan alat tulis dalam posisi tumpang kaki. Disekelilingnya ada 114 lilin yang belum menyala. Kutengok arah kanan dan kulihat satu satunya bangunan kecil berukuran 210cm x 146cm dengan tinggi 250cm.

Setelah aku tanya, itu bangunan tempat beliau dulu dipenjarakan. Aku terhenyak dan terbelalak kaget, betapa tidak dalam bangunan yang sekecil itu bertahun tahun beliau disekap. Akupun penasaran kutengok gerangan ada apa didalamnya. Dipan kecil ditutup tikar pandan yang sudah lusuh dan bantal putih yang sudah berubah warna kecoklatan, anganku melayang jauh kebelakang dalam kesempitan penjara itu namun semangat perjuangan beliau merengkuh seluruh jagat nusantara dengan pemikiran Akan dibagaimanakan INDONESIA.

Pukul 21.00 acara dimulai diawali padamnya seluruh ruang acara. Kumandang MC membimbing rangkaian acara hingga prosesi penyalaan API SUCI satu per satu. Komponen pecinta Bung Karno menyalakan lilin lilin disekitar patung beliau. Sangat menyentuh ketika iringan lagu "Syukur" mengalun berbareng menyalanya 114 lilin hingga ruangan yang gelap menjadi merona merah sinar lilin.

Di penghujung acara muncul sesosok perempuan berkerudung berdiri diantara lilin lilin geraknya mundar mandir. Apa yang akan dilakukanya tanyaku, wow sederet dialog antara Bung Karno dan Ibu Inggit dia ucapkan, fasih dan berurutan. Kagum sekagum kagumnya aku, seakan diriku dibawa oleh waktu yang mundur sekian tahun yang lalu mendengarkan kisah cinta beliau yang becampur bahana perjuangan untuk memerdekakan Indonesia. Hadirin semua diam tak ada yang bersuara hingga usai cerita dan diahiri tepuk tangan yang meriah pukul 00.00

Pukul 12 malam semua peserta meninggalkan ruang acara, tinggal aku, Ketua KEIMANAN (Pt. Aryanto, AAN), Sekretaris DPP (Pt. Risnanto BA, AAN), Pt. Anin, AAN, Pt. Asep Ardi dan Ua. Dirman serta beberapa orang. Aku menyempatkan waktu untuk masuk ke dalam bekas penjara beliau, aku bersujud didalam begitu pula ketua KEIMANAN.

Usai acara aku merasa lapar dan menyempatkan makan di warung perkedel bondon, kenyang dan ada evaluasi kegiatan... biasa Ua Dirman.

Pukul 02.00 (Sabtu dini hari) aku pamit pulang dengan sejuta bayang dan angan sampai rumah (Salem ) pukul 07.00 tentunya istirahat sampai jam 10.00. Berangkat ke WT (Padepokan Wulan Tumanggal) dan langsung ke Wanarata untuk caosan mitoni. Maturnuwun. Rahayu.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Coretan Perjalanan Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya PW. Ang. KRT. K. Tejo Sulaksana
di acara Renungan Suci Bung Karno 114 di Penjara Banceuy Bandung.








 

Senin, 01 Juni 2015

PERINGATAN HARI PANCASILA 2015



1 Juni 2015, menjadi tanggal yang sangat bersejerah bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia. 70 tahun yang lalu Pancasila disampaikan Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI untuk menjadi Dasar Negara Republik Indonesia.

Sudah menjadi rutinitas setiap tanggal 1 Juni, Perguruan Trijaya menyelenggarakan peringatan Hari Pancasila sebagai penghormatan terhadap dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan kali ini bertepatan dengan acara yang mendahuluinya, yaitu Caosan rutin Minggu Kliwon yang bersamaan dengan Tumpengan sukuran Hari Pancasila dan Ulang Tahun Elang Rahdite Paksi, AAN (Putera bungsu RG. KRA Suryangrat II).

Minggu paginya acara dilanjutkan dengan Muslub (Musyawarah Luar Biasa) KEIMANAN (Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara). Dalam Muslub ini menghasilkan beberapa keputusan penting salah satu diantaranya pembentukkan Pengurus KEIMANAN baru.

Senin Legi 1 Juni 2015 dilanjutkan dengan upacara bendera yang dilaksanakan di Lokaji Parangtumaritis Padepokan Wulan Tumanggal. Menjadi inspektur upacara adalah Dandim 0712 Tegal yang diwakili Danramil Bojong Kapten Inf. Adi Hartono. Dalam amanatnya, Dandim 0712 Letkol Inf Hari Santoso S.Sos menyampaikan apresiasinya kepada Perguruan Trijaya yang selalu menjalin hubungan baik dengan TNI dan melaksanakan peringatan Hari Pancasila yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya.

Selain dari keluarga besar Perguruan Trijaya, ikut dalam barisan pasukan upacara dari Gafatar Tegal, Polhut Kabupaten Tegal, Pelajar SDN Dukuhtengah dan masyarakat sekitar Padepokan Wulan Tumanggal.

























Sabtu, 16 Mei 2015

GIWANG 2015

KEGIATAN TAWANGMANGU 2015

Sebanyak 80 Putera menjadi peserta dalam kegiatan yang diadakan oleh Perguruan Trijaya Pedepokan Argasonya - Pusat Tegal. Kegiatan yang berlangsung selama 3 (tiga) hari ini, dibuka pada hari Kamis Pon (14/05) pukul 17.00 dan ditutup hari Sabtu Kliwon (16/05) bertempat di hotel Pondok Indah Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. 

Dengan bertajuk "Penguatan PPM, Pendadaran PELATIH, Pemantapan Pengurus Pusat dan Daerah" merupakan kegiatan yang murni bersifat keilmuan dimana diharapkan dengan diadakannya kegiatan ini akan memberikan angin segar sebagai spirit dalam menjaga, menguatkan dan memantapkan keyakinan dalam melaksanakan ajaran perguruan.

Bentuk kegiatan ini berupa pemberian materi oleh Pembina RG. KRA Suryaningrat II, Putera Widya, Ketua Umum DPP dan Kabid PPM (Putera Penghayat Murni) Peguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal. Kegiatan juga dilaksanakan dalam bentuk pendalaman di alam terbuka. Untuk acara klasikal dilaksanakan di Ruang Pertemuan Hotel Pondok Indah, sedangkan pendalaman alam dilaksanakan di Cemoro Kandang lereng Gunung Lawu


Sukuran Ambal Warsa RG. KRA. Suryaningrat II
Malam Jumat Wage, Setelah acara pembukaan diadakan sukuran sukuran ambal warsa kaping 47 RG. KRA. Suryaningrat II yang diwujudkan dalam acara tumpengan. Dalam tumpengan ini, ada 2 (dua) Putera yang ikut serta dalam sukuran ulang tahun yaitu PAC. Widha Mangesti K, AAN dan PAC. Bambang Permadi, AAN. Tumpeng dipotong oleh PW. Ang. Endang Purwaningsih kemudian diserahkan oleh Ibu Wulan Tumanggal kepada RG. KRA. Suryaningrat II serta pengalungan ronce melati dilakukan oleh Nini Kartika.

Pengukuhan Ketua PPK, Ketua Koperasi Wirogati dan Ketua Penatih
Secara organisasi, didalam Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal mempunyai beberapa kepengurusan baik di pusat maupun di daerah. Dalam upaya peningkatan kinerja dan fungsi organisasi tersebut agar bisa mencapai hasil yang maksimal maka diadakan perubahan posisi dalam kepengurusan yang kali ini dilakukan dalam kepengurusan pusat. Dalam Giwang 2015 ini dilaksanakan proses pelantikan dan pengukuhan kepengurusan, diantaranya PAB. Endah Kusumaningsih sebagai Kabid. PPK (Pemberdayaan Perempuan Kartini), PAC. Ang. Efi Kuswarjanti sebagai Kabid. Wirogati dan PW. Ang. Joko Sugiyanto sebagai Kabag. Penatih. Dengan dilantik dan dikukuhkannya kabid dan kabag oleh Pembina Perguruan Trijaya ini, diharapkan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan memaksimalkan kinerja organisasi.