Jumat, 31 Januari 2014

LAKU NYEPI ROMO PANJI


Minggu Kliwon 26 Januari 2014, Romo Panji KRA Suryaningrat II telah berhasil melaksanakan Laku Nyepi di Sanggar Pamujan Sasana Wulan Tumanggal. Pada kesempatan tersebut Beliau melaksanakan Laku didampingi oleh 5 (lima) penderek, yaitu PAC. Ang. Mudiro, PAC. Ang. Rusadi, PAC. Ang. Sakroni, PAC. Andi Pranoto, dan Pt. Siti.

Laku Nyepi yang dilaksanakan dalam waktu 24 jam tersebut dimulai pada Sabtu Wage pukul 17.00 dan diakhiri pada hari Minggu Kliwon pukul 17.00. Pilihan pada hari Minggu Kliwon karena bertepatan dengan Wiyosan Beliau RG. KPA. EK. Giripati Suryaningrat. Disampaikan oleh Romo Panji bahwa Laku ini merupakan sebuah awal dari Laku yang akan datang.

Beliau juga menambahkan bagi para Putera yang mempunyai sebuah keinginan/cita-cita dan akan melaksanakan Laku yang sama yaitu Laku Minggu Kliwon, diperbolehkan tetapi tanpa menggunakan barang-barang Pusaka.















Senin, 27 Januari 2014

PERINGATAN 40 HARI RG. KPA. EK. GIRIPATI SURYANINGRAT MENGHADAP TUHAN YME



Bertajuk "Pengetan 40 Dinten RG. KPA. EK. Giripati Suryaningrat Katimbalan Wonten Ngarsa Gusti Ingkang Maha Agung" pada hari Kamis Pahing/Jumat Pon 19/20 Desember 2013, berlangsung sangat sakral dan khidmat. Acara ini selain dihadiri para Putera dan simpatisan, juga dihadiri masyarakat sekitar serta para tokoh agama maupun kepercayaan di wilayah kabupaten/kota tegal dan sekitarnya.
Dalam sesi acara doa bersama dilaksanakan dalam lintas agama dan kepercayaan secara begantian dan diselingi beberapa tari nusantara.









 





















WIWITAN - PIDATO KEBUDAYAAN GUBERNUR JAWA TENGAH 2014

SEMARANG. Senin Kliwon 6 Januari 2014, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membacakan pidato kebudayaan di Wisma Perdamaian, dihadapan  kurang lebih 500 peserta dari seluruh stakeholders pemerintahan, baik jajaran pejabat Pemprov Jateng, akademisi, pelaku usaha, budayawan, seniman, komunitas adat, tokoh lintas agama dan penghayat kepercayaan, masyarakat sipil maupun politikus. Mewakili dari Perguruan Trijaya - Pusat Tegal hadir PAC. Ang. KRT. S. Pupoyudo, PAC. Ang. KRT. Trubus ES, PAC. Ang. KRT. Hartowo beserta istri, dan PAC. KRT. Budiyono beserta istri.

Pidato kebudayaan ini merupakan langkah awal untuk memulai tahun 2014 sebagai tahun infrastruktur atau tahun fiskal pertama. Masalah yang disampaikan antara lain masalah kerusakan jalan, jembatan maupun infrastruktur sosial pedesaan menjadi prioritas pembangunan tahun pertama untuk menjadi dasar pijakan bagi jawaban kemiskinan dan pengangguran di Jawa Tengah.

Melalui pengembangan infrastruktur yang partisipatif, Pemprov memfasilitasi subyek-subyek pembangunan yaitu rakyat Jawa Tengah dan stakeholders lain. Hal ini untuk memfokuskan pembangunan infrastruktur sebagai daya ungkit dan fasilitasi daya hidup perekonomian rakyat.


Dalam pidato kebudayaan bertajuk "Wiwitan Makaryo Damel : Jawa Tengah Sejahtera dan Berdikari" Ganjar menyampaikan konsep rembugan dalam membangun Jateng yang sejahtera dan berdikari. Menurut Ganjar, rembugan merupakan pendekatan dan alat untuk menyelesaikan masalah secara bersama. Rembugan telah menjadi tradisi untuk penyelesaian masalah bersama. “Hampir tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan dengan rembugan, oleh karena itu saya sarankan ada rembug tani, rembug buruh, rembug nelayan, rembug kampung, rembug gunung” katanya. Dalam kaitannya sebagai Gubernur, beliau sebagai perwakilan pemerintah pusat juga siap melakukan rembugan dengan bupati/ walikota.

Untuk itu, ia mengajak kerjasama seluruh pemangku kebijakan tata kelola pemerintahan yang meliputi dunia akademisi, perusahaan, masyarakat ekonomi, masyarakat sipil maupun masyarakat politik untuk mengedepankan rembugan. "Mari rembugan dan bergotong-royong mewujudkan Jawa Tengah sejahtera dan berdikari. Mboten korupsi, mboten ngapusi (tidak korupsi, tidak bohong)," ujar Ganjar yang mengenakan kemeja putih lengan pendek dipadu celana jeans hitam ini.

Ganjar mengibaratkan periode awal kepemimpinannya bersama wakil gubernur Heru Sudjatmoko seperti dalam nilai tradisi ‘tedhak-siten’. Tedhak-siten sebagai upaya internalisasi makna nilai dasar kepribadian dalam identitas kebudayaan yang secara substantif mengajarkan tentang bagaimana laku dialogis atau rembugan antara manusia-manusia-alam dalam pembangunan. "Kami berdua (Ganjar-Heru) seumpama bayi pada masa turun dari gendongan. Masih balibul atau bawah lima bulan. Tedak-siten bagi gubernur yang baru terlahir harus bergaul, mider (keliling), berdialog, dan mengenal keberagaman warganya," ujar politisi PDI Perjuangan ini.

Sebelum menyampaikan pidato, acara diisi dengan doa lintas agama, pembacaan geguritan "Prana-prani" dan gending Tri Sakti Bung Karno. "Kenapa dipilih di Wisma Perdamaian? Karena ini gedung cagar budaya. Di sini kami ingin berkomitmen bahwa kebersamaan perlu dibangun untuk menyukseskan visi Jawa Tengah sejahtera dan berdikari. Ayo, ana rembug dirembug. Aja eker-ekerran (Ayo, yang bisa dimusyawarahkan, dimusyawarahkan. Jangan berseteru)," ujar Plt Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono, dalam sambutan ketua panitia.

Ganjar mengungkapkan berbagai persoalan jateng yang harus diatasi, diantaranya masih banyaknya pengangguran dan kemiskinan di jateng. “Sudah nganggur tur mlarat. Ditengah tanah gemah ripah loh jinawi, masih banyak pemuda yang nganggur, jadi pekerja kasar di negeri orang ini. ini pasti ada yang salah ” katanya.  Di samping itu arus urbanisasi dari pedesaan ke perkotaan tidak dapat di bendung dengan cara apapun. Kepadatan ekonomi menjadi masalah utama di perkotaan dan hanya sebagian kecil yang beruntung bisa menaklukkan kota. Di sisi lain, desa tidak lagi menjanjikan. Di desa, para pemuda dihadapkan dengan jenis pekerjaan fisik yang berat, tidak bergengsi dan tidak menghasilkan banyak uang.
Gubernur dengan ciri khas rambut putih ini juga menyoroti ketahanan pangan. Menurutnya, tahu dan tempe sudah menjadi bahan konsumsi utama masyarakat. Namun disisi lain kedelai sebagai bahan baku utamanya masih harus diimpor. Belum lagi impor bawang merah yang juda menghantam petani lokal.

Pidato kebudayaan ini dimulai sekitar pukul 20.30 WIB dan selesai pukul 21.30 WIB diakhiri dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri, dipimpin gubernur dengan diikuti seluruh peserta yang hadir sambil berdiri. Acara dibawakan dalam bahasa Jawa dan dikemas dalam nuansa non-formal dan lesehan (duduk bersama di atas lantai).  Sebagian besar tamu undangan mengenakan kemeja batik dan lurik (kain khas jawa). "Rangkaian dalam proses pidato ini ditujukan untuk mengingat kembali keluhuran tradisi 'Wiwitan Tedhak-Siten' melalui internalisasi makna nilai dasar kepribadian dalam identitas kebudayaan yang secara substantif mengajarkan tentang bagaimana laku dialogis atau rembugan antara manusia dan alam," ujar Ganjar.

Dikatakan, agenda mendasar dalam pidato budaya, mengajak seluruh stake-holders tata kelola pemerintahan di Jawa Tengah untuk rembugan dan bergotong-royong mewujudkan Jawa Tengah sejahtera dan berdikari.





 








Gubernur menyambut tamu undangan Sedulur Sikep