Minggu, 26 Oktober 2014

GREBEG HARI RAYA SURA 1948 J / 2014 M

Ratusan keluarga besar Perguruan Trijaya Pusat Tegal mengikuti Grebeg rajakaya untuk memperingati Hari Raya Sura 1948 J pada hari Jumat Legi (24/10/2014). Grebeg yang digelar rutin tiap tahun ini merupakan bentuk ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kirab dimulai sekitar pukul 14.00 WIB diawali dengan tarian Gatot Kaca dan Hanoman di halaman Padepokan Wulan Tumanggal di Desa Dukuhtengah Kec. Bojong Kab. Tegal. Selanjutnya iring-iringan peserta kirab dilepas berjalan mengelilingi desa.

Dalam grebeg tersebut, diarak satu tumpeng dan satu gunungan hasil bumi seperti wortel, ketela, kacang panjang, padi, dan sejumlah buah-buahan. Selain itu, turut digrebeg juga dua ekor sapi dengan masing memiliki berat sekitar 400 kilogram. acara ini semakin meriah dengan diikut sertakannya sejumlah kesenian daerah seperti barongsai dan wayang orang. Peserta grebeg sendiri tidak hanya berasal dari warga setempat, namun juga datang dari sejumlah daerah lain di luar Tegal seperti Pemalang, Purwodadi, Yogyakarta, dan Semarang, Brebes, Jakarta, Riau, Papua, dll

Setelah berkeliling desa, iring-iringan kirab kembali ke halaman padepokan dan diakhiri dengan ritual rebut gunungan. Ratusan warga yang sudah menanti langsung berebutan hasil bumi yang diikat di gunungan setinggi sekitar dua meter dengan harapan bisa mendapatkan berkah.

Pembina Perguruan Trijaya Romo Panji KRA Suryaningrat II mengatakan, pelaksanaan grebeg sura merupakan bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kemudahan maupun kesulitan yang diberikan selama satu tahun. "Pada dasarnya kita adalah makhluk Tuhan yang diberikan kesulitan dan kesenangan. Apapun itu tetap harus disyukuri. Kita ucapkan syukur dalam bentuk yang riil yakni kirab," katanya. Romo Panji menjelaskan, arak-arakan kirab adalah simbol bentuk syukur yang nyata karena dilakukan dengan rasa gembira oleh peserta. Sedangkan gunungan yang mempunyai bentuk mengerucut ke atas  adalah simbol hubungan kepada Tuhan Yang Maha Esa."Kemudian rebutan gunungan bermakna rejeki harus dicari dengan mengeluarkan segala upaya. Meski demikian hal itu dilakukan dengan tidak saling menyakiti. Setelah berebut, semua menerima apa yang didapat," ujarnya.

Romo Panji menyatakan pelaksanaan kirab akan terus dilakukan secara rutin tiap tahun karena sudah menjadi tradisi budaya yang harus dilestarikan. "Mudah-mudahan pada pelaksanaan tahun depan bisa lebih baik dengan jumlah hasil bumi dan sapi yang diberikan ke masyarakat lebih banyak," imbuhnya.