Rabu, 30 Desember 2015

MEMBENTUK GENERASI EMAS YANG BER-JIWA NUSANTARA

Perkembangan dunia yang makin pesat yang diimbangi sistem teknologi informasi yang kian canggih, sangat berdampak pada perkembangan anak-anak, khususnya anak - anak di usia emas. Efek dari itu semua banyak merubah karakter perkembangan sosial generasi penerus bangsa ini. Kondisi budaya dan sosial masyarakat bangsa kita semakin lama semakin memperihatinkan. Pola hidup hedoisme, individualisme, kekerasan, kemrosotan moral dan etika yang banyak dicontohkan oleh para elit politik, pejabat penyelenggara negara, baik di pusat maupun di daerah.

Untuk itu, dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mempunyai karakter kebangsaan dan ber jiwa nusantara, Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal menyelenggarakan sebuah pendidikan karakter untuk anak - anak dari usia dini sampai usia 15 tahun. Sebuah kegiatan yang bertajuk "Pelatihan Anak Alam Nusantara" ini diikuti sebanyak 82 anak. Selain diikuti anak - anak dari para Putera Trijaya, kegiatan ini juga diikuti oleh anak para simpatisan dan masyarakat lingkungan sekitar Padepokan.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 6 hari ini yaitu mulai tanggal 26 - 31 Desember 2015. Acara pembukaan dilaksanakan di Pamiwahan Putera Sasana Padepokan Wulan Tumanggal. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dra. Suspriyanti, MM. Dalam sambutannya beliau mengucapkan apresiasi kepada Perguruan Trijaya yang mau dan mampu melaksanakan pendidikan/pelatihan Anak Alam Nusantara (AAN) ini untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mempunyai karakter kebangsaan dan berjiwa nusantara.



Minggu, 22 November 2015

BATIN MENANGIS SAAT MELIHAT LAYONNYA DIRUKTI TIDAK SESUAI KEYAKINAN

Sangat disayangkan jika seseorang yang sudah memilih menjadi Putera Penghayat Murni (PPM) dan sudah dikukuhkan oleh RGKPA, yang dalam semasa hidupnya telah menjalani kehidupan supiritualnya sebagai Penghayat Murni tetapi pada saat berpulang menghadap sang pencipta tidak dirukti secara PPM. Sungguh  bersedihnya beliau yang sudah kondur melihat layonnya tidak dirukti sesuai keyakinan yang dijalani selama hidup sampai akhir hidupnya. Demikian disampaikan RG. KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam acara Caosan Peringatan 40 hari PW. Ang. Sugiyono.

Dalam tata cara Pengrukti Layon yaitu tata cara pemakaman jenasah, bagi seorang penghayat murni sebagai penganut kepercayaan murni ajaran leluhur mempunyai tata cara sendiri. Tata cara pemakaman  berbeda dengan pemeluk agama lain, diantaranya yang utama adalah dalam pemakaian busana untuk layon yaitu berbusana adat jawa. Untuk laki-laki berbusana beskap lengkap dan perempuan mengenakan kebaya.  

Peringatan 40 hari Pt. Sugiyono ini dilaksanakan pada malam Minggu Kliwon 22 November 2015 bertepatan dengan wiyosan RGKPA. dihadiri sekitar 70 Putera dan simpatisan Perguruan Trijaya, serta seluruh keluarga besar Pt. Sugiyono dimana bertempat tinggal di kota Yogyakarta.

Minggu, 15 November 2015

SASANA KASIDAN JATI PUN MENJADI SEBUAH PANGGUNG SENI BUDAYA NAN SPEKTAKULER

Sasana Kasidan Jati, yang merupakan area pemakaman di Padepokan Wulan Tumanggal, disulap menjadi sebuah panggung seni budaya yang spektakuler. Perpaduan cahaya obor, senthir, dan modern lighting menciptakan berbagai warna indah melengkapi temaramnya kesegaran alam kaki lereng gunung Slamet. 

Sebuah alunan musik keroncong mengiringi detik detik menjelang acara malam itu dimulai. Tepat pukul 8.45 malam Minggu Pon (15/11) acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan Mars AAN (Anak Alam Nusantara) dan dilanjutkan dengan doa. Rangkaian acara yang dibalut dalam berbagai tampilan seni budaya ini dipertunjukkan dalam acara Peringatan 2 tahun RG. KPA. EK. Giripati Suryaningrat (RGKPA) Kondur Wonten Ngarsa Gusti Ingkang Maha Agung.
 

Satu persatu beberapa puisi karya Beliau dikumandangkan, memecah sunyi dan menyentuh kalbu. Puisi puisi tersebut diantaranya berjudul Persembahan buat Semua Putera Tegal, Aku ingin bersamamu, dan Balada Nusantara, yang masing - masing dibawakan oleh Pt. Anin, teh Eli (Bandung) dan Pt. Tutik (Pemalang).

Lagu lagu pilihan pun menjadi simbol persembahan untuk beliau RGKPA, diantaranya lagu karya dari Ebiet G. Ade Dia Lelaki Ilham dari Surga yang dibawakan Pt. Wisnu. Lagu karya Titiek Puspa berjudul Bing yang dinyanyikan secara apik dan penuh rasa oleh Nini Kartika hingga tak kuasa membendung tangis.

Persembahan melalui lagu ini diakhiri dengan menyanyikan bersama lagu karya Ebiet G. Ade berjudul Ayah yang dibawakan oleh Mintaraga dan seluruh Ketua Daerah Perguruan Trijaya.

Dalam sambutan selamat datang yang disampaikan oleh Pt. Adi Setianto yang mewakili keluarga RGKPA, menjelaskan bahwa acara ini merupakan rangkaian kegiatan yang diawali dengan acara doa dan sujudan yang dilaksanakan pada malam selasa pon 10 November 2015, tepat 2 (dua) tahun kondurnya beliau. Doa dalam bentuk tahlilan dilaksanakan di 2 (dua) lokasi yaitu di Padepokan Argsonya Kota Tegal dan Padepokan Wulan Tumanggal Kabupaten Tegal yang diikuti oleh masyarakat sekitar di kedua padepokan tersebut. Sujudan Agung dilaksanakan mulai pukul 23.00 di pesarean RGKPA, Sasana Kasidan Jati Padepokan Wulan Tumanggal. 

Setelah sambutan selamat datang dilanjutkan dengan sebuah tampilan karya besar beliau dalam seni gerak dan tari bermakna spiritual dan nasionalisme tinggi yaitu tari kalang diperagakan oleh 6 Putera Trijaya yaitu Pt. Wisnu, Pt. Gilang, Pt. Aji, Pt. Widha, Pt. Sartono dan Pt. Mujiati. Di akhir pementasan tari kalang, Pt. Radit diampal oleh beberapa penari kalang tersebut. 

Setelah sambutan Kepala Desa Dukuhtengah, dilanjutkan beberapa tampilan seni budaya dari bumi Parahyangan. Seniman Erlan Suwardana, pembina Lingkung Seni Karangkamulyan, Ciparay, Kab. Bandung yang sering datang dan berkolaborasi dengan Perguruan Trijaya Putra Tegal di berbagai acara. Kang Erlan yang mencintai perkusi terutama kendang berulangkali tampil di berbagai pentas dalam dan luar negeri seperti Amerika Serikat, Jerman,  Nepal dan RRC. Alumnus Sekolah  Tinggi Seni Bandung (STSI) Bandung kali ini datang bersama istrinya, teh Eli dan kang Gatot Gunawan, Rosyanti (juru tembang Cianjuran), Jafar Sidik, Iman Ucil, Yatsu dan Yogi  yang sama-sama alumus STSI.  

Kang Gatot Gunawan yang terakhir tampil membawakan tari Kusno yang menggambarkan perjalanan hidup Bung Karno dan istrinya, Ibu Inggit Garnasih dalam acara Ulang Padepokan Wulan Tumanggal ke 31. Kang Gatot adalah pria beberapa tahun terakhir ini  tekun mengenang dan mengkampanyaken arti penting penghormatan kepada pahlawan terutama Bung Karno dan Ibu Inggit.


Keluarga dari Parahyangan ini sengaja datang untuk mengenang dan mengajak semua yang hadir untuk meneladani dan meneruskan jejak perjuangan tokoh penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Romo Guru KPA. EK. Giripati Suryaningrat. Diawali dengan lagu Sampurasun sebagai bentuk salam dari Parahyangan untuk semua hadirin. Lagu Sampurasun ini ditandai dengan pemukulan alat musik dogdog oleh RG. KRA. Suryaningrat II.

Dilanjutkan dengan tampilan Tari Sat Satsate, Tari ini merupakan hasil bacaan dan pengamatan Kang Gatot mengenai ajaran Trijaya. Tentu saja ini hanya pengamatan awal, namun yang pasti Kang Gatot menemukan sesuatu di balik ajaran Trijaya yakni ajaran ketat dari seorang pendiri Perguruan Trijaya agar para Puteranya lebih giat untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa dan lebih semangat menggali dan menjalankan ajaran Leluhur Nusantara.

Tafsir awal itu digambarkan dalam bentuk gerak tubuh kreasinya bersama dua putera Trijaya, Pt. Wisnu dan Pt. Gilang. Lewat karyanya ini, Kang Gatot berharap agar semua Putera Trijaya setia pada ajaran gurunya hingga tuntas. Hingga sat satsate. Hingga hasilnya bisa dirasakan oleh diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Keluarga besar Parahyangan juga menampilkan lagu Leunginteun yang berarti kehilangan. Lagu ini menggambarkan betapa negara ini sudah kehilangan banyak hal seperti hilangnya ketentraman,  rusaknya alam dan memudarnya keyakinan pada ajaran leluhur.


Dilanjutkan pementasan sebuah tari tunggal karya Kang Gatot, Tari Percikan Permenungan. Lewat tari tunggal ini, Kang Gatot dengan rasanya mencoba memahami perjalanan hidup RGKPA. Proses kehidupan yang tidak mudah. Dalam pentas ini, Kang Gatot akan berganti kostum sebagai perlambang perubahan paling penting RGKPA dalam kehidupannya menjadi seorang tokoh Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa menjadi sosok pribadi yang gigih memperjuangkan ajaran Leluhur Nusantara, hingga nafas penghabisan. 

Usai menyaksikan tari Percikan Permenungan para hadirin disuguhkan sebuah tembang Tablo yang menggambarkan tentang seseorang yang ditinggal kekasih hatinya. Sehingga para hadirin semuanya dapat menafsirkan secara bebas makna di balik tembang Tablo ini dengan menggunakan bahasa rasa.

Dalam acara ini RG. KRA. Suryaningrat II (RGKRA) menerima tanda kepercayaan, keyakinan, kesetiaan dan dukungan dari seluruh Putera Tegal yang Sembada. Tanda  kepercayaan ini diberikan melalui Pengurus Pusat dan semua Ketua Daerah. Tanda kepercayaan yang diserahkan secara simbolis ini berupa sebuah foto berbingkai dimana RGKPA memberikan pusaka kyai Aji kepada RGKRA yang didampingi Nini Kartika pada saat puputan Romo Anom, sebagai penerus ajaran dan pembina Perguruan Trijaya berikutnya.

RGKRA menyampaikan ucapan terimakasih atas semua dukungan, kesetiaan, segala pengorbanan dan pengabdian para Putera atas perjalanan Peguruan Trijaya disaat sekarang dan untuk masa yang akan datang. Doa beliau untuk para Putera agar selalu mendapatkan perlindungan, kekuatan, keselamatan lahir batin dari Gusti ingkang Maha Agung.

Selain dihadiri semua Putera dan simpatisan, hadir pula sebagai undangan Kasdim 0712 Tegal Mayor Inf Yuli Setiyono S.Pd, Kapolsek Bojong, Kepala Desa Dukuhtengah, Tokoh Tegal masyarakat sekaligus sahabat RGKPA, Bp. Sunyoto dan dr. Bimo.

Malam itu menjadi malam yang penuh anugerah karena cuaca cerah penuh bintang bertaburan. Meskipun pada sore harinya turun gerimis tetapi berhenti saat menjelang senja. Memang saat ini sudah memasuki musim penghujan dan seperti hari hari sebelumnya di Padepokn Wulan Tumanggal sering turun hujan. Cuaca yang cerah tersebut sangat mendukung keseluruhan acara karena menggunakan panggung terbuka.


suasana doa tahlilan malam 10 Nopember 2015

Sujudan bersama, doa untuk RGKPA di malam 10 November 2015

























 

Rabu, 14 Oktober 2015

HARI RAYA SURA 1949 J / 2015 M

Selama 3 (tiga) hari Peringatan dan Perayaan Hari Raya Sura (HRS) 1949 J / 2015 M dilaksanakan secara meriah dan sakral. Rangkaian acara yang di mulai pada hari Senin Wage s/d Rabu Legi, 12 - 14 Oktober 2015 ini dilaksanakan di Sasana Padepokan Wulan Tumanggal, lereng barat kaki Gunung Slamet. Event sekali dalam satu tahun ini sudah menjadi upacara adat dan tradisi masyarakat jawa pada umumnya termasuk di Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal, sekaligus menjadi Hari Raya bagi warga Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan yang merangkai beberapa acara ini meliputi kegiatan yang bersifat keilmuan/spritual, organisasi dan kemasyarakatan. "Grebeg Suro" menjadi acara puncak pada setiap peringatan HRS. Sebagai bentuk rasa syukur atas segala pemberian Gusti Ingkang Maha Agung maka pada akhir acara Grebeg Suro ini, semua hasil bumi dan raja kaya yang telah digrebeg diperebutkan oleh semua peserta grebeg yang ada di lokasi tersebut, tak terbatas usia, gender dan strata sosial. Diyakini dari hasil rebutan hasil bumi dan raja kaya akan memberikan manfaat kebaikan bagi kehidupan yang akan datang.



MANDI CURUG
Setiap peserta Hari Raya Sura ini diwajibkan mengikuti beberapa rangkaian acara. Mulai dari Mandi Curug, dimana semua peserta diharuskan untuk bersuci/mandi di Sasana Curug Wulan Tumanggal, yaitu air terjun kecil yang berada di Padepokan Wulan Tumanggal yang telah di rancang secara keilmuan dengan membagi aliran air tersebut menjadi 5 (lima) pancuran yang terbuat dari bambu. Setelah melaksanakan ritual mandi curug secara berkelompok, semua peserta langsung menuju ke Sanggar Pamujan untuk malaksanakan sujudan. Bermaksud memohon kepada Gusti Ingkang Maha Agung agar dalam pelaksanaan Perayaan Hari Raya Sura 1949 J / 2015 M ini diberikan kelancaran dan bermanfaat bagi semua peserta, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara

SATE PENGOBATAN
Setelah melaksankan mandi curug dan sujudan, para peserta mengikuti prosesi berikutnya yaitu makan "Sate Pengobatan". Sate yang terbuat dari daging kambing ini merupakan makanan ritual khas Perguruan Trijaya dimana daging kambing tersebut dibakar tanpa menggunakan bumbu, dan pada saat makan, sate pengobatan tersebut  hanya boleh dimakan dengan nasi putih dan sambal kecap. Daging kambing ini sarat dengan doa baik dari proses penyembelihan, pemotongan daging, penusukan daging, pembakaran sate, sampai dengan tata cara penyajiannya ini menjadikan sebuah sate kambing mempunyai khasiat dalam pengobatan segala jenis penyakit. Kebanyakan sate kambing menjadi momok bagi para penderita darah tinggi dan beberapa jenis penyakit lainnya. Namun disini menadi sebaliknya, menjadikannya engergi positif untuk meningkatkan kesehatan, kekuatan dan kemampuan bagi siapapun yang mengkonsumsinya, baik Putera Trijaya, simpatisan, tamu undangan, maupun masyarakat sekitar. Ada yang unik dalam penyajian sate ini.  yaitu dimakan dengan jumlah ganjil untuk hitungan tusuknya dan lokasi makan pun harus jauh dari tempat pembakaran, minimal 3 (tiga) meter. Selain karena alasan ajaran/keilmuan, hal unik tersebut bisa diartikan juga secara logika, baik hitungan ganjil maupun jarak dari pembakaran.

GREBAG SURO
Setelah makan siang dengan sate pengobatan, para peserta Hari Raya Sura bersiap-siap untuk mengikuti Grebeg Suro. Selasa Kliwon tepat pukul 14.30 Setelah memberikan sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Dra. Suspriyanti, MM. melepas Grebeg Suro. Grebeg ini mirip sekali dengan Kirab, namun secara filosofi dan makna keilmuan, Grebeg lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kirab. Selain tumpeng krobyong, berbagai hasil bumi dalam bentuk gunungan ikut serta dalam grebeg ini. Tidak ketinggalan raja kaya (hewan ternak) seperti Sapi dan ayam juga mejadi peserta Grebeg. di akhir Grebeg baik hasil bumi maupun raja kaya menjadi bahan rebutan bagi para peserta grebeg. Rebutan ini diyakini akan memberikan berkah dan manfaat bagi siapa pun yang ikut serta dalam rebutan hasil bumi dan raja kaya.