Minggu, 12 November 2017

Macapat tak sekedar sebagai Pitutur Luhur, wujudkan dalam Perilaku Luhur

Setiap tembang macapat mempunyai makna dan tuntunan hidup yang sangat bermanfaat, untuk itu kita harus mampu mewujudkan pitutur luhur tersebut menjadi perilaku luhur.

Hal tersebut disampaikan oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryaningrat II dalam acara kidungan macapat, dalam rangka Pengetan Romo Guru KPA. EK Giripati Suryaningrat (RGKPA), Kondur Ing Ngarsa Gusti Ingkang Maha Agung, Jumat malam (10/11) di Astanalaya Kasidan Jati, Padepokan Wulan Tumanggal.

Kidungan tersebut selain diikuti para Putera Perguruan Trijaya, juga dihadiri runnerup Sinden Idol 2016 dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Maya Yuanita. Hadir pula sebagai tamu undangan Kasubbag Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd M.Pd, yang juga ikut mengisi acara dengan menampilkan sebuah tari persembahan yang diiringi sekar macapat dandanggula oleh Ita, panggilan baru dari Romo Guru untuk sinden yang berasal dari kota Kudus tersebut.

Kidungan merupakan acara tambahan setelah ritual khusus persembahan untuk Romo Guru KPA EK Giripati Suryaningrat. Acara ini dihadiri 33 Putera Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, 46 Putera Penghayat Murni (PPM), dan puluhan Putera berikut keluarga serta para simpatisan.  Kidungan sendiri berlangsung mulai pukul 1 hingga pukul 4 pagi sebagai wungonan di area pesarean RGKPA.

Tembang macapat sendiri merupakan salah satu kelompok tembang jawa yang sampai saat ini masih diuri-uri (dilestarikan) oleh sebagian masyarakat. Ada sebelas tembang dalam macapat, dari Maskumambang hingga Pocung masing-masing memiliki karakter, watak dan ciri yang berbeda, dan juga memiliki aturan-aturan penulisan khusus dalam membuatnya.

5 Pitutur untuk menjadi manusia sakti dan berguna

Dalam pembinaan lebih lanjut, Romo Guru juga menjelaskan bahwa untuk menjadi manusia yang berguna dan sakti tidak perlu belajar ilmu yang rumit dan susah untuk dimengerti. Dengan melaksanakan 5 (lima) pitutur yang ada dalam lirik tembang macapat Mijil akan membuat kita menjadi manusia yang berguna sekaligus sakti yang sebenar-benarnya.

Berikut ini sebuah bait tembang Mijil yang berisi 5 pitutur luhur tersebut.

Dedalane guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah luhur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur

Kelima pitutur tersebut tampak sangat sederhana, namun untuk dilaksanakan tidak semudah dan sesederhana membacanya. Mewujudkan pitutur luhur menjadi sebuah perilaku luhur itulah tujuan para leluhur menciptakan tembang macapat.

Minggu, 29 Oktober 2017

HARI PEMUDA 2017 : SELAIN MEMBANGUN JIWA, PEMUDA JUGA HARUS MEMBANGUN RAGA SEBAGAI MODAL MEMBANGUN BANGSA





Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak di kaki gunung Slamet, Sabtu kemarin (28/10) sontak ramai oleh sorak sorai beberapa pertandingan olah raga. Di dalam gedung serba guna bernama Samora (Sasana Among Raga) diramaikan oleh lomba bulutangkis.

Sedangkan di Sinangling (nama kolam renang di Padepokan Wulan Tumanggal) tak kalah serunya karena ada lomba renang yang diikuti oleh peserta dengan segala usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan juga diikuti oleh orang tua

"Tujuan kami mengadakan Lomba olah raga yang tepat di hari Pemuda ini adalah untuk membangkitkan kembali semangat berolah raga. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, Pemuda masa kini banyak menghabiskan waktu dengan smartphone-nya. Waktu istirahat di sekolah tak lagi digunakan untuk bermain dilapangan dan lebih banyak didepan gedjet", jelas ketua panitia, Wisnu Widya Permana.

Dia juga menjelaskan bahwa pemuda dan olah raga adalah satu paket. Sebagai pelaku budaya spiritual, selain berupaya membangun generasi muda yang ber- jiwa nusantara, kita juga jangan sampai lupa menjaga raga untuk selalu sehat dan prima.

Mengutip lirik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang berbunyi .....Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya, Untuk Indonesia Raya.... , maka dengan lomba ini kami mengajak seluruh Pemuda Indonesia khususnya Generasi Muda Perguruan Trijaya, Anak Alam Nusantara, untuk menjaga stamina dan kekuatan raga kita melalui olah raga, sebagai bekal membangun bangsa dan upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Perlombaan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Pemuda 2017 yang telah dilaksanakan oleh Perguruan Trijaya secara rutin setiap tahun. Kali ini kegiatan dilaksanakan selama 3(tiga) hari, mulai Jumat Kliwon sampai (27/10) sampai dengan Minggu Pahing, (29/10).

Bentuk kegiatan ini meliputi Sukuran dilaksanakan pada Jumat Kliwon malam Sabtu Legi, (27/10). Dilanjutkan dengan Upacara Bendera yang dilaksanakan Sabtu Legi (28/10), dan Lomba 3 cabang olah raga yang dilaksanakan setelah Upacara Bendera. Malam Minggu Pahing akan dilaksanakan penyerahan Thropy/piala kepada masing-masing Juara Lomba.

Kami memilih Bulutangkis, Renang dan Catur karena ketiga cabang olah raga tersebut merupakan jenis cabang olah raga yang mempunyai filosofi tinggi yang sangat  bermanfaat untuk kehidupan kita sehari-hari. 

Juara 1 dalam lomba bulutangkis perseorangan diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul Purwanto dari Pemalang dan Taufik dari Yogyakarta. Untuk Ganda, juara 1 diraih pasangan dari Daerah Purwodadi, disusul dari Daerah Pemalang dan Daerah Padepokan.

Di lomba renang muncul sebagai juara 1 anak-anak putra diraih Tandan dari Tegal, disusul Yoga dari Tegal dan P.Saifullah dari Yogyakarta. Untuk dewasa putra juara 1 diraih Dedy dari Tegal, disusul Tatan dari Jakarta dan Leo dari Tegal. 

Untuk lomba renang anak-anak putri, juara 1 diraih Imelda dari Brebes, disusul Anita dari Yogyakarta dan Nurul dari Jakarta. Sedangkan kelas dewasa putri juara 1 diraih Anin dari Tegal, disusul Nalurita dan Ajeng yang keduanya adalah anggota paskib yang ikut meramaikan perlombaan ini.

Sedangkan pada lomba catur, juara 1 diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul M. Taufik dari Yogyakarta dan Siswondo dari Pemalang. 

Trophy kejuaraan ini diserahkan langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryaningrat II pada malam minggu pahing, saat melaksanakan tradisi makan malam bersama dengan menu ayam bakar tanpa bumbu yang mana secara rutin dilaksanakan di Perguruan Trijaya.
  

Senin, 02 Oktober 2017

72 POHON MAHONI MENJADI PENGHUNI BARU DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL


Sebanyak 72 pohon mahoni, menjadi penghuni baru di Sasana Padepokan Wulan Tumanggal. Bibit tersebut ditanam pada kegiatan rutin Minggu Wagean, yang biasa disebut sebagai Manharabah Rifaat, Minggu Wage (1/10).

ke 72 bibit pohon mahoni tersebut berasal 2 daerah, yaitu daerah Semarang sebanyak 20 bibit, dan 52 bibit dari daerah Brebes. Jumlah 72 ini bukan dari sebuah kesengajaan, terutama bibit yang berasal dari daerah Brebes.

Sebenarnya kami tidak sengaja membawa sejumlah itu, saya tahunya membawa satu bongkok bibit pohon mahoni, jelas Pt. Samadiwangsa dari Tasikmalaya, Putera Daerah Brebes yang ikut dalam kegiatan Manhabah Rifaat kali ini. Angka 72 ini sesuai dengan tahun ini tepat 72 tahun kemerdekaan negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Minggu wagean ini menjadi yang pertama kali di tahun 1951 Jawa, setalah beberapa hari kemarin melaksanakan Hari Raya Suro. Sebanyak 15 Putera Daerah Semarang ikut sebagai petugas kegiatan ini, dibantu beberapa Putera dari Daerah Brebes, Tegal, Jakarta, Purwodadi, Pemalang dan Padepokan .

Mengamankan, menjadi yang paling utama sebelum kita memelihara, menambahkan, dan lain-lainnya, apalagi melestarikan dan memanfaatkan. Karena itu kata mengamankan ada dipaling depan dalam istilah Manhabah Rifaat, jelas Romo Guru.

Manharabah Rifaat mempunyai arti mengamankan, memelihara, menambah, melestarikan dan memanfaatkan Padepokan Wulan Tumanggal. Sebuah kegiatan rutin setiap Minggu Wage, dimana hari itu merupakan hari jadi Padepokan Wulan Tumanggal yang berdiri pada 9 September 1984.

Dulunya kegiatan ini sering disebut dengan nama Bersih Wulan Tumanggal, tetapi agar tidak hanya di maknai dengan bersih-bersih, maka sudah seharusnya kita bisa memenuhi semua kriteria yang ada dalam Manharabah Rifaat tersebut, tambah Romo Guru.

Selain menanam pohon mahoni, daerah Semarang juga membawa 5 burung kutilang dan 5 burung trucuk, untuk menambah koleksi hewan piaraan yang ada di Padepokan Wulan Tumanggal.

4 PENDEKAR CIUNG WANARA BERAKSI DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL

4 (empat) pendekar dari Bandung, dengan gaya khas mereka, berhasil menampilkan aksi tebaiknya di Padepokan Wulan Tumanggal, Sabtu Pon malam Minggu Wage (1/10). Selain tangkas dalam bela diri tangan kosong, mereka juga mampu menampilkan kepiawaiannya dengan menggunakan senjata, baik senjata tajam (belati) maupun tongkat.

Risya (17), Lutfi (17), dan Shifa (16) duduk bersama di SMAN 24 Bandung, sedangkan Miftah (14) bersekolah di SMPN 17 Bandung. Mereka belajar silat di Perguruan Pencak Silat Ciung Wanara Domas, kota Bandung pimpinan Kustiwa Gunawan, yang juga ayah dari Risya .

Aksi keempat pendekar remaja dari kota kembang itu merupakan persembahan khusus di acara Sukuran Ambal Warsa Perkawinan Romo Guru KRA Suryanigrat II dengan Nini Kartika yang ke 23.


Acara yang digelar di Pamiwahan Putera, Padepokan Wulan Tumanggal tersebut juga diikuti 3 pasangan Putera (Pt) sebagai peserta sukuran ulang tahun perkawinan, Diantaranya Pt. Adi Setyanto (Pakde Adi) dengan Pt. Endah Kusumaningsih (Budhe Acih), Pt. Agus Setiyono dengan Pt. Setiyani dan Pt. Wisnu Widya Permana, AAN (Nunu) dengan Pt. Widha Mangesti K, AAN.

Ulang tahun perkawinan tidak kalah pentingya dibandingkan ulang tahun kelahiran. Banyak yang melupakan ulang tahun perkawinan karena dirasa tidak penting. Padahal dengan perkawinan itulah, kita memulai hidup baru dengan pasangan kita dan melanjutkan keturunan, jelas Romo Guru.

Istilah kawin dalam kata perkawinan lebih kita pilih karena ini adalah bahasa spiritual kita yang mengandung filosofi tinggi, tambah Romo Guru.

Sebelum aksi para pendekar dari Bandung, panggung Pamiwahan Putera juga dimeriahkan oleh gerak cantik tari Geyol Denok yang ditampilkan oleh 2 penari dari Sanggar Lenggok Ayu.

Tari khas Semarangan ini seolah menggambarkan bahwa kegiatan minggu wage-an atau sering disebut dengan istilah Manharabah Rifaat Padepokan Wulan Tumanggal, yang dilaksanakan setiap bulannya, dimana kali ini yang menjadi petugas adalah Daerah Semarang.







GREBEG HARI RAYA SURA 1951 JAWA DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL

Selasa, 12 September 2017

DUA TARIAN KHAS KABUPATEN TEGAL RAMAIKAN SUKURAN 33 TAHUN PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL

Tari Lenggang Pari
Dua tari kreasi khas kabupaten Tegal menambah semarak, malam sukuran peringatan 33 tahun Padepokan Wulan Tumanggal, Jumat Legi malam Sabtu Pahing (9/9). Diantaranya yaitu tari Lengggang Pari yang diperagakan 4 (empat) penari yang terdiri 2(dua) laki-laki dan 2(dua) perempuan dari Sanggar Perwitasari Tegal.

Tari Rancak Balo
Berikutnya ada tari Rancak Balo yang diperagakan 2(dua) gadis cantik dari sanggar Lenggok Ayu, Bojong, Kabupaten Tegal. Kedua tarian khas kabupaten Tegal tersebut dikemas secara atraktif dan sangat menghibur semua Putera yang hadir memenuhi Pamiwahan Putera, Padepokan Wulan Tumanggal.

Sebelumnya, ditampilkan pula tari yang sudah menjadi tari tradisi, dimana selalu ditampilkan disetiap kegiatan yang diadakan oleh Perguruan Trijaya, yaitu Tari Gatotkaca. Tari ini diperagakan langsung oleh pengasuh sanggar Perwitasari, Priambodo, S.Sn.

Romo Guru memberikan potongan tumpeng kepada Nini Kartika
disaksikan PW.Ang. Endang Purwaningsih dan semua peserta sukuran
Ketiga tari tersebut diatas, mengawali acara sukuran berupa pemotongan tumpeng. Di usia yang ke 33 tahun, diharapakan Pedepokan Wulan Tumanggal semakin bermanfaat tidak hanya untuk keluarga besar Perguruan Trijaya, namun juga untuk masyarakat luas.

Hal ini terbukti salah satunya bersamaan acara ini, Padepokan Wulan Tumanggal ditunjuk menjadi lokasi LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah) SMK Negeri 1 Tegal selama 2 hari, jelas Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryanigrat II.

Beliau juga berharap agar semua Putera bisa menumbuhkan kembali semangat untuk melaksanakan Manharabah rifaat, yaitu mengamankan, memelihara, menambah, melestarikan dan memanfaatkan Padepokan Wulan Tumanggal.

Selain sukuran Padepokan Wulan Tumanggal, malam itu juga merupakan sukuran ambal warsa (ulang tahun) Nini Kartika yang ke 49 dan diikuti 17 Putera yang ikut sukuran, baik sukuran ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, wetonan, maupun sukuran hajatan.

 
Beberapa Putera yang ikut sebagai peserta sukuran

Jumat, 18 Agustus 2017

LOMBA CERDAS CERMAT RAMAIKAN HUT REPUBLIK INDONESIA KE 72

Dalam rangka memperingati HUT RI ke 72, Perguruan Trijaya bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, menggelar Lomba Cerdas Cermat (LCC) Pancasila di Padepokan Wulan Tumanggal, Rabu Pahing, (16/8).

Lomba ini diikuti sebanyak 22 SD se kecamatan Bojong. Pelaksanaan LCC ini secara teknis dijalankan oleh tim lomba dari UPTD Dikbud Kecamatan Bojong yang terdiri dari 7 petugas, yang masing-masing bertugas sebagai pembaca soal, juri dan pengawas.

Event ini merupakan pertama kalinya, kerjasama Perguruan Trijaya dengan UPTD Dikbud kecamatan Bojong, jelas Kepala UPTD Dikbud Kecamatan Bojong, Cipto Dwi Setyo Purnomo, S.Pd saat membuka kegiatan.

Dari segi peralatan, perlengkapan sampai dengan dekorasi, LCC ini termasuk sangat bagus, jarang sekali saya jumpai LCC seperti ini bahkan setingkat kabupaten. Dilihat dari peralatan, khususnya bel yang dipakai sudah seperti LCC tingkat nasional, tambahnya.

Lomba ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap kualifikasi dan tahap cerdas cermat. Tahap kualifikasi berupa tes tertulis dimana dari 22 grup tersebut disaring menjadi 9 grup yang akan dilombakan dalam tahap cerdas cermat.

Dari ke 9 grup ini dibagi menjadi 3 dan dilombakan dalam 3 tahap cerdas cermat untuk diambil juara 1 dan selanjutnya diadu dalam tahap final.

Dalam tahap final, tampil sebagai juara 1 diraih oleh SDN Dukuhtengah, juara 2 dari SDN Bojong 03 dan juara ke 3 dari SDN Tuwel 02.

Masing-masing juara mendapatkan piala tetap, piagam dan uang pembinaan yang diserahkan setelah upacara bendera peringatan HUT Republik Indonesia ke 72, di Lokaji Nusantara Padepokan Wulan Tumanggal, Kamis (17/8).

DONOR DARAH

Selain Cerdas Cermat, di hari yang sama juga digelar aksi Donor Darah. Kerja sama dengan PMI Kabupaten Tegal, kegiatan ini berhasil mengumpulkan 24 kantong darah sebagai bentuk kepedulian Perguruan Trijaya dalam ikut menyumbangkan darah untuk masyarakat yang membutuhkan.

ke 24 peserta donor darah ini banyak berasal dari para Putera, ditambah penduduk sekitar, petugas Paskibra, dan beberapa guru pendamping lomba cerdas cermat.

Donor darah ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal. Diharapkan ini bisa dilaksanakan secara rutin disetiap kegiatan Perguruan, minimal 3 bulan sekali, jelas Wisnu, ketua panitia kegiatan.


Jumat, 30 Juni 2017

SUNGKEMAN, SATU DARI TRADISI RITUAL TAHUNAN DI PERGURUAN TRIJAYA

Segitiga dalam lingkaran, yang ada dalam lambang Perguruan Trijaya mempunyai makna Tuhan, Orang tua dan Guru. Hal ini memberi pejelasan bahwa ajaran di Trijaya mewajibkan setiap Putera untuk selalu hormat terhadap Tuhan, Orang tua dan Guru.

Penyebutannya pun tidak boleh dibalik karena hal itu merupakan sekala prioritas, jelas Pembina Perguruan Trijaya Romo Guru KRA Suryaningrat II dalam acara Sungkeman di Padepokan Wulan Tumanggal, malam Kamis Kliwon (29/06).

Sungkeman merupakan tradisi ritual permohonan maaf di Perguruan Trijaya yang dilaksanakan rutin setiap tahun. Sungkeman biasanya dilaksanakan setiap malam kedua Hari Raya Idul Fitri, namun kali ini, dilaksanakan pad malam ke 4(empat)  lebaran.

Sungkeman tahun ini terasa istimewa karena bersamaan dengan salah satu malam keilmuan yaitu malam Wajib Perguruan Trijaya, yang sekaligus juga merupakan rangkaian Supit. "Sebenarnya siapa yang ikut sungkeman kali ini, tepat di malam kamis kliwon, adalah anggota Perguruan Trijaya yang sebenarnya, yang menghargai Perguruan Trijaya secara utuh", jelas Romo Guru.

Secara keilmuan, Sungkeman merupakan ritual yang sangat tinggi nilainya. Kerelaan Putera dengan usaha yang besar, datang ke Padepokan untuk menundukan kepala, memohon maaf yang tidak ada wujud resminya kalau maaf itu diterima atau tidak. Kerelaan itulah yang mempunyai nilai tinggi sekali, tambah Romo Guru.

Minggu, 11 Juni 2017

BERPULANGNYA SANG IBU WULAN TUMANGGAL

KMT. Mulyaningsih Wulan Tumanggal
Seakan menanti malam yang tepat, bersamaan dengan ritual minggu pahing yang dilaksanakan secara rutin di masing-masing daerah, Ibu Wulan Tumanggal telah berpulang menghadap sang Pencipta, Gusti Ingkang Maha Agung. Tepatnya Sabtu Legi malam Minggu Pahing, (10/6) pukul 20.00 WIB.

Ibu Wulan Tumanggal mempunyai nama asli Sri Mulyaningsih. Setelah memperoleh gelar kehormatan dari Keraton Surakarta Hadiningrat, dengan SK No. PB XIII.B2.081.2013 tertanggal 20 Oktober 2013, beliau mendapat pangkat Bupati Sepuh dengan nama lengkap Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Mulyaningsih Wulan Tumanggal. Penyerahan Sertifikat Keraton tersebut dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal.

Untuk saat ini gelar tersebut juga dimiliki oleh Walikota Tegal yaitu KMT. Hj Siti Masitha Soeparno. Gelar tersebut diberikan oleh Keraton Surakarta Hadiningrat pada 1 Mei 2016, dalam rangka memperingati Hari Besar Raja Karaton Solo Jumenengan ISKS Paku Buwono XIII.

Jumat, 02 Juni 2017

PANCASILA, ANUGERAH TERINDAH YANG PERNAH KITA MILIKI

Pancasila adalah anugerah terbesar dan paling indah yang Tuhan berikan kepada kita semua, bangsa Indenesia. Tidak ada falsafah hidup berbangsa yang lebih indah selain Pancasila yang hanya dimiliki negara kita, dan tak satupun bangsa lain yang memilikinya.

Itulah pesan Romo Guru KRA Suryaningrat II, Pembina Perguruan Trijaya dalam acara malam sukuran Hari Pancasila tahun 2017 di Samora (Sasana Among Raga) Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal, Rabu malam (31/5). Setelah 17 tahun Perguruan Trijaya melaksanakan rutin peringatan Hari Pancasila, kali ini 1 Juni telah menjadi hari libur nasional berdasar ketetapan presiden tahun 2016 lalu, tambah Romo Guru.

Usai acara potong tumpeng dan makan malam, dilanjutkan dengan lomba peragaan busana adat nusantara. Lomba ini diikuti oleh anak-anak yang tergabung dalam kelompok Anak Alam Nusantara (AAN), dimana didominasi oleh anak-anak Sekolah Dasar. Keluguan meraka dalam unjuk kebolehan ala model profesional mengundang gelak tawa, sekaligus memberikan kebanggan kepada semua yang hadir karena rasa keberanian mereka dalam usaha menunjukkan kreasi busana adat nusantara yang beraneka ragam.

Sabtu, 20 Mei 2017

GUNUNGAN HASIL BUMI DARI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL LENGKAPI KIRAB HARI JADI KABUPATEN TEGAL

Melengkapi rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Tegal yang ke 416, dengan mengusung tema "Mbangun Berkah Gawe Bungah", Pemkab Tegal menggelar Kirab Pataka yang dilaksanakan pada kamis pon (18/5).

Kirab ini terasa lengkap dengan adanya gunungan hasil bumi dari Perguruan Trijaya dan dikawal oleh puluhan Putera Trijaya yang sebagian besar merupakan para cantrik di Padepokan Wulan Tumanggal, salah satu padepokan Perguruan Trijaya yang berada di kaki gunung Slamet tepatnya di desa Dukuhtengah, kecamatan Bojong. Rombongan dipimpin langsung Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya, PW. Ang. KRT. K Teja Sulaksana.

Kirab diberangkatkan langsung oleh Bupati Tegal Ki Enthus Susmono dengan mengambil start di rumdin bupati dan finish di gedung DPRD kabupaten Tegal.

Marching band Satpol PP menjadi barisan paling depan kirab tersebut. Dibelakangnya diisi oleh Paskibra, pembawa pataka, kereta Bupati, gamelan, Gunungan Hasil Bumi, ibu-ibu camat se kabupaten Tegal, barongsay, pegawai Pemkab berbusana adat jawa, para Camat se kabupaten Tegal, marching band, dan ditutup oleh unsur komponen masyarakat se kabupaten Tegal.

Di alun-alun kota Slawi, iring - iringan kirab disambut dengan Tari Endel massal. Tarian khas dari kabupaten Tegal ini ditampilkan meriah oleh ribuan siswi SD se Kabupaten Tegal.

Kirab ini merupakan tradisi turun temurun, dan akan dilaksanakan setiap tahun sebagai upaya melestarikan budaya asli nusantara, jelas Ki Enthus Susmono.

Kirab ditutup dengan penyerahan pataka dan dilanjutkan dengan rapat paripurna istimewa di gedung DPRD.

 









7 PUTERA IKUT SUKURAN DALAM ACARA AMBAL WARSA ROMO GURU

7 (tujuh) Putera aktif ikut serta sukuran ulang tahun kelahiran, dalam acara Sukuran Ambal Warsa Romo Guru KRA Suryaningrat II (Pembina Perguruan Trijaya), Sabtu Legi malam Minggu Pahing, (6/05/2017).

Ke 7 Putera tersebut diantaranya Pt. Priwidodo, AAN dari Purwodadi, Pt. Purwanto dari Pemalang, Pt. Deny L, AAN dari Jakarta, Pt. Sakroni dari Tegal, Pt. Endar RP, AAN dari Tegal, Pt. Widha MK, AAN dari Purwodadi, dan Pt. Bambang Permadi, AAN dari Semarang.

Acara potong tumpeng digelar di Pamiwahan Putera, dilanjutkan dengan makan malam dan hiburan yang lokasinya berada di halaman depan Dalem Suryaningratan. Di panggung terbuka itu dipertunjukkan 3 (tiga) tampilan tari, yaitu Tari Guci dari Bumijawa, Tari Endel khas Kabupaten Tegal dan Tari Jaipong dari Tasikmalaya.

Selain dihadiri para Putera, simpatisan dan keluarga, hadir dalam acara tersebut Camat Bojong Drs. Edy Siswoyo lengkap dengan jajaran Forkopimcam yaitu Kapolsek Bojong AKP Sugeng Subagyo, SH, Danramil Bojong Kapten Inf. Fathurohman. Hadir juga beberapa tamu undangan dari tokoh masyarakat Tegal diantaranya Dr. Bimo, Drs, Sunyoto, MM yang merupakan sahabat RGKPA.









Senin, 08 Mei 2017

PEREMPUAN PELESTARI BUDAYA SPIRITUAL

Hari Kartini, yang setiap tahunnya diperingati oleh Perguruan Trijaya kali ini terlihat lain, yaitu hadirnya ibu Bupati Tegal, Nurlela Enthus Susmono. Ini kali pertama Padepokan Wulan Tumanggal yang sejak pertma berdiri pada 9 Septeber 1984, dihadiri oleh isteri bupati Tegal.

Kehadiran Ibu Bupati Tegal betepatan pada malam sukuran hari Kartini, yaitu Kamis Kliwon malam Jumat Legi, (20/4). Malam itu bertepatan juga dengan malam Supit (Jumat Legi), salah satu malam ritual yang rutin dilaksanakan setiap bulannya.

Minggu, 12 Maret 2017

KISEMAR, CARA MERAWAT INDONESIA DAN BHAKTI KITA PADA IBU PERTIWI

Dengan Sinergitas antar sesama pihak, akan terbangun kerjasama yang dapat saling mengisi. Padepokan bukan hanya untuk kanuragan, atau sekedar dimintai restu, tapi sekaligus ngelingke dan mencerahkan, nduduhke endi sing olo endi sing becik, Kebenaran moralitas dan integritas yang bermuara pada kehidupan yang sesuai dengan tujuan kehidupan dan esensi berbangsa dan bernegara. Inilah bagian dari KISEMAR, cara kita merawat Indonesia dan bhakti kita pada Ibu Pertiwi.

Itulah bait terakhir dari sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pada Amanat Pembina Upacara dalam rangka Kegiatan Sebelas Maret (KISEMAR) 2017 yang dibacakan oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyono, MM, Sabtu Kliwon 11 Maret 2017.

Upacara Bendera tersebut digelar di Lokaji Nusantara, yaitu sebuah lapangan yang berada di Padepokan Wulan Tumanggal. Upacara ini merupakan agenda rutin yang diadakan Perguruan Trijaya sebagai peringatan akan salah satu hari yang bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia, dimana sebuah keteladanan ditunjukkan oleh seorang pemimpin bangsa yang dengan jiwa besarnya, secara legawa menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya kepada generasi yang lebih muda,

Terlihat beberapa tamu yang hadir pada upacara bendera tersebut antara lain Kepala Sub Bagian Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, Kepala Kesbangpol dan linmas Kabupaten Tegal, Drs. Agus Sunarjo, MM, Camat Bojong, Muktarom, S.IP, Kapolsek Bojong AKP. Sugeng Subagyo, SH, Danramil Bojong Kapt. Inf. Fathurrohman, dan Kepala Desa Dukuhtengah, Kustinah.

Usai upacara bendera, sebuah tari yang bernama Tari Kalang, secara serentak ditampilkan oleh beberapa putera. Tari Kalang ini adalah salah satu karya Romo Guru KPA. EK Giripati Suryaningrat, pendiri sekaligus pembina pertama Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal.

Yang dinantikan setiap tampilan tari kalang, adalah ampal-ampalan. Tari Kalang merupakan jenis tari beladiri. Setiap gerakannya merupakan pengembangan jurus dimana telah dipelajari dalam olah kanuragan para Putera Tegal, menjadi sebuah gerak tari yang indah, namun sarat dengan kekuatan. Oleh sebab itu menjadi sebuah rutinitas dan sekaligus pertunjukkan yang menarik, selesai tari kalang dilanjutkan dengan ampal-ampalan. 

Setelah tampilan Tari Kalang, dilanjutkan dengan pemasangan tempat sampah secara simbolis oleh pembina upacara. Tempat sampah yang berjumlah 10 set ini ( organik dan anorganik ) merupakan sumbangan dari Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara atau yang disingkat dengan KEIMANAN dimana tanggal 11 Maret 2017 tepat berulang tahun yang ke 10. Ke sepuluh tempat sampah tersebut dipasang secara merata di tempat-tempat yang setrategis dalam Padepokan Wulan Tumanggal.


LOMBA FOTO, SUKURAN, NYEKAR DAN KERJA BAKTI

Untuk memeriahkan KISEMAR 2017 ini, KEIMANAN yang merupakan panitia penyelenggara kegiatan menggelar lomba foto dengan tema menampilkan bagian yang terjelek di Padepokan Wulan Tumanggal. Ide lomba tersebut berdasarkan arahan dari Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Panji Suryanigrat II. Ada 2 kategori dalam lomba foto ini, yaitu kategori foto terbaik dengan menampilkan bagian terjelek di Padepokan Wulan Tumanggal. Dan yang kedua adalah kategori hasil foto dengan menampilkan posisi pengambilan foto (angle) terunik.

Pada malam harinya diadakan sukuran ulang tahun KEIMANAN yang ke 10. Sukuran yang berupa pemotongan tumpeng ini juga diikuti oleh Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya KRT. PW. Ang. K Teja Sulaksana yang berulang tahun ke 60, dan salah satu keluarga Perguruan Trijaya, Tatan Setiawan yang berulang tahun ke 44. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Nini Kartika dan oleh Romo Guru diberikan kepada Kepala Bidang (Kabid) KEIMANAN, PAC. Aryanto, AAN, S.Hut.



Sukuran kali ini dimeriahkan tampilan 3 (tiga) tarian daerah. Yaitu tari Gatotkaca yang dibawakan oleh mas Priambodo sebagai pembuka acara sukuran. Tari yang kedua adalah Topeng Endel yang merupakan tarian khas Kabupaten Tegal. Tari ini dibawakan secara apik oleh 2 (dua) pelajar putri dari SMK N 1 Bumijawa.

Berikutnya  adalah tari Geol Denok. Tari kreasi dari kota Semarang ini ditampilkan oleh Ikha Sulis Setyaningrum, mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tengah melakukan riset Tari Kalang Perguruan Trijaya. Ikha juga pernah menjadi salah satu finalis ajang bakat Indonesia Menari yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional tahun lalu, mewakili kota Semarang.

Hari Berikutnya, Minggu Legi 12 Maret 2017, Kegiatan dilanjutkan dengan nyekar dan kerja bakti. Nyekar di Astanalaya Kasidanjati, yang merupakan lokasi pesarean RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat ini diikuti oleh pengurus lengkap, sebagian anggota KEIMANAN, dan AAN, serta didampingi oleh Nini Kartika. Sujudan nyekar dipimpin oleh Kabid KEIMANAN.

Kerja bakti yang dimaksud adalah revitalisasi sekretariat KEIMANAN yang terletak di depan Padepokan Wulan Tumanggal, tepatnya di Jln. Garuda No. 7 Desa Dukuhtengah, Bojong, Kabupaten Tegal. Sekretariat ini sengaja dibersihkan dan ditata ulang untuk difungsikan kembali sebagai pusat informasi & komunikasi para anggota KEIMANAN dan AAN disetiap kegiatan yang diadakan di Padepokan Wulan Tumanggal.