Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

HARI PEMUDA 2017 : SELAIN MEMBANGUN JIWA, PEMUDA JUGA HARUS MEMBANGUN RAGA SEBAGAI MODAL MEMBANGUN BANGSA

Gambar
Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak di kaki gunung Slamet, Sabtu kemarin (28/10) sontak ramai oleh sorak sorai beberapa pertandingan olah raga. Di dalam gedung serba guna bernama Samora (Sasana Among Raga) diramaikan oleh lomba bulutangkis. Sedangkan di Sinangling (nama kolam renang di Padepokan Wulan Tumanggal) tak kalah serunya karena ada lomba renang yang diikuti oleh peserta dengan segala usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan juga diikuti oleh orang tua "Tujuan kami mengadakan Lomba olah raga yang tepat di hari Pemuda ini adalah untuk membangkitkan kembali semangat berolah raga. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, Pemuda masa kini banyak menghabiskan waktu dengan smartphone -nya. Waktu istirahat di sekolah tak lagi digunakan untuk bermain dilapangan dan lebih banyak didepan gedjet", jelas ketua panitia, Wisnu Widya Permana. Dia juga menjelaskan bahwa pemuda dan olah raga adalah satu paket. Sebagai pelaku budaya spiritual, selain

72 POHON MAHONI MENJADI PENGHUNI BARU DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL

Gambar
Sebanyak 72 pohon mahoni, menjadi penghuni baru di Sasana Padepokan Wulan Tumanggal. Bibit tersebut ditanam pada kegiatan rutin Minggu Wagean, yang biasa disebut sebagai Manharabah Rifaat , Minggu Wage (1/10). ke 72 bibit pohon mahoni tersebut berasal 2 daerah, yaitu daerah Semarang sebanyak 20 bibit, dan 52 bibit dari daerah Brebes. Jumlah 72 ini bukan dari sebuah kesengajaan, terutama bibit yang berasal dari daerah Brebes. Sebenarnya kami tidak sengaja membawa sejumlah itu, saya tahunya membawa satu bongkok bibit pohon mahoni, jelas Pt. Samadiwangsa dari Tasikmalaya, Putera Daerah Brebes yang ikut dalam kegiatan Manhabah Rifaat kali ini. Angka 72 ini sesuai dengan tahun ini tepat 72 tahun kemerdekaan negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Minggu wagean ini menjadi yang pertama kali di tahun 1951 Jawa, setalah beberapa hari kemarin melaksanakan Hari Raya Suro. Sebanyak 15 Putera Daerah Semarang ikut sebagai petugas kegiatan ini, dibantu beberapa Putera dari Daerah

4 PENDEKAR CIUNG WANARA BERAKSI DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL

Gambar
4 (empat) pendekar dari Bandung, dengan gaya khas mereka, berhasil menampilkan aksi tebaiknya di Padepokan Wulan Tumanggal, Sabtu Pon malam Minggu Wage (1/10). Selain tangkas dalam bela diri tangan kosong, mereka juga mampu menampilkan kepiawaiannya dengan menggunakan senjata, baik senjata tajam (belati) maupun tongkat. Risya (17), Lutfi (17), dan Shifa (16) duduk bersama di SMAN 24 Bandung, sedangkan Miftah (14) bersekolah di SMPN 17 Bandung. Mereka belajar silat di Perguruan Pencak Silat Ciung Wanara Domas, kota Bandung pimpinan Kustiwa Gunawan, yang juga ayah dari Risya . Aksi keempat pendekar remaja dari kota kembang itu merupakan persembahan khusus di acara Sukuran Ambal Warsa Perkawinan Romo Guru KRA Suryanigrat II dengan Nini Kartika yang ke 23. Acara yang digelar di Pamiwahan Putera, Padepokan Wulan Tumanggal tersebut juga diikuti 3 pasangan Putera (Pt) sebagai peserta sukuran ulang tahun perkawinan, Diantaranya Pt. Adi Setyanto (Pakde Adi) dengan Pt. Endah Kusumaningsi

GREBEG HARI RAYA SURA 1951 JAWA DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL