Minggu, 29 Oktober 2017

HARI PEMUDA 2017 : SELAIN MEMBANGUN JIWA, PEMUDA JUGA HARUS MEMBANGUN RAGA SEBAGAI MODAL MEMBANGUN BANGSA





Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak di kaki gunung Slamet, Sabtu kemarin (28/10) sontak ramai oleh sorak sorai beberapa pertandingan olah raga. Di dalam gedung serba guna bernama Samora (Sasana Among Raga) diramaikan oleh lomba bulutangkis.

Sedangkan di Sinangling (nama kolam renang di Padepokan Wulan Tumanggal) tak kalah serunya karena ada lomba renang yang diikuti oleh peserta dengan segala usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan juga diikuti oleh orang tua

"Tujuan kami mengadakan Lomba olah raga yang tepat di hari Pemuda ini adalah untuk membangkitkan kembali semangat berolah raga. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, Pemuda masa kini banyak menghabiskan waktu dengan smartphone-nya. Waktu istirahat di sekolah tak lagi digunakan untuk bermain dilapangan dan lebih banyak didepan gedjet", jelas ketua panitia, Wisnu Widya Permana.

Dia juga menjelaskan bahwa pemuda dan olah raga adalah satu paket. Sebagai pelaku budaya spiritual, selain berupaya membangun generasi muda yang ber- jiwa nusantara, kita juga jangan sampai lupa menjaga raga untuk selalu sehat dan prima.

Mengutip lirik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang berbunyi .....Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya, Untuk Indonesia Raya.... , maka dengan lomba ini kami mengajak seluruh Pemuda Indonesia khususnya Generasi Muda Perguruan Trijaya, Anak Alam Nusantara, untuk menjaga stamina dan kekuatan raga kita melalui olah raga, sebagai bekal membangun bangsa dan upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Perlombaan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Pemuda 2017 yang telah dilaksanakan oleh Perguruan Trijaya secara rutin setiap tahun. Kali ini kegiatan dilaksanakan selama 3(tiga) hari, mulai Jumat Kliwon sampai (27/10) sampai dengan Minggu Pahing, (29/10).

Bentuk kegiatan ini meliputi Sukuran dilaksanakan pada Jumat Kliwon malam Sabtu Legi, (27/10). Dilanjutkan dengan Upacara Bendera yang dilaksanakan Sabtu Legi (28/10), dan Lomba 3 cabang olah raga yang dilaksanakan setelah Upacara Bendera. Malam Minggu Pahing akan dilaksanakan penyerahan Thropy/piala kepada masing-masing Juara Lomba.

Kami memilih Bulutangkis, Renang dan Catur karena ketiga cabang olah raga tersebut merupakan jenis cabang olah raga yang mempunyai filosofi tinggi yang sangat  bermanfaat untuk kehidupan kita sehari-hari. 

Juara 1 dalam lomba bulutangkis perseorangan diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul Purwanto dari Pemalang dan Taufik dari Yogyakarta. Untuk Ganda, juara 1 diraih pasangan dari Daerah Purwodadi, disusul dari Daerah Pemalang dan Daerah Padepokan.

Di lomba renang muncul sebagai juara 1 anak-anak putra diraih Tandan dari Tegal, disusul Yoga dari Tegal dan P.Saifullah dari Yogyakarta. Untuk dewasa putra juara 1 diraih Dedy dari Tegal, disusul Tatan dari Jakarta dan Leo dari Tegal. 

Untuk lomba renang anak-anak putri, juara 1 diraih Imelda dari Brebes, disusul Anita dari Yogyakarta dan Nurul dari Jakarta. Sedangkan kelas dewasa putri juara 1 diraih Anin dari Tegal, disusul Nalurita dan Ajeng yang keduanya adalah anggota paskib yang ikut meramaikan perlombaan ini.

Sedangkan pada lomba catur, juara 1 diraih Wisnu dari Purwodadi, disusul M. Taufik dari Yogyakarta dan Siswondo dari Pemalang. 

Trophy kejuaraan ini diserahkan langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Suryaningrat II pada malam minggu pahing, saat melaksanakan tradisi makan malam bersama dengan menu ayam bakar tanpa bumbu yang mana secara rutin dilaksanakan di Perguruan Trijaya.
  

Senin, 02 Oktober 2017

72 POHON MAHONI MENJADI PENGHUNI BARU DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL


Sebanyak 72 pohon mahoni, menjadi penghuni baru di Sasana Padepokan Wulan Tumanggal. Bibit tersebut ditanam pada kegiatan rutin Minggu Wagean, yang biasa disebut sebagai Manharabah Rifaat, Minggu Wage (1/10).

ke 72 bibit pohon mahoni tersebut berasal 2 daerah, yaitu daerah Semarang sebanyak 20 bibit, dan 52 bibit dari daerah Brebes. Jumlah 72 ini bukan dari sebuah kesengajaan, terutama bibit yang berasal dari daerah Brebes.

Sebenarnya kami tidak sengaja membawa sejumlah itu, saya tahunya membawa satu bongkok bibit pohon mahoni, jelas Pt. Samadiwangsa dari Tasikmalaya, Putera Daerah Brebes yang ikut dalam kegiatan Manhabah Rifaat kali ini. Angka 72 ini sesuai dengan tahun ini tepat 72 tahun kemerdekaan negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Minggu wagean ini menjadi yang pertama kali di tahun 1951 Jawa, setalah beberapa hari kemarin melaksanakan Hari Raya Suro. Sebanyak 15 Putera Daerah Semarang ikut sebagai petugas kegiatan ini, dibantu beberapa Putera dari Daerah Brebes, Tegal, Jakarta, Purwodadi, Pemalang dan Padepokan .

Mengamankan, menjadi yang paling utama sebelum kita memelihara, menambahkan, dan lain-lainnya, apalagi melestarikan dan memanfaatkan. Karena itu kata mengamankan ada dipaling depan dalam istilah Manhabah Rifaat, jelas Romo Guru.

Manharabah Rifaat mempunyai arti mengamankan, memelihara, menambah, melestarikan dan memanfaatkan Padepokan Wulan Tumanggal. Sebuah kegiatan rutin setiap Minggu Wage, dimana hari itu merupakan hari jadi Padepokan Wulan Tumanggal yang berdiri pada 9 September 1984.

Dulunya kegiatan ini sering disebut dengan nama Bersih Wulan Tumanggal, tetapi agar tidak hanya di maknai dengan bersih-bersih, maka sudah seharusnya kita bisa memenuhi semua kriteria yang ada dalam Manharabah Rifaat tersebut, tambah Romo Guru.

Selain menanam pohon mahoni, daerah Semarang juga membawa 5 burung kutilang dan 5 burung trucuk, untuk menambah koleksi hewan piaraan yang ada di Padepokan Wulan Tumanggal.

4 PENDEKAR CIUNG WANARA BERAKSI DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL

4 (empat) pendekar dari Bandung, dengan gaya khas mereka, berhasil menampilkan aksi tebaiknya di Padepokan Wulan Tumanggal, Sabtu Pon malam Minggu Wage (1/10). Selain tangkas dalam bela diri tangan kosong, mereka juga mampu menampilkan kepiawaiannya dengan menggunakan senjata, baik senjata tajam (belati) maupun tongkat.

Risya (17), Lutfi (17), dan Shifa (16) duduk bersama di SMAN 24 Bandung, sedangkan Miftah (14) bersekolah di SMPN 17 Bandung. Mereka belajar silat di Perguruan Pencak Silat Ciung Wanara Domas, kota Bandung pimpinan Kustiwa Gunawan, yang juga ayah dari Risya .

Aksi keempat pendekar remaja dari kota kembang itu merupakan persembahan khusus di acara Sukuran Ambal Warsa Perkawinan Romo Guru KRA Suryanigrat II dengan Nini Kartika yang ke 23.


Acara yang digelar di Pamiwahan Putera, Padepokan Wulan Tumanggal tersebut juga diikuti 3 pasangan Putera (Pt) sebagai peserta sukuran ulang tahun perkawinan, Diantaranya Pt. Adi Setyanto (Pakde Adi) dengan Pt. Endah Kusumaningsih (Budhe Acih), Pt. Agus Setiyono dengan Pt. Setiyani dan Pt. Wisnu Widya Permana, AAN (Nunu) dengan Pt. Widha Mangesti K, AAN.

Ulang tahun perkawinan tidak kalah pentingya dibandingkan ulang tahun kelahiran. Banyak yang melupakan ulang tahun perkawinan karena dirasa tidak penting. Padahal dengan perkawinan itulah, kita memulai hidup baru dengan pasangan kita dan melanjutkan keturunan, jelas Romo Guru.

Istilah kawin dalam kata perkawinan lebih kita pilih karena ini adalah bahasa spiritual kita yang mengandung filosofi tinggi, tambah Romo Guru.

Sebelum aksi para pendekar dari Bandung, panggung Pamiwahan Putera juga dimeriahkan oleh gerak cantik tari Geyol Denok yang ditampilkan oleh 2 penari dari Sanggar Lenggok Ayu.

Tari khas Semarangan ini seolah menggambarkan bahwa kegiatan minggu wage-an atau sering disebut dengan istilah Manharabah Rifaat Padepokan Wulan Tumanggal, yang dilaksanakan setiap bulannya, dimana kali ini yang menjadi petugas adalah Daerah Semarang.







GREBEG HARI RAYA SURA 1951 JAWA DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL