Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

5 Tahun Romo Resi dan Romo Guru

Gambar
Tepat pada 10 November 2018 yang lalu, selain diperingati sebagai Hari Pahlawan secara nasional, di Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal juga diperingati sebagai tanggal berpulangnya ke hadirat Gusti Ingkang Maha Agung, Romo Resi (RG KPA EK Giripati Suryaningrat) yang merupakan pendiri sekaligus pembina pertama Perguruan Trijaya. Tanggal itu pula diperingati sebagai Jumenengan- nya Romo Guru KRA Suryaningrat II sebagai Pembina Perguruan Trijaya secara de facto . Hal ini disampaikan Romo Guru KRA Suryaningrat II dalam acara Pengetan 5th RG KPA EK Giripati Suryaningrat Katimbalan Gusti, di Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal, Sabtu (10/11).

Saat para AAN menyatu dengan Alam di Hari Pemuda

Gambar

Makna Persaudaraan dalam Grebeg Sura

Gambar

Dirjen Kebudayaan : Ketahanan Budaya terwujud oleh peran aktif masyarakat

Gambar

Bantuan air bersih untuk warga Grobogan yang dilanda kekeringan

Gambar
Bopo Trubus (memegang selang) memimpin langsung bakti sosial Sejumlah warga beberapa desa di kecamatan Geyer dan kecamatan Toroh terlihat sumringah siang itu, Selasa Pahing (4/9). Wajah berseri-seri tampak diraut mereka yang dalam beberapa hari terakhir mengalami kekeringan. Kali ini mereka mendapatkan bantuan air bersih sebanyak 5 tangki mobil ditempat yang berbeda-beda. Bantuan air bersih ini merupakan bentuk empati dari Perguruan Trijaya Daerah Purwodadi yang mengetahui adanya kekurangan air bersih di wilayah kabupaten Grobogan bagian selatan, tepatnya di kecamatan Geyer dan Toroh. Ketua Daerah Purwodadi, PAC. Ang. KRT. Trubus Eko S, S.TP menjelaskan bahwa kegiatan ini bermaksud untuk membantu warga yang mengalami kekeringan. Bakti sosial ini juga didasari rasa solidaritas sesama warga Grobogan. "Hidup Adalah Pengabdian" merupakan slogan yang terdapat dalam lambang Perguruan Trijaya ini juga selalu menginspirasi bahwa keberadaan Perguruan Trijaya hendaknya bisa b

Caosan Minggu Kliwon, bukti rasa cinta kepada Orang Tua

Gambar
Bertempat di rumah PAC. Sri Maryono, Kradenan, Grobogan, Sabtu Wage (1/9) digelar upacara ritual Coasan Minggu Kliwon. Caosan atau selamatan yang merupakan agenda rutin di Perguruan Trijaya kali ini dilaksanakan oleh Daerah Purwodadi. Caosan ini merupakan kali ke 3(tiga) setelah Daerah Jakarta dan Daerah Semarang. Sebelumnya Caosan Minggu Kliwon dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal, kemudian pada sekitar pertengahan tahun ini, tempat pelaksanaan diganti yaitu di seluruh daerah yang ada di Perguruan Trijaya secara bergantian. "Keikutsertaan para Putera dalam Caosan Minggu Kliwon ini sebagai bukti rasa katresnan (cinta kasih) kita kepada sang Orang Tua" jelas Romo Guru KRA Suryaningrat II saat memberikan pembinaan di pembukaan Caosan. Minggu Kliwon sendiri merupakan wiyosan (hari lahir) Pembina Perguruan Trijaya yang pertama yaitu Romo Guru KPA EK Giripati Suryaningrat.

Bendera Merah Putih, Jatidiri Bangsa Indonesia

PAC, Tulang Punggung Perguruan

Gambar
Minggu Wage, 8 Juli 2018, Sebanyak 11 Putera (sebutan murid dalam Perguruan Trijaya), telah melaksanakan Caosan sukuran PAC yang dilaksanakan di Padepokan Wulan Tumanggal. Ke 11 Putera (Pt) tersebut antara lain Pt. Niko, Pt. Topik, Pt. Sartono, Pt. Ratmi, Pt. Ratih, Pt. Nia, Pt. Lestari, Pt. Yuliani, Pt. Sapar, Pt. Dedi, dan Pt. Risang. Sudah menjadi kewajiban di Perguruan Trijaya bahwa Setiap Putera yang telah mencapai Arkat Tamat (11), maka dalam kurun waktu 70 hari terhitung sejak Arkat Tamat tersebut, diwajibkan untuk melaksanakan sukuran dalam bentuk Caosan dan mereka berhak menyandang gelar PAC (Putera Arkat Chatam). Gelar PAC ini merupakan tingkat keilmuan yang menandakan bahwa mereka telah selesai melampaui tingkatan arkat, yaitu dari PAK (Putera Arkat Kasar), PAH (Putera Arkat Halus), PAB (Putera Arkat Batin), hingga PAT (Putera Arkat Tamat). Dalam memakai PSL (Pakaian Seragam Latihan) pun mereka tidak memakai Sabuk Biru lagi, melainkan sudah berhak memakai Sabuk Biru

Sang Merah Putih untuk Parangtritis

Gambar
Tim Paskibra Keimanan saat menurunkan bendera merah putih yang telah rusak dan usang Jumat Pahing (1/6), Sekelompok pemuda dari Perguruan Trijaya mendatangi Posko SAR yang ada di Pantai Parangtritis. Mereka sambil membawa sebuah bendera marah putih untuk diberikan kepada Posko SAR Kabupaten Bantul DIY. Bendera tersebut sebelumnya dipakai oleh keluarga besar Perguruan Trijaya pada Upacara Bendera dalam rangka peringatan Hari Pancasila di Parangtritis, pagi itu. Setelah usai upacara, satu dari Pengurus KEIMANAN (Kelompok Inteltual Muda Anak Alam Nusantara) Perguruan Trijaya, Pt. Risang mengusulkan untuk memberikan bendera merah putih yang dipakai dalam upacara bendera itu, kepada Posko SAR yang terlihat dari lapangan tempat lokasi upacara. Bendera itu sudah usang bahkan dibagian pinggir terlihat rusak dan warnanyapun sudah pudar, kita berikan bendera kita agar bermanfaat untuk mereka dan masyarakat sekitar sini, jelas Risang. Upacara peringatan Hari Pancasila ini merupakan seb

Makna Seket (50) dalam filosofi Jawa

Gambar
Romo Guru KRA Suryaningrat II bersama Nini Kartika (isteri) dan ketiga puteranya Dalam masyarakat jawa, angka 50 merupakan salah satu angka yang unik dan istimewa, khususnya penyebutannya dalam bahasa jawa. Jika diurutkan misal dari angka 30 disebut telungpuluh , angka 40 : patangpuluh , angka 50 harusnya limangpuluh , tetapi mengapa dinamakan seket ? Seket mempunyai arti se-iket = mengikat. Seperti fungsi tali yang mengikat sebuah sapu yang terdiri dari banyak lidi. Meskipun Sapu lidi yang berfungsi untuk menyapu adalah ujung dari kumpulan lidi-lidi tersebut, namun tanpa ada tali yang mengikat maka tidak akan dapat berfungsi secara baik dan benar. Hal tersebut dijelaskan oleh Pembina Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal, Romo Guru KRA Suryaningrat II dalam acara Pengetan Ambal Warsa kaping 50, Romo Guru KRA Suryaningrat II, di Padepokan Wulan Tumanggal, Kabupaten Tegal, Minggu (6/5). Lebih lanjut Romo Guru menjelaskan, pada saat manusia mencapai usia 50 ( seket

Dari Lomba Memasak, Paduan Suara hingga Keluwesan ramaikan Hari Kartini 2018

Gambar
Nini Kartika saat mengambil sampel nasi goreng dari tim Semarang Daerah Semarang tampil sebagai pemenang dalam Lomba Memasak nasi goreng di Padepokan Wulan Tumanggal, Sabtu Legi (21/4). Lomba memasak dalam rangka Peringatan Hari Kartini ini diadakan oleh Pemberdayaan Perempuan Kartini (PPK), sebuah sub organiasasi perempuan yang ada di Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya - Pusat Tegal. Untuk juara 2 dan 3 masing-masing ditempati oleh Daerah Purwodadi dan Yogyakarta. Dalam lomba memasak ini selain tampilan dan rasa, unsur penilaian yang tinggi terdapat pada kerjasama tim. Setiap tim yang terdiri dari 7 orang ini harus saling bekerja sama sesuai dengan tugas yang diatur oleh sang ketua tim. "Lomba ini adalah lomba tim bukan perorangan, jadi untuk memasak dibutuhkan kebersamaan dan kekompakan, sempat terlihat tadi ada anggota tim yang tidak mau bekerjasama", jelas Nini Kartika setelah mengambil sampel ke masing-masing stand peserta. "Untuk rasa, sebenarnya h

KEIMANAN harus punya Otot Kawat, Balung Wesi dan Sikil Pacul

Gambar
Seluruh anak muda yang tergabung dalam KEIMANAN harus menjadi generasi muda yang tangguh dan tahan banting serta tidak terlalu sensitif terhadap kegalauan, jadilah anak muda yang mempunyai otot kawat balung wesi dan sikil pacul. Janganlah mudah mengeluh karena karena setiap orang punya masalah. Banyak orang-orang tersenyum dengan penderitaan hidupnya yang lebih berat, mereka tidak mudah untuk mengeluh. Derita dan masalah kalian belumlah seberapa, dibandingkan orang lain diluar sana. Hadapi dan jangan lari dari kenyataan karena ditempat kalian lari akan menemui masalah yang lebih berat. Percayalah sing ngecat lombok, sing nguyahi segara tidak akan memberikan sesuatu yang melebihi kemampuan kita. Kalimat tersebut diatas disampaikan secara menggelora dan penuh semangat oleh Pjs. Bupati Tegal Drs. Sinoeng Nugroho Rachmadi, MM, pada Peringatan dan Perayaan KISEMAR 2018 serta Ulang Tahun ke 11 KEIMANAN (Kelompok Intelektual Muda anak Alam Nusantara) di Padepokan Wulan Tumanggal, Bojon

Bupati Tegal : Wulan Tumanggal akan saya jadikan sebagai Desa Wisata Spiritual

Gambar
Bupati Tegal, Enthus Susmono saat memberi sambutan pada peringatan ulang tahun ke 52 Perguruan Trijaya Padepokan Wulan Tumanggal yang berada di desa Dukuhtengah kecamatan Bojong, kabupaten Tegal oleh Bupati Tegal Ethus Susmono akan dijadikan sebagai desa wisata spiritual. Pernyataan itu disampaikannya saat memberi sambutan pada acara Peringatan Ulang Tahun ke 52 Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal, di Padepokan Wulan Tumanggal, Minggu Kliwon 4 Februari 2018. "Saya sangat suka, dan saya sangat senang sekali dengan Wulan Tumanggal. Wulan Tumanggal adalah bedor panah Arjuna yang namanya Pasopati. Wulan Tumanggal juga mempunyai arti tanggal 1 (satu) yakni bulan sabit. Biasanya kalo wanita itu dipakai untuk alis. Arti dari garis lengkung bulan sabit Wulan Tumanggal adalah lambang keseksian yang luar biasa. Saya kepengen nanti Wulan Tumanggal ini saya usulkan untuk menjadi desa wisata spiritual", jelas Enthus. Dengan gaya khasnya yang kocak dan men

Pancasila, Mantra Sakti Nusantara yang harus diucapkan minimal 1 kali setiap hari

Gambar
Ikrar Kesetiaan  kepada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI mewarnai acara resepsi peringatan ulang tahun ke 52 Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal di Padepokan Wulan Tumanggal, Minggu Kliwon, 4 Februari 2018. Ikrar atau janji yang diucapkan oleh para Pengurus Perguruan Trijaya ini mewakili dari semua Putera dan seluruh keluarga besar Perguruan Trijaya. Prosesi pengucapan ikrar yang berjalan sakral tersebut disaksikan langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA Panji Suryaningrat II. Adapun empat (4) point dari ikrar tersebut antara lain : 1. Setia kepada Pancasila, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 3. Membentuk Generasi Muda Anak Alam Nusantara berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila, serta 4. Menjadikan  PANCASILA  sebagai  "MANTRA SAKTI NUSANTARA"  yang wajib diucapkan minimal 1 kali dalam kehidupan kami sehari-hari. J