Sabtu, 20 Agustus 2016

MENGHIDUPKAN KEMBALI CAOSAN PAC, SETELAH SEKIAN LAMA VAKUM



Setelah sekian lama Caosan PAC tidak pernah dilaksanakan, kali ini dilaksanakan di Daerah Semarang. Caosan PAC merupakan salah satu kewajiban bagi Putera yang telah mencapai tingkat PAC dan dilaksanakan minimal 70 hari sekali. Dahulu, caosan PAC sering dilaksanakan secara berkelompok dalam satu ataupun lebih Daerah yang berdekatan.

PAC, merupakan singkatan dari Putera Arkat Chatam. Sebutan atau gelar tingkatan Putera (murid) dalam Perguruan Trijaya. Ini merupakan tingkatan arkat/level terakhir dimana telah dinyatakan lulus sebagai murid dalam menempuh pendidikan pada tingkat arkat. Seorang Putera yang menyandang PAC telah menempuh beberapa tahap. Dari arkat 1 sampai 2 bergelar PAK (Putera Arkat Kasar), arkat 3 sampai 6 bergelar PAH (Putera Arkat Halus), arkat 7 sampai 10 bergelar PAH ( Putera Arkat Halus ) Arkat 11 PAT (Putera Arkat Tamat). Setelah mencapai PAT, seorang Putera diwajibkan melaksanakan sukuran Chataman setelah melaksanakan arkatan yang terahir di arkat 11.

Ide awal untuk melaksanakan caosan PAC ini muncul dari salah satu PAC di Daerah Semarang, yaitu PAC. Moekri atau yang biasa dipanggil dengan mbah Mukri karena usianya yang telah menginjak 74 tahun. Meskipun telah berusia lanjut namun beliau tergolong seorang Putera yang masih tangkas, gesit dan penuh semangat. Sejak kemunculan Pt. Mukri (dibaca Putera Mukri) di Perguruan Trijaya dan diaktifkan kembali oleh Pembina pada Jumat Kliwon Februari 2015, yang selama 24 tahun pasif tidak mengikuti kegiatan. Kehadiran Pt. Mukri telah banyak memberi angin segar bagi para Putera khususnya Daerah Semarang. Beberapa gagasan yang muncul memberikan motivasi bagi beberapa Putera

Gagasan untuk mengadakan kembali Caosan PAC tadi direspon positif oleh Pembina Perguruan Trijaya, RG. KRA. Suryaningrat II. Dan beliau berpesan untuk dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Caosan dilaksanakan bertepatan pada pengetan kondurnya RGKPA, yaitu Minggu Pon tanggal 20 malam 21 Agustus 2016 bertempat dikediaman PAC. Gunadi, Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.

Aturan Caosan PAC seharusnya dilaksanakan 70 hari sekali, atau dalam bahasa jawa nya 2 lapan sekali. Dilaksanakan secara bergantian di rumah putera yang ditentukan secara berputar. Tradisi ubo rampe caosan dibwa masing-masing peseta caosan. Selain meringankan dari segi biaya hal ini melatih kepedulian dan menumbuhkn rasa kebersamaan diantara para putera. Dahulu saat Semarang masih menjadi kelompok di dalam daerah Purwodadi, Caosan PAC sering dilaksanakan secara bergantian.

Caosan kali ini diikuti sebanyak 21 peserta. Terdiri dari 14 PAC, 4 isteri Putera, dan 3 isetri non Putera. Meskipun dilaksanakan di daerah Semarang, namun peserta caosan bisa dari daerah lain. Dalam caosan ini ada 3 daerah yang mengikutinya yaitu daerah Semarang sendiri, ditambah beberapa Putera dari daerah Purwodadi dan Padepokan. Dari segi usia , peserta caosan kali ini bervariasi, dari yang termuda berusia 37 tahun sampai usia tertua 74 tahun. Caosan PAC bersifat murni keilmuan PAC sehingga tidak bisa diikuti kegiatan ritual lain. Misal ada yang wetonan, maka sujudan dan doa wetonan tersebut dilaksanakan di waktu yang tidak bersamaan dengan sujudan caosan.



PAC adalah tulang punggung perguruan, diharapkan sesama PAC bisa saling mengingatkan dan mengajak agar senantiasa melaksanakan tugas dan kewajiban PAC, jelas PAC. Ang. Mochji yang merupakan Ketua Paguyuban PAC Daerah Purwodadi. Kegiatan ini adalah langkah awal sebagai upaya menggairahkan kembali semangat para Putera khususnya PAC dan tidak hanya di Daerah Semarang, tetapi bisa dilaksanakan di daerah-daerah lain, tambahnya.

Keberadaan PAC dalam Perguruan Trijaya mempunyai peran yang sangat vital. Selain sebagai tulang punggung perguruan, PAC mempunyai tugas untuk menyebarkan dan melestarikan ajaran spiritual warisan leluhur bangsa ini. Laku spiritual dengan tata cara yang telah dibakukan dan dipelajari secara bertahap ini hendaknya bisa diwariskan kepada anak dan cucu sebagai generasi penerus bangsa.

Caosan ditutup tepat pukul 5 minggu pagi, dan dilanjutkan dengan evaluasi kegiatan. Banyak sekali temuan unik dalam caosan ini, salah satunya tentang uba rampe caosan. Jumlah pisang raja kupeng yang berjumlah 14 buah sama dengan jumlah PAC yang menjadi peserta caosan, dan pisang wajib yang berjumlah 7 buah sama dengan jumlah isteri PAC yang membantu pelaksanaan kegiatan ini.






 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar