Senin, 11 November 2013

BERPULANGNYA SANG PAHLAWAN NUSANTARA KEPADA SANG PENCIPTA


Pukul 11.00 WIB Minggu Pon 10 Nopember 2013 tepat di hari Pahlawan, pembina Perguruan TRIJAYA Pusat Tegal RG. KPA. EK Giripati Suryaningrat telah menghadap Gusti Kang Maha Agung. Sedih, duka dan haru menyeruah di seluruh pelosok nusantara yang telah kehilangan putera bangsa terbaik ini sebagai pahlawan nusantara yang selalu memperjuangkan budaya nusantara sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Ribuan pelayat terdiri dari Keluarga, Putera Trijaya, Simpatisan, Pejabat pemerintah, dan masyarakat mengiringi kepergian Beliau menuju peristirahatan terakhir di Astanalaya Kasidanjati Padepokan Wulan Tumanggal. Isak tangis dan kesedihan menggelayut bersamaan dengan mendung yang menutup langit lereng gunung Slamet itu. Kepergian Beliau memang sangat mengejutkan banyak pihak karena tepat 6 (enam) hari sebelumnya beliau bersama-sama keluarga besar Perguruan Trijaya dan masyarakat sekitar telah melaksanakan rangkaian ritual tahunan, Peringatan dan Perayaan Hari Raya Sura 1947 J / 2013 M di Padepokan Wulan Tumanggal.

Romo Guru KPA. EK.  Giripati Suryaningrat lahir di Medan 15 Desember 1940, sejak mendirikan Perguruan Trijaya pada tanggal 2 Februari 1966, beliau telah memberikan banyak ajaran dan tuntunan dalam hidup dan kehidupan, serta pitutur luhur baik yang bersifat keilmuan, organisasi maupun berbangsa dan bernegara, kepada para Putera Tegal yang tersebar diseluruh pelosok nusantara. Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum DPP HPK periode 2008-2013. Banyak karya beliau yang patut kita apresiasi tinggi salah satunya berupa Sasana Padepokan Wulan Tumanggal dengan segala bangunan, ornamen, tugu, taman dll yang mempunyai nilai seni dan spiritual tinggi dengan masing-masing fungsi serta filosofinya.


























Rabu, 06 November 2013

GREBEG HARI RAYA SURA 1947 J / 2013 M

Sura berasal dari bahasa Jawa yang berati “berani”. Yang dimaksud berani dalam kata Sura itu sendiri adalah kita berani untuk mawas diri. Kegiatan 1 Sura sendiri telah dilaksanakan sejak lama oleh para Leluhur Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa untuk memperingati tahun baru Jawa (Kalender Jawa). 1 (satu) Sura sendiri merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat Jawa yang juga merupakan salah satu ajaran Leluhur Bangsa Indonesia yang adi luhung.  

Oleh karena itu sebagai salah satu organisasi yang memegang teguh ajaran leluhur, “Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya – Pusat Tegal” sejak didirikannya telah melaksanakan kegiatan 1 Sura sebagai salah satu agenda kegiatan tahunan. Dari hanya sekedar memperingati tahun baru Jawa, kini kegiatan 1 Sura oleh Perguruan Trijaya pada tahun 2000 dicanangkan sebagai Hari Raya Sura (Hari Rayanya orang Jawa).

Peringatan Hari Raya Sura (HRS) sudah menjadi agenda tahunan di Perguruan Trijaya. HRS 1947 J / 2013 kali ini dilaksanakan selama 3 (tiga) hari mulai Minggu Legi - Selasa Pon (3-5 Nopember 2013), meliputi acara "Mandi Curug", Pentas Seni Daerah, Grebeg Sura, Sarasehan, Siraman dan Pembinaan Keluarga Rahayu.
Grebeg Suro merupakan acara meng-grebeg-kan hasil bumi dan raja kaya. Arti Grebeg sendiri hampir sama dengan kirab namun mempunyai makna lebih besar dan agung nilainya secara lahiriah maupun spiritual. Ritual ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus permohonan agar Bangsa Indonesia dijauhkan dari berbagai musibah dan bencana. Diakhir acara, Gunungan hasil bumi diperebutkan warga karena dipercaya mendatangkan berkah. Ritual diisi dengan grebeg tumpeng nasi dan gunungan hasil bumi yang berupa padi, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Selain hasil bumi, sejumlah hewan juga ikut dikirab. Diantaranya, sapi, kambing, dan ayam. Dalam grebeg ini juga ditampilkan berbagai macam kesenian daerah antara lain wayang orang, kuda lumping, kentongan rampak, ampal-ampalan, serta kesenian asli cina barongsai. Ratusan peserta kirab mengenakan berbagai macam pakaian mulai dari pakaian petani, prajurit kraton dan pakaian adat jawa mengiringi di belakang arak-arakan gunungan. Peserta kirab selain dari masyarakat sekitar juga sebagian besar berasal dari luar kota seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Papua dll.

Romo Guru KPA EK Suryaningrat, sebagai Pembina Perguruan TRIJAYA mengatakan ritual grebeg gunungan dan kesenian daerah ini selain untuk menyambut satu suro juga sebagai ungkapan rasa syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus permohonan agar bangsa Indonesia dijauhkan dari berbagai macam musibah dan bencana. 











Minggu, 20 Oktober 2013

WISUDA GELAR KERATON SURAKARTA HADININGRAT DI PADEPOKAN WULAN TUMANGGAL




Untuk kesekian kalinya Padepokan Wulan Tumanggal menjadi saksi peristiwa bersejarah dimana 53 Putera Tegal Perguruan TRIJAYA Padepokan Argasonya – Pusat Tegal akan diwisuda menjadi Sentonodalem/Abdidalem Karaton Surakarta Hadiningrat oleh beliau SISKS. Pakoe Boewono XIII.
Peristiwa kali ini sangat istimewa, karena Wisuda Sentonodalem/Abdidalem biasanya merupakan satu rangkaian dengan acara Jumenengan Karaton Surakarta Hadiningrat dan dilaksanakan di lingkungan Karaton. Namun kali ini beliau SISKS. Pakoe Boewono XIII sendiri yang akan mewisuda 53 Putera Tegal Perguruan TRIJAYA – Pusat Tegal di Padepokan Wulan Tumanggal pada hari Minggu Pahing, 20 Oktober 2013.
Sebelum pelaksanaan Wisuda Sentonodalem/Abdidalem acara akan dibuka dengan Pendidikan “Kawruh Kabudayan Jawi” yang diikuti oleh Peserta Wisuda Sentonodalem/Abdidalem. Kemudian acara dilanjutkan dengan peresmian “SURYANINGRATAN” yang merupakan keraton kecil di lingkungan Padepokan Wulan Tumanggal.
Acara Wisuda Sentonodalem/Abdidalem di Padepokan Wulan Tumanggal selain SISKS. Pakoe Boewono XIII juga dihadiri oleh pejabat Tk. I dan Tk. II se-Ekskarisidenan Pekalongan.
Pemberian Kekancingan kali ini bukan tanpa alasan. Para Putera Tegal Perguruan TRIJAYA dibawah bimbingan beliau RG.KP.EK. Suryaningrat merupakan salah satu pelestari dan pelaku Budaya Spiritual. Maka sudah sepantasnyalah Putera Tegal Perguruan TRIJAYA menerima Kekancingan Ndalem Karaton Surakarta Hadiningrat.
Wisuda Sentonodalem/Abdidalem Karaton Surakarta Hadiningrat kali ini diikuti oleh Pengurus Pusat dan Pengurus Daerah Perguruan TRIJAYA . Diharapkan kedepan seluruh Putera Tegal Perguruan TRIJAYA dapat menerima Kekancingan Ndalem Karaton Surakarta Hadiningrat sebagai pelaku Budaya Spiritual.

Selasa, 10 September 2013

DIALOG BUDAYA JAWA TENGAH


Bertemakan "Membangun Jawa Tengah Yang Berkepribadian di Bidang Kebudayaan" Setda Provinsi Jawa Tengah  melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwista (Disbudpar) menggelar dialog budaya yang diikuti kurang lebih 150 orang perwakilan anggota legislatif, SKPD di lingkungan pemprov, kabupaten/kota, budayawan, dan akademisi, dimana Perguruan Trijaya diwakili oleh PAC. Ang. Sutrimo Puspoyudo, PAC. Ang. Hartowo, dan PAC. Budiono.


Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah
Dialog budaya yang dibuka Gubernur Jateng Bp. Ganjar Pranowo di Wisma Perdamaian, Jl Imam Bonjol, Semarang, Selasa 10/09/13 membahas keberagaman kekayaan warisan kebudayaan di Jateng. Selain itu juga menggali pendekatan budaya guna memecahkan persoalan masyarakat. Gubernur memaparkan secara singkat bagaimana berkepribadian di bidang kebudayaan untuk mengimplementasikan program kerja dan pembangunan birokrasi bersih dalam kepemimpinannya. “Sila Ke 4 Pancasila memberikan tuntunan musyawarah mufakat melalui rembugan menjadi salah satu kekuatan budaya yang harus terus dibangun sehingga lingkungan demokrasi bisa tumbuh, saling mengisi di alam demokrasi,” ujarnya. Budaya Jateng, katanya, juga akan terbentuk ketika wilayah yang potensial dalam hasil bumi dan hortikultura mampu berdaulat pangan dari hasil pertanian yang ada di wilayah ini. Melalui budaya rembugan juga budaya malu, Bp. Ganjar berharap semua permasalahan di Jateng bisa diselesaikan dengan terbuka sehingga slogan “Mboten Ngapusi Mboten Korupsi” benar-benar memengaruhi lingkungan yang saat ini dinilainya masih korup.
Prasetyo Ariwibowo











Kepala Disbudpar Jateng Dr. Prasetyo Aribowo, SH, M.Soc SC menyatakan, tujuan dialog untuk mengumpulkan masukan terkait pengembangan kebudayaan di Jawa Tengah. ''Kami mencoba menggali aspek nilai kebudayaan yang bisa memberikan manfaat dalam akselerasi pembangunan daerah. Hal ini selaras dengan pemikiran Trisakti Bung Karno, yakni berkepribadian di bidang kebudayaan,'' katanya di sela-sela dialog budaya. Menurut Prasetyo, banyak persoalan muncul di lapangan seperti halnya konflik aparat dan masyarakat di Kebumen, PLTU Batang, dan Keraton Solo.

Dialog dimoderatori pengamat budaya, Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc yang juga mantan Rektor Undip Semarang. Adapun, narasumber Prof. Dr. Sri Hastanto, S.Kar, Prof. Dr. Soetomo WE MEd, dan Prof. Dr. Fathurokhman. Sri Hastanto memaparkan kepribadian masyarakat keraton dalam konteks budaya Jawa. Soetomo berbicara kepribadian masyarakat pesisiran, sedangkan Fathurokhman memaparkan masyarakat Banyumasan. 

Dialog ini diitutup oleh Kepala Bidang Nilai Budaya Seni dan Film, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Budiyanto, SH, M.Hum, dengan membacakan beberapa rekomendasi penyelesian masalah-masalah yang diangkat dalam acara tersebut. Konflik di Batang ini bisa diselesaikan lewat pendekatan budaya pesisiran. konflik di Kebumen bisa diselesaikan dengan pendekatan budaya Banyumasan, begitu juga Keraton Solo, konflik internal juga bisa dicarikan solusi lewat pendekatan budayanya.