Rombongan Pelajar Penghayat berkunjung di Padepokan Wulan Tumanggal


Rabu Pahing, 17 November 2021, sebanyak 35 peserta Workshop Macapat yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah berkunjung di Padepokan Wulan Tumanggal.

35 peserta ini terdiri dari para pelajar Penghayat atau Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Penyuluh (Tenaga Pendidik) Kepercayaan se Provinsi Jawa Tengah wilayah Barat, meliputi Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Brebes, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen dan Cilacap.

Rombongan dipimpin oleh Sulistiono, S.Sn, selaku Kepala Seksi Sejarah dan Tradisi, Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, didampingi beberapa staf. 

Hadir juga mendampingi yaitu para penyaji/narasumber antaralain Dr. Widodo Brotosejati, S.Sn. dari Unnes Semarang, Waluyo, S.Kar. M.Sn., dan Sunyoto, S.Sn dari ISI Surakarta, serta Pengurus MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia) Jawa Tengah, Rahmad Purwantoro.

Rombongan diterima oleh Plt. Ketua Umum DPP Perguruan Trijaya KRAT. Tarmudi Baskoro Renggonagoro, S.Pd., didampingi Sekjen DPP KRAT. Siswondo Wijoyonagoro, S.Pd., Pengurus Pusat KRAT. Rubiyo Cokronagoro, Kabid PPM (Putera Penghayat Murni) KRAT. Sutrimo Puspoyudo Setyonagoro S.Pd, MM.


Setelah itu rombongan kemudian diajak keliling mengunjungi beberapa sasana/tempat yang ada di Padepokan Wulan Tumanggal. 

Orientasi ini meliputi Sasana Wulan Tumanggal, Caraka, Palereman Daerah, Pribadi, Samora, Balaikambang, Nunggalati, dan Sinangling, lengkap beserta penjelasanya.

Kemudian oleh KRAT Pupoyudho, rombongan diajak naik ke Astanalaya Kasidanjati (area pemakaman khusus Penghayat Murni), lanjut ke Sanggar Pamujan, namun hanya sampai di Paseban Alit. 

Peserta tidak diijinkan ke Curug karena memakai kaos tanpa kerah, tetapi masih bisa melihat Sanggar Pamujan dari bawah. Sedangkan para penyaji/narasumber dan sebagian panitia diperbolehkan ke Curug karena memakai baju berkerah dan batik.

"Kami lanjut terus turun, karena keburu mau hujan tidak sempat ke Ruang Gatutkoco, tetapi saya terangkan di bawah Tugu Juara", terang KRAT Puspoyudo.


Usai berkeliling, rombongan kemudian berkumpul di aula bernama Pamiwahan Putera. Disini mereka mendapat penjelasan singkat tentang Padepokan Wulan Tumanggal oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru Panji Suryaningrat II.

Romo Guru menjelaskan tentang 7 (tujuh) point penting Jiwa Nusantara, yaitu Bersujud Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berbudi Pekerti Luhur, Menghargai orang lain, Rela Berkorban, Gotong Royong, Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan Bersatu.


Selain itu Romo Guru juga menekankan tentang 3 (tiga) pokok yang mendasar yang harus dijalankan seorang penghayat yaitu berbakti kepada Tuhan, Orang Tua, Guru dan, serta mematuhi hukum Tuhan, hukum negara dan hukum adat.

Menurut Muslam, salah satu Penyuluh Kepercayaan yang mendampingi 10 peserta didik dari Kabupaten Cilacap, menyampaikan terimakasih atas penerimaan kunjungan siswa siswi penghayat di Padepokan Wulan Tumanggal.

"Kami sampaikan terimakasih karena diterima sangat luar biasa di Padepokan Wulan Tumanggal, dan dari penjelasan Romo Panji sangat memberikan inspirasi bagi para penghayat kepercayaan yang masih pemula maupun untuk jenjang selanjutnya", jelas Muslam yang juga sebagai Tokoh Penghayat di Kabupaten Cilacap. (BP)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Macapat tak sekedar sebagai Pitutur Luhur, wujudkan dalam Perilaku Luhur

Fasilitasi Forum Organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Puputan AAN lengkapi acara Tingalan Sewindu Jumenengan Romo Guru